Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah merupakan konsekuensi dari tauhid rububiyah. Hakikat tauhid uluhiyah adalah mengesakan Alloh Azza wa Jalla dalam beribadah. Menujukan segala bentuk ibadah hanya kepada-Nya, dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Ibadah itu sendiri harus dibangun di atas landasan cinta dan pengagungan kepada-Nya.

Dalam kitab at-Tam-hid li Syarh Kitab at-Tauhid Syaikh Sholih bin Abdul Aziz menjelaskan, bahwa kata uluhiyah berasal dari alaha – ya’lahu – ilahah – uluhah yang bermakna ‘menyembah dengan disertai rasa cinta dan pengagungan’. Sehingga kata ta’alluh diartikan penyembahan yang disertai dengan kecintaan dan pengagungan.

Selain itu, Tauhid uluhiyah merupakan intisari ajaran Islam. Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi intisari dakwah para Nabi dan Rosul serta muatan pokok seluruh kitab suci yang diturunkan Alloh Ta’ala ke muka bumi.

Dalam Kitab al-Mujalla fi Syarh al-Qowa’id al-Mutsla dikatakan, “Makna tauhid uluhiyah adalah mengesakan Alloh Ta’ala dalam beribadah, dalam ketundukan dan ketaatan secara mutlak. Oleh sebab itu, tidak diibadahi kecuali Alloh semata dan tidak boleh dipersekutukan dengan-Nya sesuatu apapun, baik yang ada di bumi ataupun di langit. Tauhid tidak akan benar-benar terwujud selama tauhid uluhiyah belum menyertai tauhid rububiyah. Karena sesungguhnya hal ini tauhid rububiyah, tidaklah mencukupi. Orang-orang musyrik arab dahulu pun telah mengakui hal ini, tetapi ternyata hal itu belum memasukkan mereka ke dalam Islam. Hal itu dikarenakan mereka mempersekutukan Alloh dengan sesembahan lain yang tentu saja Alloh tidak menurunkan keterangan atasnya sama sekali dan mereka pun mengangkat sesembahan-sesembahan lain bersama Alloh…”

Tauhid uluhiyah bisa didefinisikan sebagai mengesakan Alloh Ta’ala dengan perbuatan hamba. Dalam kitab Qothfu al-Jana ad-Dani, dikatakan, “Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Alloh dengan perbuatan-perbuatan hamba, seperti dalam hal doa, istighotsah atau memohon keselamatan, isti’adzah atau meminta perlindungan, menyembelih, bernadzar, dan lain sebagainya. Itu semuanya wajib ditujukan oleh hamba kepada Alloh semata dan tidak mempersekutukan-Nya dalam hal itu ibadah dengan sesuatu apapun.”

Dari sini pula, dapat dipahami bahwa makna yang benar dari kalimat laa ilaha illalloh adalah tidak ada sesembahan yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Alloh “laa ma’buda haqqun illalloh.

Oleh sebab itu orang-orang musyrik ketika mendengar dakwah Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam kepada kalimat laa ilaha illalloh maka mereka pun mengatakan,

Apabila hal ini telah jelas, maka tentu saja dengan mudah kita bisa mengetahui bahwa penafsiran laa ilaha illalloh dengan ungkapan ‘Tiada pencipta selain Alloh‘, atau ‘Tiada penguasa selain Alloh’, atau ‘Tiada pengatur selain Alloh’, dan semacamnya adalah sebuah kesalahpahaman.

Kesalahpahaman ini muncul dari kalangan Mutakallimin atau filsafat, Asya’iroh dan Mu’tazilah yang mengartikan kata ilah dalam syahadat laa ilaha illalloh dengan makna al-Qodir; artinya yang berkuasa. Sehingga mereka menafsirkan laa ilaha illAlloh memaknai kalimat ini dengan,

Tidak ada yang berkuasa selain Alloh, Tidak ada wujud yang haqiqi selain Alloh, Tidak ada pengatur alam semesta selain Alloh, Tidak ada penguasa abadi selain Alloh. Kita semua sepakat kalimat-kalimat ini benar. Namun ketika kalimat ini diyakini sebagai makna laa ilaaha illalloh, jelas ini kesalahan. Karena konsekuensi pemaknaan ini bertentangan dengan aqidah orang musyrikin Quraisy.

Jika makna laa ilaaha illalloh adalah Tidak ada yang berkuasa selain Alloh, Tidak ada wujud yang haqiqi selain Alloh, Tidak ada pengatur alam semesta selain Alloh, Tidak ada penguasa abadi selain Alloh, anda bisa pastikan orang musyrikin Quraisy akan setuju dengan ajakan Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam. Karena ini sesuai dengan apa yang diyakini masyarakat jahiliyah.

Untuk mengajak mereka agar mengakui tiada  penguasa abadi selain Alloh, tiada  pengatur alam semesta selain Alloh, tidak perlu sampai harus terjadi pertumpahan darah.

Menyadari realita tersebut, semata mengucapkan laa ilaaha illallah tanpa mengamalkan konsekuensinya, tidak memberikan pengaruh apapun. Karena kalimat tauhid tidak hanya untuk diucapkan, namun sejauh mana kita bisa mengamalkan. Karena itu, orang yang mendapatkan jaminan surga dengan laa ilaaha illallah, adalah mereka yang memahami makna dan konsekuensinya serta menerapkannya dalam hidupnya. Dan yang benar makna laa ilaaha illallah  adalah tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Alloh.

Demikianlah pembaca yang semoga dirahmati Alloh, semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam dan para keluarga serta sahabatnya. Wallohu ‘alam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: