Tim pencari fakta memaparkan hasil investigasi kasus penembakan oleh kepolisian India saat mengawal aksi demonstrasi penolakan Undang-Undang Kewarganegaraan, yang dinilai anti-Muslim. Investigasi internal itu mendapati bahwa penembakan dengan sengaja membidik warga muslim India.

Seperti diwartakan New Indian Express Ahad kemarin, tim pencari fakta mendapati bahwa aksi penembakan oleh kepolisian saat mengawal demonstrasi pada 19 Desember 2019 lalu itu telah direncanakan. Tim mengatakan, bahwa aparat bahkan dengan sengaja juga membidik pertokoan milik warga muslim dan menyerang masjid.

Tim pencari fakta terdiri dari perwakilan Serikat Rakyat untuk Kebebasan Sipil, Persatuan Forum Rakyat India dan Konfederasi Nasional Organisasi Hak Asasi Manusia. Mereka mengatakan, tindakan kepolisian yang menyasar muslim itu sudah direncanakan satu hari sebelum peristiwa penembakan di Mangaluru.

Tim menganalisa 60 hingga 70 video yang beredar luas. Mereka mendapati bahwa klaim kepolisian yang menyebut jumlah massa aksi mencapai 6 hingga 7 ribu adalah salah. Tim mengatakan, massa aksi tidak lebih dari 200 hingga 300 orang. Hasil penyelidikan juga menemukan bahwa demonstrasi diawali oleh pembubaran paksa sekitar 150 anak muda yang melakukan aksi damai oleh kepolisian setempat. Kepolisian menggunakan tindakan kekerasan untuk membubarkan aksi tersebut. (Republika/Adin)