Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, di samping syafa’at yang ditetapkan oleh al-Qur’an ada pula syafaat batil yang tidak berguna bagi pemiliknya, yaitu anggapan orang-orang musyrik bahwa tuhan-tuhan mereka dapat memintakan syafa’at kepada Alloh Ta’alaa. Alloh Azza wa Jalla berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya, “Dan mereka menyembah selain Alloh apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Sembahan-sembahan itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Alloh”. Katakanlah: “Apakah kalian mengabarkan kepada Alloh apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi”? Maha Suci Alloh dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu)”. (QS. Yunus : 18)

Syafa’at semacam ini tidak bermanfaat bagi mereka, seperti yang difirmankan Alloh Ta’alaa,

فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

Artinya, “Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at”. (QS. Al-Muddatsir : 48)

Yang demikian itu karena Alloh tidak rela kepada kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu dan tidak mungkin Alloh Ta’alaa memberi izin kepada para pemberi syafaat itu, untuk memberikan syafaat kepada mereka, karena tidak ada syafa’at kecuali bagi orang yang diridhoi Alloh. Alloh tidak meridhoi hamba-hamba-Nya yang kafir dan Alloh tidak senang kepada kerusakan.

Ketergantungan orang-orang musyrik kepada tuhan-tuhan mereka dengan menyembahnya dan mengatakan, “Mereka adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Alloh,” adalah ketergantungan batil yang tidak bermanfaat. Bahkan yang demikian itu tidak menambah mereka kecuali semakin jauh dari Alloh, karena orang-orang musyrik meminta syafa’at kepada berhala-berhala dengan cara yang batil, yaitu menyembahnya. Itu kebodohan mereka yang berusaha mendekatkan diri kepada Alloh, tetapi sebenarnya tidak lain hanya menjadikan mereka semakin jauh.

Para ulama berkata, “Syafa’at yang dinafikan (dalam) Al-Qur’an secara mutlak adalah yang terdapat kesyirikan padanya, inilah yang tertolak secara mutlak. Oleh karena itu, Alloh Ta’alaa menetapkan syafa’at (yang benar) dengan izin-Nya di beberapa ayat (dalam al-Qur’an), dan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam telah menjelaskan (dalam hadits-hadits yang shahih) bahwa syafa’at tersebut hanya berlaku bagi orang-orang yang bertauhid dan mengikhlaskan (ibadahnya untuk Alloh Ta’alaa semata), maka syafa’at tersebut bersumber dari tauhid dan yang berhak menerimanya (hanyalah) orang-orang yang bertauhid.

Renungkanlah sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam kepada Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘anhu berikut,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

Artinya, “Orang yang paling bahagia dengan syafa’atku adalah, orang yang mengucapkan Laa ilaahaa illallaah dengan ikhlas dari hatinya”. (HR. Al-bukhori)

Bagaimana Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam menjadikan sebab utama untuk mendapatkan syafa’at beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam adalah memurnikan tauhid yaitu penghambaan diri kepada Alloh Ta’alaa semata, yang ini sangat berseberangan dengan persangkaan orang-orang musyrik bahwa syafa’at itu diraih dengan mengangkat pelindung-pelindung (selain Alloh) sebagai pemberi syafa’at, menyembah dan berloyal kepada mereka. Maka, Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam membantah persangkaan dusta orang-orang musyrik tersebut dan beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam menyampaikan bahwa sebab untuk meraih syafa’at adalah dengan memurnikan tauhid, dan ketika itulah Alloh mengizinkan kepada pemberi syafa’at untuk memberikan syafa’at. Dan sungguh Alloh Ta’alaa tidak akan meridhoi ucapan dan perbuatan manusia kecuali yang dilandasi tauhid kepada-Nya dan mengikuti petunjuk dan sunnahRosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam.

Kemudian syafa’at yang benar terbagi lagi menjadi dua bagian besar,

Syafaat yang pertama yaitu syafa’at yang khusus dilakukan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam, dan syafa’at ini pun tebagi menjadi tiga macam,

Yang pertama yaitu Syafa’at al-‘udzhma atau syafa’at yang paling agung, inilah al-maqaamul mahmuud (kedudukan yang terpuji) yang Alloh Ta’alaa janjikan kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam. Sebagaimana dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari, “Syafa’at ini adalah syafa’at beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam kepada seluruh umat manusia ketika mereka dikumpulkan di padang mahsyar untuk menunggu keputusan Alloh Ta’alaa, pada waktu itu manusia merasakan kesusahan dan penderitaan yang sangat besar, sehingga mereka mendatangi para Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam : Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa bin Maryam, agar meminta syafa’at kepada Alloh Ta’alaa bagi mereka, tapi semua para Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam mengajukan keberatan, lalu mereka meminta kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam dan beliaulah yang diizinkan oleh Alloh Ta’alaa untuk memberikan syafa’at tersebut.”

Kemudian yang kedua yaitu Syafa’at Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam kepada penghuni surga untuk masuk ke dalam surga, karena ketika penduduk surga telah melewati ash-shiraath (jembatan yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahanam), mereka mendapati pintu surga tertutup, maka mereka meminta kepada para Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam di atas untuk meminta kepada Alloh Subhanahu wa Ta’alaa agar membuka pintu surga, tapi mereka tidak mampu, sehingga Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam yang meminta syafa’at kepada Alloh Subhanahu wa Ta’alaa untuk membukan pintu-pintu surga bagi penghuninya. Hal ini sebagimana yang terdapat dalam hadits yang panjang,

Inilah yang diisyaratkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam dalam sabda beliau,

Artinya, “Akulah yang pertama kali (diizinkan Alloh Ta’alaa) untuk memberikan syafa’at di surga”. (HR. Muslim)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda,

Artinya, “Aku mendatangi pintu surga pada hari Kiamat lalu aku meminta dibukakan (pintu surga), maka penjaga surga bertanya, ‘Siapakah kamu?’, aku menjawab, ‘(Aku Nabi) Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassalam’, maka penjaga itu berkata, “Dengan kamulah aku diperintahkan untuk tidak membukakan (pintu surga) kepada seorangpun sebelummu.”

Kemudian syafa’at yang ketiga yaitu Syafa’at Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam kepada paman beliau Abu Tholib untuk meringankan azab yang menimpanya di neraka.

Dari Abbas bin ‘Abdul Muththalib bertanya kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam, “Wahai Rosululloh, apakah engkau bisa memberi manfaat (walaupun) sedikit kepada pamanmu (Abu Thalib), (Karena) dulu dia selalu melindungi dan membelamu?” Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda, “Iya, dia (berada) di tempat yang dangkal  di Neraka (diringankan siksaannya), kalau bukan karena aku,niscaya  dia (ditempatkan) di dasar neraka yang paling bawah)”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Imam an-Nawawi Rohimahulloh dalam kitab Shahih Muslim mencantumkan hadits ini pada bab : Syafa’at Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam kepada (paman beliau) Abu Thalib.

Dalam hadits shahih lainnya bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda,

Artinya, “Semoga syafa’atku bermanfaat baginya (Abu Thalib) pada hari Kiamat, sehingga dia ditempatkan di neraka yang dangkal, yang mencapai kedua mata kakinya dan dengan itu otaknya mendidih”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Syafa’at ini khusus hanya bagi Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam dan paman beliau Abu Thalib, karena hukum asalnya orang kafir tidak bisa mendapatkan syafa’at, maka ini merupakan pengecualiaan dan pengkhususan. Dan syafa’at ini pun tidak mengeluarkannya dari Neraka, tapi cuma meringankan azab yang menimpanya.

Ada juga syafa’at yang bersifat umum yang bisa dilakukan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam dan selain beliau, yaitu para Nabi lainnya, para Malaikat dan orang-orang yang shaleh dari kaum mukminin. Jadi syafa’at jenis dapat diberikan oleh orang-orang yang bukan Nabi. Syafa’at ini juga ada tiga macam, yaitu syafa’at kepada orang-orang beriman yang berhak masuk Neraka karena dosa-dosa mereka, syafa’at kepada orang-orang beriman yang telah dimasukkan ke dalam neraka karena dosa-dosa mereka, dan syafa’at bagi penduduk surga untuk meninggikan derajat mereka dan menambah keutamaan mereka. Dan untuk lebih jelasnya akan kita bahas pada kesempatan selanjutnya.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada kesempatan kali ini. Wallohu a’lam… (red/admin)