Tazkiyatun Nafs – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai “Terapi mengobati hawa nafsu”.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah Rohimahulloh berkata, “Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa terhadap apa-apa yang sesuai dengan kehendaknya, kecenderungan ini telah diciptakan di dalam jiwa manusia demi keberlangsungan hidup mereka, hal tersebut karena apabila tidak ada kecenderungan nafsu terhadap makanan, minuman dan kebutuhan biologis, nikah, maka mereka tidak akan makan, tidak minum dan tidak pula menikah. Nafsu mendorongnya terhadap apa yang dikehendakinya itu. Sebagaimana amarah mencegahnya dari hal-hal yang menyakitinya, dengan demikian tidak boleh mencela hawa nafsu secara mutlak dan tidak boleh pula memujinya secara mutlak. Sebagaimana rasa amarah tidak boleh dicela secara mutlak dan tidak pula dipuji secara mutlak. Namun karena kebisaaan orang yang mengikuti hawa nafsu, syahwat dan emosinya tidak dapat berhenti sampai pada batas yang bermanfaat saja, maka dari itulah hawa nafsu, syahwat dan amarah dicela, karena besarnya keburukan yang ditimbulkannya. Dan juga jarang sekali ditemui orang yang dapat berlaku adil dan berhenti pada batas positif bila telah dikuasai oleh hawa nafsu, syahwat dan amarah. Sebagaimana pula sangat jarang ditemui tabiat yang lurus dalam segala kondisi. Salah satu dari unsur-unsur yang ada pasti menguasai dirinya. Jarang sekali seseorang dapat meluruskan potensi syahwat dan amarahnya dalam segala keadaan, barangkali hanya segelintir orang saja yang bisa. Oleh sebab itulah Alloh ‘Azza wa Jalla mencela hawa nafsu di dalam FirmanNya”.

Demikian juga dalam Sunnah Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam, selalu dicela oleh Rosul, selain beberapa hal yang dikecualikan, misalnya sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam,

Artinya, “Tidak sempurna iman kalian hingga menjadikan hawa nafsunya selalu tunduk mengikuti ajaran yang ku bawa”. (HR. Bukhori)

Ada yang mengatakan, hawa nafsu itu selalu mengintai maka janganlah mudah mempercayainya.

Asy-Sya’bi Rohimahulloh berkata, “Disebut hawa nafsu karena selalu mengajak pemiliknya, jika dilepasakan menggiring kepada kelezatan dunia tanpa memikirkan akibatnya. Hawa nafsu mengajaknya supaya mengejar tuntutan syahwat dunia meskipun merupakan penyebab datangnya berbagai macam kepedihan di dunia dan akhirat. Akibat di dunia tentunya lebih dahulu dirasakan sebelum disiksa di akhirat. Hawa nafsu membuat pengikutnya buta hingga tidak dapat memperhatikan hal tersebut. Rasa malu, agama dan akal sehat tentu menolak kelezatan yang membuahkan kepedihan, kepuasan syahwat yang berakhir penyesalan. Jika ia ingin memperturutkan kehendak hawa nafsunya maka rasa malu, agama dan akal sehat serempak berbicara dan mengatakan kepada dirinya, “Jangan lakukan itu!”. Ketaatan hanyalah milik orang-orang yang berhasil mengalahkan hawa nafsunya. Tidakkah kita lihat, anak kecil lebih suka memperturutkan apa yang dikehendaki oleh nafsunya meski menjerumuskannya dalam bahaya. Itu disebabkan fungsi akalnya masih lemah. Orang yang tidak mengindahkan aturan agama pasti lebih suka memperturutkan hawa nafsunya meski menjerumuskannya ke dalam kebinasaan di akhirat. Itu disebabkan karena lemahnya pengaruh agama pada dirinya. Orang yang tidak punya rasa malu tentu lebih suka memperturutkan hawa nafsunya mesikpun kehormatannya ternodai atau hilang sama sekali. Hal itu disebabkan lemahnya rasa malu dalam dirinya. Orang-orang seperti itu sangat jauh dari apa yang dikatakan oleh Imam Syafi’i Rohimahulloh, “Sekiranya meminum air putih itu mengotori kehormatanku, niscaya aku tidak akan meminumnya”.

Sehubungan orang yang terkena beban syari’at selalu diuji dengan hawa nafsu tidak seperti hewan dan setiap saat ia mengalami berbagai macam gejolak, maka ia harus memiliki dua peredam, yaitu akal sehat dan agama. Ia diperintahkan agar mengangkat seluruh gejolak hawa nafsu kepada agama dan akal sehat.

Dan hendaknya ia selalu mematuhi keputusan kedua peredam itu. Ia harus selalu berlatih menolak tuntutan hawa nafsu yang tersembunyi dan berbahaya. Ia harus berlatih meninggalkan hal-hal yang buruk akibatnya.

Jika kita bertanya, Bagaimanakah jalan keluarnya agar kita dapat melepaskan diri dari hawa nafsu sedang kita sudah terjerat di dalamnya?. Jawabannya adalah, kita bisa terlepas dari jeratan hawa nafsu dengan pertolongan Alloh ‘Azza wa Jalla dan taufikNya melalui terapi berikut ini, yaitu,

Yang pertama. Tekad membara yang membakar kecemburuannya terhadap dirinya sendiri.

Yang kedua. Seteguk kesabaran untuk memotivasi dirinya agar bersabar atas kepahitan yang dirasakan saat mengekang hawa nafsu.

Yang ketiga. Kekuatan jiwa untuk menumbuhkan keberaniannya meminum seteguk kesabaran itu. Karena hakikatnya keberanian itu adalah sabar barang sesaat! Sebaik-baik bekal dalam hidup seorang hamba adalah sabar.

Yang keempat. Selalu memperhatikan hasil yang baik dan kesembuhan yang didapat dari seteguk kesabaran.

Yang kelima. Selalu mengingat pahitnya kepedihan yang dirasakan dari pada kelezatan menuruti kehendak hawa nafsu.

Yang keenam. Kedudukan dan martabatnya di sisi Alloh dan di hati para hambaNya lebih baik dan lebih berguna dari pada kelezatan mengikuti tuntutan hawa nafsu.

Dan yang ketujuh. Hendaklah lebih mengutamakan manis dan lezatnya menjaga kesucian diri dan kemuliaannya dari pada kelezatan maksiat.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini InsyaaAlloh kita akan melanjutkan pada edisi yang akan datang. Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla selalu membimbing kita di jalanNya. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: