Oleh: Ust. Umar Muhsin, Lc,. M.Pd.I.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan masing-masing waktu dengan keutamaan dan kemuliaan yang berdeda-beda. Di antaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk berdoa, akan tetapi kebanyakan orang menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Mereka mengira bahwa seluruh waktu memiliki nilai yang sama dan tidak berbeda.

Sudah seharusnya bagi setiap kita memanfaatkan waktu-waktu yang utama dan mulia untuk berdoa agar mendapatkan kesuksesan, keberuntungan, kemenangan, dan keselamatan. Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara lain, yaitu:

Pertama, Sepertiga Akhir Malam.

Hal ini berdasarkan hadist dari jalur Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Robb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan barangsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya.” (HR. Bukhori)

Yang kedua adalah Tatkala Berbuka Puasa Bagi Orang Yang Berpuasa.

Hal ini berdasarkan hadis dari sahabat Abdulloh bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ

“Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pada saat berbuka, ada doa yang tidak ditolak.” (HR. Ibnu Majah)

Berkaitan dengan Hadis ini, Imam Ibnu Malikah rahimahumullah berkata, “Saya mendengar Abdulloh bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu berdoa ketika berbuka,

اللَّهُمَّ إني أسألُك بِرَحْمَتِكَ الّتِي وَسِعَتْ كلَّ شيءٍ أَنْ تَغْفِرَ ليِ

“Ya Allah aku memohon kepada-Mu dengan Rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, supaya Engkau mengampuniku.”

Waktu mustajab yang ketiga adalah Setiap Selepas Shalat Fardhu.

Hal ini berdasarkan hadis dari sahabat Abu Umamah Radhiallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau shalallahu alaihi wasallam menjawab

“Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai shalat fardhu.” (HR. Tirmidzi)

Waktu mustajab yang keempat adalah Pada Saat Perang Berkecamuk.

Hal ini berdasarkan hadis dari sahabat yang mulia Sahl bin Sa’ad radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

ثِنْتَانِ لاَ تُرَدَّانِ أَوْ قَلَّمَا تُرَدَّانِ: الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَعِنْدَ الْبَأْسِ حِينَ يُلْحِمُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا

“Ada dua doa yang tidak tertolak atau jarang tertolak; doa pada saat adzan dan doa tatkala perang berkecamuk.” (HR. Abu Daud)

Waktu mustajab yang kelima adalah Sesaat Pada Hari Jum’at.

Hal ini berdasarkan hadis dari jalur Abu Huroiroh Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda.

فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ وَقَالَ بِيَدِهِ قُلْنَا يُقَلِّلُهَا يُزَهِّدُهَا

“Pada hari Jum’at ada satu saat yang tidak bertepatan seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya. Kami berkata, “Beliau shalallahu alaihi wasallam mengisyaratkan sedikitnya waktu tersebut.” (HR. Bukhori)

Berkaitan dengan hal ini, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqolani rahimahullah dalam kitab Fathul Bari mengatakan, bahwa waktu yang sesaat itu, tidak bisa diketahui secara persis. dan riwayat-riwayat yang menyebutkan waktu tersebut redaksinya berbeda-beda. Kemungkinan besar waktu tersebut berada pada saat imam atau khatib naik mimbar hingga selesai shalat Jum’at, atau hingga selesai waktu shalat Ashar bagi orang yang menunggu shalat Maghrib.

Waktu yang keenam adalah Pada Waktu Bangun Tidur, Pada Malam Hari Bagi Orang Yang Sebelum Tidur Dalam Keadaan Suci dan Berdzikir Kepada Allah.

Hal ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahumullah, dari ‘Amr bin ‘Anbasah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda.

مَا مِنْ عَبْدٍ بَاتَ عَلىَ طُهُوْرٍ. ثُمَّ تَعَارَ مِنَ اللَّيْلِ. فَسَأَلَ اللهَ شَيْئاً مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا أَوْ مِنْ أَمْرِ الآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ

“Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya.” Yang dimaksud dengan “ta’ara minal lail” terbangun dari tidur pada malam hari. (HR. Ibnu Majah)

Oleh karena itu, kita harus berusaha semaksimal mungkin, agar kita selalu bersuci sebelum tidur. Sehingga ketika kita bangun di malam harinya, maka doa yang kita panjatkan sangat berpeluang besar untuk dikabulkan.

Demikianlah pembahasan tentang waktu-waktu mustajab. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala membimbing kita semua untuk senantiasa hanya berdoa kepada-Nya dan berdoa pada waktu-waktu yang mustajab.  Amin. Wallahu A’lam.