Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Allah, agama Islam memerintahkan para pemeluknya untuk mengikuti dalil, dan tidak memperkenankan seorang untuk bertaklid kecuali dalam keadaan darurat atau mendesak, yaitu tatkala seorang tidak mampu mengetahui dan mengenal dalil dengan pasti. Hal ini berlaku dalam seluruh permasalahan agama, baik yang terkait dengan akidah maupun hukum atau fikih.

Oleh karena itu, seorang yang mampu berijtihad dalam permasalahan fikih misalnya, tidak diperkenankan untuk bertaklid. Demikian pula seorang yang mampu untuk meneliti berbagai nash-nash syari’at yang terkait dengan permasalahan akidah, tidak diperbolehkan untuk bertaklid.

Agama kita tidak memperkenankan seorang untuk bertaklid pada suatu pendapat tanpa memperhatikan dalilnya. Hal ini dikarenakan beberapa alasan, diantaranya :

Yang pertama, Allah Ta’alaa memerintahkan para hamba-Nya untuk memikirkan atau bertafakkur dan merenungi atau mentadabburi ayat-ayat-Nya.

Allah Ta’alaa berfirman,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ * الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya,“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, seraya berkata:, “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran : 190-191)

Kemudian alasan yang kedua, Allah Ta’alaa mencela taklid dan kaum musyrikin jahiliyah yang mengekor perbuatan nenek moyang mereka, tanpa didasari ilmu. Dalam Quran surat  Az Zukhruf ayat 22, Alloh Ta’alaa berfirman,

بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

Artinya,“Mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka”. (QS. Az-Zukhruf : 22)

Allah Ta’alaa juga berfirman,

Artinya, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah, dan mereka juga mempertuhankan Al masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain  Allah. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. At-Taubah : 31)

Ayat ini turun terkait dengan orang-orang Yahudi yang mempertuhankan para ulama dan rahib mereka dalam hal ketaatan dan ketundukan. Hal ini dikarenakan mereka mematuhi ajaran-ajaran ulama dan rahib tersebut dengan membabi buta, walaupun para ulama dan rahib tersebut memerintahkan kemaksiatan dengan mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram,

Yang ketiga, bahwa Taklid hanya menghasilkan dzhan atau prasangka semata, dan Allah telah melarang untuk mengikuti prasangka. Allah Ta’alaa berfirman,

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Artinya, “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah”. (QS. Al-An’am : 116)

Namun, yang perlu diperhatikan bahwa dzhan yang tercela dalam agama ini adalah praduga yang tidak dilandasi ilmu. Adapun dzhan yang berlandaskan pengetahuan, maka ini tergolong sebagai ilmu yang membuahkan keyakinan,

Sebagaimana firman Alloh Ta’alaa,

Artinya, “yaitu orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Rabb-nya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (QS. Al-Baqarah : 46)

Itulah beberapa ayat Al-Qur’an, yang menerangkan bahwa taklid buta tidak semestinya dilakukan oleh seorang muslim, dan kewajiban yang mesti dilakukan oleh seorang muslim adalah mengikuti dalil.

Para imam juga menegaskan kepada para pengikutnya untuk mengikuti dalil, dan tidak bertaklid,

Imam Abu Hanifah rahimahullah beliau berkata, “Tidak boleh bagi seorangpun berpendapat dengan pendapat kami, hingga dia mengetahui dalil bagi pendapat tersebut”.

Adapun Imam Malik bin Anas rahimahullah beliau berkata, “Aku hanyalah seorang manusia, terkadang benar dan salah. Maka, telitilah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi, maka ambillah. Dan jika tidak sesuai dengan keduanya, maka tinggalkanlah”.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pun berkata, “Apabila kalian menemukan pendapat di dalam kitabku yang berseberangan dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka ambillah sunnah tersebut dan tinggalkan pendapatku”.

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pun mengatakan, “Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula bertaklid kepada Malik, ats-Tsauri, al-Auza’i, tapi ikutilah dalil”.

Sesungguhnya Allah hanya mencela taklid kepada orang-orang kafir, dan nenek moyang mereka yang tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak berada di atas petunjuk.

Allah tidak mencela taqlid orang yang taklid kepada ulama yang memperoleh petunjuk. Bahkan, Allah memerintahkan untuk bertanya kepada ahludzikr, yaitu ulama.

Allah Ta’alaa berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (QS. An-Nahl : 43)

Allah Ta’alaa mencela orang-orang yang berpaling dari apa yang diturunkan oleh Allah kemudian bertaklid kepada perbuatan nenek moyang. Taklid semacam inilah yang dicela dan diharamkan menurut kesepakatan para ulama salaf dan imam yang empat yaitu Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad .

Adapun taklid yang dilakukan oleh orang yang sudah mengerahkan segenap upaya untuk mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah, namun sebagian permasalahan luput dari pengetahuannya, kemudian dia pun bertaklid kepada seseorang yang lebih alim dari dirinya, maka taklid semacam ini terpuji, tidak dicela, dan tidak berdosa.

Sesungguhnya yang dicela adalah orang yang bertaklid kepada seorang yang menyesatkan dari jalan yang lurus, sedangkan  bertaklid kepada seorang yang menunjukkan jalan yang lurus,tidaklah tercela.

Seorang hamba tidak akan memperoleh petunjuk, sampai dia mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah kepada rasul-Nya. Orang yang bertaklid ini, apabila dia mengetahui dalil dari pendapat orang yang diikutinya, maka dia telah memperoleh petunjuk, dan hakekatnya dia bukanlah seorang muqallid atau orang yang bertaqlid. Jika dia tidak mengetahui dalil pendapat orang yang diikutinya, maka dia adalah seorang yang jahil atau bodoh, dan tersesat dengan tindakannya yang menerapkan taklid bagi dirinya.

Jadi, kita hanya diperintahkan untuk bertaklid kepada orang yang berada di atas petunjuk, sehingga taklid kita pun berada di atas petunjuk.

Dari pemaparan tersebut, jika kita mengikuti pendapat seorang imam, semestinya kita harus mengetahui dalil yang dijadikan sandaran oleh imam tersebut. Sehingga, meski tindakan kita tersebut termasuk ke dalam taklid, namun taklid yang kita lakukan adalah taklid yang terpuji. Taklid jenis ini, seperti yang dikatakan oleh para ulama, tetap tergolong sebagai ittiba’ yaitu mengikuti dalil.

Oleh karena itu, meskipun kita mengikuti pendapat seorang imam, kyai, ustadz, ataupun da’i, betapa pun tingginya kedudukan orang tersebut, kita tetap berkewajiban untuk mengetahui dalil dari Al-Qur’an dan sunnah yang menjadi landasan orang yang kita ikuti tersebut. Inilah kewajiban yang mesti dilaksanakannya.

Terkait hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Para ulama bersepakat, apabila seorang mengetahui kebenaran, dia tidak boleh bertaklid kepada pendapat seorang yang berseberangan dengan kebenaran yang telah diketahuinya. Para ulama hanya berbeda pendapat mengenai legitimasi taklid yang dilakukan oleh seorang yang mampu untuk berisitidlal atau mencari dan membahas dalil.

Namun, apabila seorang mengikuti pendapat suatu individu ustadz, kyai, dan yang semisalnya tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain yang semisal dengan individu tadi, semata-mata karena hawa nafsu, dan hanya karena ingin membelanya dengan lisan serta tangannya, tanpa mempertimbangkan bahwa individu tersebut berada dalam kebenaran atau tidak, maka orang ini tergolong ke dalam kalangan jahiliyah. Meskipun pendapat individu yang diikutinya tersebut benar, amalan yang dikerjakannya tetap tidak terhitung sebagai amalan yang shalih.dan apabila ternyata yang diikutinya keliru, maka orang yang bertaklid tadi berdosa.”

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, demikianlah pembahasan yang bisa kita bahas pada kesempatan kali ini, semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus, menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadits dalam menjalankan seluruh aktivitas kita, serta menunjukan hidayah-Nya kepada kita semua. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: