Oleh: Ust. Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.

Agama Islam adalah agama yang tegak di atas tauhid, jika tauhid ini telah terkoyak maka rusaklah keislaman seorang.

Secara bahasa, tauhid berarti pengesaan. Sedangkan secara istilah, tauhid berarti mengesakan Allah Subhānahu wa Ta’ālā dalam perbuatan-perbuatan-Nya seperti menciptakan, memberi rezeki, dan sebagainya. Demikian juga mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan hamba-Nya, seperti shalat, zakat, puasa, berkurban, dan lain-lain. Begitu juga tauhid itu mengesakan nama-nama dan sifat-sifat  Allah. Dengan kata lain, tauhid adalah iman kepada Allah Subhānahu wa Ta’ālā tanpa diiringi oleh kesyirikan.

Keagungan tauhid ini, dapat kita selami dengan mengetahui keburukan lawannya, yaitu syirik, sebagaimana yang digambarkan dalam banyak ayat al-Qur’an, di antaranya dalam surat an-Nisa ayat 48:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengam-puni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

Di samping itu, Rasulullah –Shalallahu ‘alaihi wa Sallam– bersabda dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim:

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Esa, dan bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, kemudian bersaksi pula bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya serta kalimat-Nya yang dihembuskan pada Maryam dan ruh-Nya, juga bersaksi bahwa surga adalah haq dan neraka adalah haq, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan amalnya yang mana saja.”

Berdasarkan penelusuran para ulama terhadap ayat-ayat al-Qur`an dan Hadis-hadis Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam, maka tauhid terbagi menjadi tiga macam. yaitu: Tauhid rububiyyah, Tauhid uluhiyyah, dan Tauhid asma’ wa sifat.

Yang dimaksud dengan Tauhid ar-rububiyah. Yaitu mengesakan Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Banyak sekali perbuatan-perbuatan Allah yang harus kita esakan. Seperti menciptakan, menurunkan air hujan, dan lain sebagainya.

Banyak sekali ayat-ayat dalam al-Qur`an yang menjelaskan tauhid rububiyah. Di antaranya adalah dalam surat al-A’rof ayat 54:

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam.”

Dalam ayat yang lain, yaitu surat Fathir ayat 13 Allah juga berfirman:

“Dialah Allah yang menggilirkan malam pada siang dan yang menggilirkan siang pada malam. Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar untuk masa tertentu. Yang berbuat demikian itulah Allah Robb kalian, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kalian ibadahi selain Allah itu tidaklah mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.“

Termasuk dalam kandungan tauhid rububiyyah yaitu bahwa hanya Allah-lah Pencipta alam semesta dan semua yang ada di dalamnya, Pemberi dan Pencegah, yang menghidupkan dan mematikan, yang mengadakan dan meniadakan. dan Tiada sekutu bagi-Nya dalam hal tersebut. dalam surat Ali Imron ayat 26 sampai 27 Allah Ta’ala berfirman,

“Katakanlah: “Wahai Allah Yang Maha Memiliki seluruh kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang kepada malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa batas.”

Termasuk kandungan tauhid rububiyyah, bahwa Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– adalah Penguasa tertinggi, kekuasaan-Nya tidak ada batasnya, dan tidak ada kekuasaan yang menandingi-Nya. Semua makhluk berada dalam genggaman kekuasaan-Nya.

Semua yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan semua yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi. Tidak ada keinginan lain yang bisa terlaksana bila bertentangan dengan keinginan-Nya. Tidak ada yang bisa mencegah-Nya dari berbuat apa pun juga. sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat al-Maidah ayat 17:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu adalah al-Masih putera Maryam.” Katakanlah: “Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang berada di bumi semuanya.” Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”  

Di samping itu, tauhid rububiyah juga bermakna bahwa Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– adalah Pengatur dan Penentu segala-galanya, Raja dan Pemilik semuanya. Maha suci Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– dari segala sifat kekurangan dan kelemahan. Dan Maha suci Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– dari kesamaan dengan apa pun juga. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat as-Sajdah ayat 5:

“Dia mengatur semua urusan dari langit ke bumi, kemudian urusan itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitungan kalian.”

Tidak ada satu zat pun yang menyamai Allah dalam rububiyyah-Nya, menandingi-Nya atau mendekati derajat-Nya. Barangsiapa yang beranggapan atau percaya bahwa ada zat lain yang mempunyai hak rububiyyah, baik seluruhnya ataupun sebagiannya, maka orang itu telah berbuat syirik kepada Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– dan telah menjadi orang musyrik yang kekal di Jahannam, walaupun berasal dari keluarga muslim, sholat atau berpuasa bahkan berjihad fi sabiilillah. Hal ini sebagaimana dijelaskan  dalam al-Qur`an surat an-Nahl ayat 3:

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan hak. Maha Tinggi Allah dari pada apa yang mereka persekutukan.”

Dalam surat az-Zumar ayat 63 Allah juga berfirman ,

“Allah adalah pemiliki kunci-kunci kekayaan seluruh langit dan bumi. Orang-orang yang kafir terhadap bukti-bukti kekuasaan Allah, pasti mereka merugi di akhirat kelak.”

Kemudian macam tauhid yang kedua adalah tauhid uluhiyyah. Tauhid uluhiyah yaitu mempersembahkan seluruh peribadatan hanya kepada Allah –Subhānahu wa Ta’ālā–. Dengan kata lain, adalah pengesaan Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– dalam peribadatan.

Tauhid uluhiyyah disebut juga tauhid ilahiyah atau tauhid ‘ubudiyyah. Banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan tentang tauhid Uluhiyah, di antaranya adalah firman Allah dalam surat al-Anbiya ayat 25:

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Ilah yang hak diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kalian hanya kepada-ku.”

Kemudian dalam surat adz-Dzariat ayat 56, Allah juga berfirman,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah hanya kepada-ku.

Berkaitan dengan ayat ini, Syeikh Muhammad at-Tamimi mengatakan dalam kitabnya Ushuluts Tsalatsah Bahwa maksud dari firman Allah Subhanahu wata’ala “Liya’budûni” yang artinya supaya mereka beribadah kepada-Ku dalam ayat tersebut adalah “Liyuwahhidûni” supaya mereka mengesakan-Ku.

Adapun macam tauhid yang ketiga yaitu Tauhid asma’ wa sifat. maknanya adalah mengesakan Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– dalam hal nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Yaitu keyakinan yang pasti bahwa Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– mempunyai nama-nama yang mulia dan sifat-sifat yang agung serta sempurna, yang tidak diiringi oleh suatu kekurangan, kelemahan atau keburukan, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– sendiri di dalam kitab-Nya dan oleh Rasulullah –Shalallahu ‘alayhi wa Sallama– di dalam hadits-haditsnya.

Di antara ayat-ayat al-Qur`an yang menjelaskan tentang tauhid asma wa sifat, adalah firman Allah Ta’ala dalam surat Toha ayat 8:

“Dialah Allah, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi melainkan Dia. Dia mempunyai al-asmaaul husna yaitu nama-nama yang baik.”

Demikianlah pembahasan kita pada kesempatan kali ini, Semoga kita dapat memahami dan mengamalkannya. Amin. Wallahu A’lam.