Tarbiyatul Aulad – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini kita akan kembali melanjutkan pembahasan mengenai “Sifat pendidik yang berhasil”. Pada edisi sebelumnya, telah dijelaskan empat sifat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam yang harus jadi teladan para pendidik, agar sukses dalam mendidik masyarakat. Berikut uraian selanjutnya.

Yang kelima. Berhati Lembut (Hilm).

Seorang pendidik harus berlapang dada dan berhati lembut, hilm. Dia tidak boleh dihasut oleh kesalahan, bahkan oleh penghinaan yang ditujukan kepadanya. Tetapi, dia harus menyimpannya kemudian mengemukakannya dengan nada meremehkannya, yaitu tidak membesar-besarkan masalah tersebut. Setelah itu, dia harus mengarahkan perhatiannya untuk memecahkan faktor penyebab kesalahan tersebut.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam adalah orang yang paling berhati lembut, hingga tak seorang pun bisa menghina Beliau. Telah diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, “Saya pernah berjalan dengan Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wassallam dan Beliau memakai selimut buatan Najran, yang kulit luarnya kasar. Ketika Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam diketahui oleh orang Badui, tiba-tiba orang tersebut menarik selendang atau syal Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam dengan tarikan yang sangat kuat, sehingga saya melihat leher Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam meninggalkan bekas kulit selimut akibat kuatnya tarikan tadi. Kemudian orang tersebut berkata, ‘Wahai Muhammad, berikan kepadaku harta Alloh yang kamu miliki.

Dalam riwayat lain dikatakan, “Anda tidak membawakan untukku dari harta Anda, dan juga harta bapak Anda”. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam kemudian menoleh kepadanya, dan tersenyum, lalu memerintahkan shahabat agar dia diberi harta benda”.

Yang keenam, Pemaaf dan Pengampun.

Kelembutan hati Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam tatkala perlakuan buruk ditujukan kepada pribadi Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam, membuat Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam selalu menyertainya dengan ampunan dan pemberian maaf kepada pelakunya, agar orang itu bisa memulai kembali kehidupan barunya.

Seperti contohnnya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam telah memaafkan orang Yahudi yang menyihirnya. Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam juga telah memaafkan seorang wanita yang telah menaburkan serbuk racun dalam daging kambing yang disajikan kepada Beliau. Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam juga memaafkan Ghaurats yang berniat membunuh Beliau. Demikian juga memaafkan orang yang berbuat nista kepada Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam, termasuk orang Badui yang telah menarik syalnya, hingga kulit selimutnya membekas di leher Beliau. Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam juga bisa memaafkan orang Badui yang diberi sesuatu oleh Beliau, kemudian Beliau bertanya kepada orang Badui tersebut, “Apakah aku sudah berbuat baik kepadamu?”. Orang Badui menjawab, “Tidak. Dan Anda pun tidak pernah berbuat baik”.

Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam juga telah memaafkan penduduk Makkah, setelah mereka menganiaya dan mengusir Beliau dari negerinya, serta memerangi Beliau di mana saja Beliau berada. Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda kepada mereka, “Tak ada celaan sedikit pun yang layak ditujukan kepada kalian. Pergilah!, kalian semuanya bebas”.

Yang ketujuh, Kepribadian yang Kuat.

Syarat bagi seorang pendidik harus mempunyai kepribadian yang kuat, tidak cacat dan diragukan, agar berpengaruh terhadap obyek didiknya. Kepribadian yang kuat tidak memerlukan banyak hukuman atau sangsi, sebaliknya bisa mencegah terjadinya banyak kesalahan serta mampu menanamkan keyakinan dalam diri.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam benar-benar mempunyai kekuatan pribadi, yang bisa Beliau gunakan untuk menghujani hati musuh-musuh Beliau dengan keyakinan, begitu pertama kali bertemu dengan Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Telah dituturkan mengenai sifat Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam, bahwa “Orang yang melihat Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam pasti kagum kepada kepribadiannya”.

Yang kedelapan, Percaya Sepenuhnya pada Tugas Pendidikan.

Istilah para pengkaji mengenai sifat ini berbeda-beda. Ada yang menyebutnya dengan Iman, yakni keyakinan penuh, tetapi ada juga yang menyebutnya dengan hubbul amal, yakni cinta pada tugas, dan ada juga yang menyebutnya dengan iqtina bil amal, yakni percaya penuh pada tugas.

Sifat ini merupakan prasyarat yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik. Sebab, pendidikan merupakan kontribusi mental dan spiritual. Jika seorang pendidik tidak percaya sepenuhnya dengan tugas pendidikannya, niscaya tidak akan mampu memberikan kontribusi ini.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, inilah suatu tauladan baik yang dipraktekkan oleh teladan kita, dan contoh yang baik bagi setiap Muslim yang menginginkan kebaikan dan keselamatan bagi anak-anak kita. Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla menjadikan kita pendidik-pendidik yang baik bagi anak-anak kita. Aamiin. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: