Tazkiyatun Nafs – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini kita akan kembali melanjutkan pembahasan mengenai “Terapi mengobati hawa nafsu”.

Pada pembahasan yang lalu sudah dijelaskan mengenai kita bisa terlepas dari jeratan hawa nafsu dengan pertolongan Alloh ‘Azza wa Jalla dan taufikNya melalui terapi, sampai dengan poin yang kedua puluh dua. Adapun poin selanjutannya…

Yang kedua puluh tiga. Alloh ‘Azza wa Jalla menempatkan pengikut hawa nafsu sejajar dengan para penyembah berhala. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman,

Artinya, “Terangkanlah kepada ku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?”. (QS. Al-Furqon : 43)

Alloh ‘Azza wa Jalla menyebutkan hal itu di dua tempat dalam kitabNya. Al-Hasan Al-Bashri Rohimahulloh berkata, “Itulah orang munafik yang selalu menuruti kehendak hawa nafsunya”.

Beliau juga berkata, “Orang munafik yang menyembah hawa nafsunya, ia selalu menuruti tuntutan hawa nafsunya”.

Yang kedua puluh empat. Hawa nafsu adalah tirai yang mengelilingi Neraka Jahanam. Barangsiapa menerobos tirai itu, niscaya ia akan terjerumus ke dalam lubang Jahannam. Dalam satu riwayat disebutkan, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Surga itu dikelilingi dengan perkara-perkara yang dibenci, sedangkan Neraka itu dikelilingi dengan syahwat”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Dari hadits Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘anhu, Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Ketika Alloh menciptakan Surga, Alloh mengutus Malaikat Jibril ‘alaihissalam kepadanya dan berkata, “Lihatlah Surga itu dan apa-apa yang telah Aku sediakan bagi penghuninya di dalamnya. Maka pergilah Malaikat Jibril melihat Surga dan apa-apa yang disediakan bagi penghuninya lalu kembali dan berkata, “Yaa Alloh demi kemuliaan-Mu, setiap hamba-Mu yang mendengarnya pasti ingin memasukinya!. Lalu Alloh ‘Azza wa Jalla memerintahkan agar memagari Surga dengan perkara-perkara yang tidak disukai hawa nafsu. Lalu Alloh ‘Azza wa Jalla berkata kepada Jibril ‘alaihissalam, “Kembalilah dan lihatlah Surga itu!”. Maka Jibril pun kembali dan melihat Surga telah dikelilingi dengan perkara-perkara yang tidak disukai hawa nafsu. Setelah itu malaikat Jibril berkata, “Yaa Alloh demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada seorang pun dari hamba-Mu yang dapat memasukinya!”. Lalu Alloh ‘Azza wa Jalla berkata, “Pergilah melihat Neraka, dan lihatlah Neraka itu serta apa-apa yang telah Aku persiapkan bagi penghuninya!”. Maka pergilah Malaikat Jibril melihat Neraka dan melihat apa-apa yang dipersiapkan bagi penghuninya. Terlihat jilatan api Neraka itu saling menerkam satu sama lainnya. Melihat itu Jibril ‘alaihissalam berkata, “Tidaklah seorang pun yang mendengarnya ingin memasukinya!”. Lalu Alloh ‘Azza wa Jalla memerintahkan agar memagarinya dengan syahwat. Alloh ‘Azza wa Jalla berkata, “Lihatlah kembali Neraka itu!”. Maka Malaikat Jibril pun kembali melihat Neraka, ternyata Neraka telah dikelilingi dengan syahwat. Lalu Jibril ‘alaihissalam kembali menemui Alloh dan berkata, “Yaa Alloh demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak akan ada seorang pun dari hamba-Mu yang selamat darinya!”. (HR. At-Tirmidzi)

Yang kedua puluh lima. Orang yang mengikuti hawa nafsu dikhawatirkan terlepas keimanannya sementara ia tidak menyadarinya. Dalam sebuah hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Tidaklah sempurna keimanan kalian hingga menjadikan hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaran yang aku bawa”.

Dan sabda Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam,

Artinya, “Perkara yang sangat aku takutkan atas kalian adalah syahwat yang menyimpang, dikarenakan perut dan kemaluan kalian serta hawa nafsu yang menyesatkan”.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan pada kesempatan kali ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya, terlebih kita bisa mengamalkannya ketika hendak mengobati hawa nafsu yang ada di dalam diri kita. Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla selalu membimbing kita di jalan-Nya. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: