Pemuda Hijrah – Sahabat hijrah yang semoga dirahmati Allah, kreatif itu adalah salah satu sifat positif yang harus dimiliki oleh setiap pemuda muslim. Kenapa? Karena dengan kreatifitas, seorang pemuda bisa menatap masa depannya dengan jangkauan yang luas, memiliki visi dan misi yang jelas, dan tentunya nggak luntang-lantung nggak jelas. Pemuda yang memiliki kreatifitas adalah pemuda yang kuat menghadapi tantangan zaman dan bisa bertahan dalam memegang iman.

Tapi sahabat, tidak semua bentuk kreatifitas itu baik, ada juga kreatifitas yang sangat buruk, bukan lagi buruk, tapi haram hukumnya, yakni kreatifitas dalam beragama, atau membuat hal-hal baru dalam syariat agama tanpa ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, sepertinya tidak layak jika kita sebut hal ini sebagai kreatifitas.

Sahabat, perkara agama itu adalah perkara taufiqiyah yang sudah jelas aturannya, tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurang. Bahkan perkara-perkara yang sudah taufiqiyah ini adalah perkara yang sudah final, tidak boleh kita otak-atik sekemauan kita.

Oleh karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam di dalam haditsnya mewanti-wanti kita,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Artinya, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini atau urusan agama, yang tidak ada asalnya dari kami, maka perkara tersebut tertolak”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebayangkan bagaimana rasanya jika kita bekerja tanpa hasil, contohnya aja sahabat kerja di pabrik atau perusahaan selama sebulan penuh, dan ditanggal gajian nggak menerima apa-apa, selain rasa lelah selama bekerja.

Begitu juga masalah ibadah atau amal, bahkan ibadah atau amal yang kita lakukan lebih besar nilainya dari sekedar kerja seharian di perusahaan bonafid.  Bagaimana jadinya jika amal kita nggak diterima di sisi Allah, justru malahan kita mendapat dosa setelah cape-cape beribadah?. Kebayang nggak gimana ruginya kita, gimana menyesalnya kita.

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. (HR. Muslim)

Kemudian juga disebutkan di dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Artinya, “Amma ba’du, Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam. Sejelek-jelek perkara adalah perkara agama yang diada-adakan, setiap perkara agama yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HR. Muslim)

Tapi sahabat, yang dimaksud hal-hal yang baru di sini adalah segala hal yang baru di dalam syariat agama, artinya hal-hal yang dibikin dan dikreasikan tanpa adanya dalil yang jelas tentang perintah amalan tersebut.

Adapun untuk masalah di luar syariat atau agama, maka hal yang baru bukan termasuk yang dilarang, apalagi jika memang membawa manfaat untuk kehidupan. Sebagai contoh berkembangnya teknologi seperti smartphone, tentunya justru hal ini bisa kita gunakan sebagai sarana berdakwah via media sosial, dan manfaatnya besar sekali.

Selain itu orang yang biasa mengkreasikan amalan tanpa pernah adanya tuntunan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka orang yang bersangkutan terancam tidak mendapatkan pengakuan sebagai ummat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Lho kok bisa begitu?. Karena mereka telah menyimpang dari jalan yang telah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam contohkan. Nah, sementara bukti cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam secara totalitas.

Kita harus berupaya menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dan berusaha menghindari hal-hal baru yang tidak ada dasarnya di dalam syariat. Karena jika sesuatu yang baru itu kita lakukan, sementara di sisi lain kita belum bisa melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam yang begitu banyak jumlahnya, maka kita telah bermaksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam tercinta. Kita telah mematikan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam.

Padahal di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam menyuruh untuk menghidupkan dan memelihara sunnah-sunnahnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا ، وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا يَرْضَاهَا اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا

Artinya, “Barangsiapa yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun”. (HR. At-Tirmidzi)

Jadi sahabat, kalo kita ingin dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka kita harus mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dalam segala hal, kita jangan sampai berseberangan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dalam kehidupan kita, baik dalam beribadah, berakhlak atau bertingkah laku, bermuamalah dengan sesama manusia dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan hal ini, ada sebuah riwayat bahwa suatu hari ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dan bertanya tentang ibadah Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam. Setelah diberitakan kepada mereka tentang ibadah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, sepertinya mereka merasa ibadah mereka masih sedikit dibanding ibadah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Mereka berkata, “Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?.”

Kemudian Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya tanpa pernah tidur”. Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku, sungguh aku akan berpuasa setahun penuh tanpa pernah berhenti”. Dan yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya”.

Kemudian tak berapa lama datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam kepada mereka seraya bertanya, “apa benar Kalian yang berkata begini dan begitu?, Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah dari golonganku”. (HR. Bukhari)

Ketiga lelaki tadi sebagai contoh dan peringatan bagi kita, mereka berniat untuk melakukan amal ibadah dengan sungguh-sungguh, tapi apa yang mereka niatkan tidak sesuai dengan cara dan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Salah satu di antara mereka ingin shalat malam tanpa pernah tidur, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam selain shalat malam juga tidur malam. Satunya lagi berniat akan berpuasa setahun penuh, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam biasa puasa, dan kadang juga berbuka atau tidak puasa. Kemudian yang terakhir berjanji tidak akan menikahi wanita supaya fokus dalam beribadah. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam juga menikahi wanita.

Karena mereka tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, maka mereka diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Oleh karena itulah, dalam beribadah kita memerlukan kejelasan, apakah ibadah itu diperintahkan, atau mungkin ibadah itu tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam alias ibadah hasil kreasi manusia berdasar hawa nafsunya. Naudzubillah.

Sahabat hijrah yang semoga dirahmati Allah, demikianlah pembahasan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat. Wallahu ‘alam… (red/admin)