Sudah kita maklumi bersama bahwa sebagian besar orang sangat perhatian sekali terhadap hartanya, menjaga dan memanfaatkannya, karena mengetahui bahwa harta itu akan datang dan pergi. Namun sayang, banyak orang, khususnya para pemuda masa kini yang tidak terlalu perhatian dengan masalah waktu. Mereka tidak peduli apakah waktu yang dihabiskan bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya ataukah tidak.

Padahal, jika kita bandingkan antara harta dan waktu, tentunya akan kita dapati waktu jauh lebih berharga. Sebagai contoh, jika kita kehilangan uang beberapa rupiah, maka di lain kesempatan kita akan mampu menggantinya. Namun lain halnya dengan waktu. Sedetik saja, kita menyia-nyiakannya, maka sampai kapanpun kita tidak akan sanggup menggantinya atau mengembalikannya. Makanya tak salah jika ada pepatah, yang dekat itu hari esok dan yang jauh itu hari yang telah berlalu.

Nah, berbeda halnya dengan kita sekarang, orang-orang saleh terdahulu selalu sangat memperhatikan waktunya; karena mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui betapa berharganya waktu. Mereka menjaga waktu sebaik mungkin agar tidak melewati satu hari atau satu saat walaupun sangat pendek, kecuali diisi dengan hal yang bermanfaat, baik untuk dunia maupun untuk akhiratnya.

Seorang ulama tabi’in bernama Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata:

“Saya telah mendapati beberapa orang yang sangat menjaga waktunya melebihi penjagaan kalian terhadap uang dirham dan dinar yang kalian miliki.”

Subhanallah, ya, jika hari ini mungkin perkataan al-hasan al-Bashri hanya sekadar kata saja, maka dahulu ini memang benar-benar ada dan terjadi. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita untuk meneladani mereka. Amin.

Di antara nikmat sekaligus musuh yang harus diwaspadai oleh manusia khususnya pemuda adalah waktu luang. Ya, waktu luang adalah kenikmatan yang dilalaikan oleh kebanyakan orang, sehingga mereka tidak menunaikan rasa syukurnya dan tidak pula menghargai nikmat tersebut dengan benar.

Masalah waktu luang ini, sebenarnya sudah diwanti-wanti oleh Nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Dalam sebuah hadits shohih Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang(HR. Bukhari)

Nah, para ulama menjelaskan bahwa kosongnya waktu dari pekerjaan merupakan kenikmatan yang sangat besar. Namun jika sang hamba mengkufuri nikmat ini dengan membuka dirinya kepada pintu hawa nafsu dan terjerumus dalam syahwat, maka Allah akan balikkan kenikmatan hatinya, serta mengambil apa yang dia dapati dari kebersihan hati.

Oleh karena itu, sebagai pemuda yang cerdas, harusnya kita menyibukkan waktu luang yang ada dengan kebaikan. Karena jika tidak, bisa jadi nikmat luangnya akan berbalik menjadi malapetaka terhadap diri kita masing-masing. Na’udzubillah.

Tapi, bagaimana caranya, supaya waktu kita ini termanfaatkan dengan baik, terlebih di waktu-waktu luangnya? Nah, supaya waktu kita tidak terbuang percuma atau bisa tertata dengan baik, ada beberapa tips yang dapat kita lakukan. Apa saja itu?

Tips yang pertama adalah melakukan muhasabah atau introspeksi diri.

Muhasabah ini termasuk perantara terpenting yang dapat membantu seorang Muslim memanfaatkan waktunya dalam keta’atan kepada Allah. Oleh karena itu, hisablah diri kita sendiri, setiap harinya, khususnya sesaat sebelum tidur.

Coba tanyakan kepada diri kita masing-masing, apa yang telah kita lakukan pada hari ini? Kemudian, tekadkan dalam diri kita, bahwa esok hari, kita harus lebih baik lagi dalam menggunakan waktu untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Kemudian tips yang kedua adalah, berteman dengan orang-orang yang pandai menjaga waktunya, dan menjauh dari orang-orang yang suka melalaikan waktu.

Tips yang kedua ini sangat penting sahabat, karena berteman dan bergaul bersama mereka, akan membantu kita dalam memanfaatkan waktu, juga menguatkan diri dalam memanfaatkan usia untuk keta’atan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Selanjutnya, tips yang ketiga, membaca dan meneladani keadaan para ulama salafush sholeh dalam memanfaatkan waktu.

Kenapa harus ulama salafush sholeh? Karena mereka adalah orang-orang terbaik yang memahami betapa berharganya waktu. mereka adalah contoh terbaik dalam memanfaatkan setiap menitnya dari umur dan memanfaatkan setiap nafasnya dalam keta’atan kepada Allah ta’ala.

Tips yang keempat, mengisi waktu dengan kegiatan yang beragam alias tidak monoton.

Jadi, sebisa mungkin, kita isi waktu-waktu kita dengan kegiatan yang berbeda atau paling tidak ada kebaikan baru yang mungkin di hari-hari sebelumnya tidak kita lakukan. Kenapa harus beragam? karena tabiat jiwa kita itu cepat bosan dan selalu menghindar dari segala sesuatu yang diulang-ulang.

Kemudian, tips yang kelima adalah, kita harus memahami bahwa waktu yang telah berlalu tidak akan kembali dan tidak pula bisa diganti.

Tentunya masalah ini, kita sudah paham semuanya insya Allah. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang sanggup memutar kembali waktu yang telah pergi. Kecuali, ya para penghayal di negeri entah berantah mungkin. Jadi, gunakan kesempatan waktu yang ada untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Jika ternyata tips-tips sebelumnya kurang ampuh, maka tips berikutnya adalah mengingat kematian dan saat-saat mencekam menjelang kematiaan.

Ketika manusia meninggalkan dunia dan mulai menapaki jalan menuju akhirat, ia sangat berharap seandainya saja diberi sedikit kesempatan walau sedetik untuk memperbaiki amalnya dan meraih apa yang telah terlewat. Namun, harapan itu hanya angan belaka. Karena memang sudah tidak mungkin lagi baginya kembali ke dunia. Oleh kena itu, kita harus terus mengingat hal ini, supaya kita termotivasi untuk mengisi waktu kita dengan beragam kebaikan.

Dan tips yang terakhir, hampir mirip dengan sebelumnya, yaitu mengingat adanya pertanyaan pada hari kiamat tentang waktu yang telah kita gunakan.

Kita harus membayangkan bagaimana kondisi kita saat seseorang berdiri di hadapan Allah azza wa jalla pada hari yang menakutkan tersebut.

Kita akan ditanya tentang waktu dan umur, bagaimana kita habiskan? Untuk apa kita pergunakan? Pada hal apa saja kita manfaatkan waktu tersebut?

Mudah-mudahan dengan selalu mengingat hal ini, kita selalu termotivasi untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Karena sekali lagi, waktu yang telah berlalu, tak akan pernah datang kembali menyapa kita. Jadi, manfaatkan waktu muda kita untuk meraup kebaikan sebanyak mungkin, dan meraih pahala serta ridho Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu a’lam.