Siroh Nabawiyah – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada edisi sebelumnya kita telah sampai pada kisah bertemunya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam dengan Waroqoh bin Naufal, sepupu Khodijah Rodhiyallohu ‘anha pasca turunnya wahyu pertama. Namun setelah Waroqoh bertekad untuk membela dan mendukung Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam, karena wahyu yang turun kepada beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam memang wahyu yang benar dari Alloh Ta’ala, kemudian tak berapa lama dari itu Waroqoh meninggal dunia dan wahyu pun sempat terputus atau mengalami masa stagnan.

Mengenai hal ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Ibnu Abbas Rodhiyallohu ‘anhu yang intinya menyatakan bahwa masa stagnan itu berlangsung selama beberapa hari ; pendapat inilah yang rajih/kuat, setelah melalui penelitian dari segala aspeknya secara terfokus harus menjadi acuan. Adapun riwayat yang berkembang bahwa hal itu berlangsung selama tiga tahun atau dua tahun setengah tidaklah shahih sama sekali.

Kemudian Pada masa stagnan tersebut, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam dirundung kesedihan yang mendalam dan diselimuti oleh rasa kebingungan dan panik. Dalam kitab “at-Ta’bir” , Imam Bukhari Rohimahulloh meriwayatkan kisah, beliau mengatakan : ” menurut berita yang sampai kepada kami, wahyupun mengalami stagnan hingga membuat Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam sedih dan berkali-kali berlarian agar dia dapat terjatuh di jurang-jurang gunung, namun setiap beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam mencapai puncak gunung untuk mencampakkan dirinya, malaikat Jibril menampakkan wujudnya sambil berkata: “wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau benar-benar utusan Alloh!“.

Dan ucapan Malaikat Jibril tersebut, dapat menenangkan dan memantapkan kembali jiwa Beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam. Lalu pulanglah beliau ke rumah, namun manakala masa stagnan itu masih terus berlanjut beliaupun mengulangi tindakan sebagaimana sebelumnya, dan ketika dia mencapai puncak gunung, malaikat Jibril kembali menampakkan wujudnya dan berkata kepadanya seperti apa yang dikataka sebelumnya, yakni (memberikan motivasi kepada beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam)”.

Kemudian mengenai hal ini, Ibnu Hajar Rohimahulloh juga berkata: “Masa stagnan itu sungguh telah menghilangkan ketakutan yang telah dialami oleh beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam dan membuatnya bersemangat untuk kembali mengalaminya. Dan ketika hal ini benar terjadi dan beliau mulai menanti-nanti datangnya wahyu, maka datanglah malaikat Jibril ‘alaihissalam untuk kedua kalinya. Imam Bukhori Rohimahulloh meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah Rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya dia mendengar Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam menceritakan tentang masa stagnan itu, beliau bercerita: “Ketika aku tengah berjalan-jalan, tiba-tiba aku mendengar suara yang berasal dari langit, lalu aku mendongakkan pandangan ke arah langit, ternyata malaikat yang dulu mendatangiku ketika di gua Hira’ duduk diatas kursi antara langit dan bumi. Melihat hal itu aku terkejut hingga aku tersungkur ke bumi. Kemudian aku mendatangi keluargaku sembari berkata: ‘selimutilah aku! Selimutilah aku!’. Lantas mereka menyelimutiku, baru kemudian Alloh menurunkah surat al-Muddatstsir, yaitu dari firman Alloh Azza wa Jalla :

Yang artinya “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan!, dan Tuhanmu agungkanlah!, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (Q.S. al-Muddatstsir : 1-5).

Setelah itu wahyu tetap terjaga dan datang secara teratur”.

Kemudian Dalam hadits yang shahih lainnya disebutkan bahwa beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda : ” Aku tinggal di dekat gua Hira’ selama sebulan, tatkala aku sudah selesai melakukan itu, maka aku turun gunung. Dan ketika aku sampai ke sebuah lembah, aku dipanggil oleh seseorang…”. Kemudian (teks hadits selanjutnya-red) beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam menyebutkan (cerita) sebagaimana yang telah disebutkan tadi. Intinya, ayat tersebut turun setelah sempurnanya beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam menyertai bulan Romadhon. Dan dengan begitu, artinya masa stagnan antara dua wahyu tersebut berlangsung selama sepuluh hari, sebab beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam tidak sempat lagi menyertai Romadhon berikutnya setelah turunnya wahyu pertama.

Ayat-ayat tersebut merupakan permulaan dari masa kerasulan (risalah) beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam. Maksudnya, surat al-Mudatsir ayat 1-5 tadi datang setelah masa kenabian (nubuwwah) yang berjarak selama masa stagnan setelah turunnya wahyu pertama. Jadi intinya wahyu pertama adalah wahyu pengangkatan beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam sebagai seorang Nabi. Kemudian wahyu kedua adalah pengangkatan beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam sebagai seorang Rosul, setelah beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam menjadi seorang Nabi.

Kemudian perlu diingat pula bahwa wahyu kedua yang turun tersebut mengandung dua jenis taklif (pembebanan syara’) beserta penjelasan konsekuensinya. Jenis pertama adalah membebani beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam dengan penyampaian (al-Balagh) dan peringatan ( at- Tahzir) saja. Hal ini sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

bangunlah! Lalu berilah peringatan” (Surat al-Muddatstsir : 2).

Dan makna ayat ini adalah agar beliau memperingatkan manusia akan azab Alloh Ta’ala atas mereka jika mereka tidak bertaubat dari dosa, kesesatan, beribadah kepada selain Alloh Yang Maha Tinggi serta berbuat syirik kepada-Nya dalam zat, sifat-sifat, hak-hak dan perbuatan-perbuatan Alloh Ta’ala.

Selanjutnya, Jenis kedua adalah membebani beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam dengan penerapan perintah-perintah Alloh Ta’ala terhadap zat-Nya dan komitmen terhadap-Nya dalam jiwa beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam agar mendapatkan keridhaan Alloh dan menjadi suri teladan yang baik bagi orang yang beriman kepada Alloh. Hal ini tercermin pada ayat-ayat berikutnya. Firman-Nya Ta’ala:

dan Rabb-mu agungkanlah!”(al-Muddatstsir: 3)

Maksud ayat ini adalah khususkanlah Alloh Ta’ala dengan pengagungan dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. kemudian firman-Nya yang berbunyi:

dan pakaianmu bersihkanlah!” (al- Muddatstsir:4);

Makna lahiriyahnya adalah menyucikan/membersihkan pakaian dan jasad sebab tidaklah layak bagi orang yang mengagungkan Alloh Ta’ala dan menghadap-Nya dalam kondisi dilumuri oleh najis dan kotor. Jika saja kesucian/kebersihan ini dituntut untuk dilakukan maka kesucian/kebersihan diri dari virus-virus syirik, pekerjaan dan akhlak yang hina tentunya lebih utama untuk dituntut.

selanjutnya firman Alloh Ta’ala:

dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah!” (al-Muddatstsir:5)

Maksudnya adalah jauhkanlah dari sebab-sebab turunnya kemurkaan Alloh dan azab-Nya, dan hal ini direalisasikan melalui komitmen untuk ta’at kepada-Nya dan meninggalkan maksiat kepada-Nya.

Permulaan ayat-ayat tersebut (surat al-Muddatstsir) berbicara tentang panggilan langit nan agung yang menganjurkan agar Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam segera melakukan urusan yang mulia ini dan memerintahkannya agar mengenyahkan tidur, selimut dan berhangat-hangat guna menyongsong panggilan jihad, berjuang dan menempuh jalan penuh ranjau. Hal ini tergambar dalam firmanNya:

Hai orang yang berselimut! bangunlah! Lalu berilah peringatan” (Surat al-Muddatstsir: 1-2) . Seakan-akan dikatakan (kepada beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam) : sesungguhnya orang yang hanya hidup untuk kepentingan dirinya saja, bisa saja hidup tenang dan nyaman sedangkan engkau (wahai Rosululloh) yang memikul beban yang besar ini ; apa gunanya tidur bagimu? Apa gunanya istirahat/refreshing bagimu? Apa gunanya selimut yang hangat bagimu? Apa gunanya hidup yang tenang bagimu? Apa gunanya kesenangan dunia yang membuaikan bagimu?, maka dari itu, Bangunlah untuk melakukan urusan yang amat sangat penting yang telah menunggumu dan beban berat yang disediakan untukmu!

Bangunlah untuk berjuang, bergiat-giat, bekerja keras dan berletih-letih! Bangunlah! Karena waktu tidur dan istirahat sudah berlalu, dan tidak akan kembali lagi.  Sejak hari ini, yang ada hanyalah mata yang penuh perhatian secara kontinyu, jihad yang panjang dan melelahkan. Bangunlah! Persiapkan diri menyambut urusan ini dan bersiagalah!.

Sungguh ini merupakan ucapan agung dan kharismatik yang (seakan) melucuti beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam dari kehangatan selimut dan nikmatnya ranjang yang empuk di suatu rumah yang nyaman, untuk kemudian melemparkannya keluar menuju samudera luas yang diselimuti oleh deru ombak dan hujan yang mengguyur, dimana terdapat gelombang dahsyat yang membuat posisinya di hati manusia dan realitas hidup sama saja.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam telah bangun dan tetap bangun setelah perintah itu selama lebih dari dua puluh tahun, tidak pernah beristirahat dan tidak pula hanya hidup untuk kepentingan dirinya dan keluarganya. Bangun dan tetap bangun diatas pondasi dakwah kepada Alloh Ta’ala, mengembankan di pundaknya beban yang amat berat namun beliau tidak menganggapnya berat. Beban amanah besar di muka bumi ini, beban manusia secara keseluruhan, beban ‘aqidah secara keseluruhan, beban perjuangan dan jihad di medan-medan yang berbeda. Beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam hidup menghadapi pertempuran yang kontinyu melawan kebathilan selama lebih dari dua puluh tahun.

Selama tenggang waktu itu, tidak satupun hal yang dapat membuatnya lengah, yaitu sejak beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam mendengar panggilan langit nan agung yang menyerahkan beban yang begitu dahsyat untuk diembannya, semoga sholawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassalam.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah peristiwa turunnya wahyu kedua, dan pengaruhnya kepada Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassalam. Pada edisi berikutnya, InsyaaAlloh kita akan membahas tentang awal mula perjuangan beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam dalam mendakwahkan islam, bagaimanakah itu?. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: