Tazkiyatun Nafs – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini kita akan kembali melanjutkan pembahasan mengenai “Sepuluh pelebur dosa”.

Pada edisi yang lalu sudah dijelaskan mengenai beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk meleburkan dosa sampai dengan point yang keempat. Adapun kelanjutannya.…

Yang kelima. Amalan kebaikan yang ditujukan untuk mayit.

Contohnya adalah sedekah, amalan sedekah ini bermanfaat bagi mayit berdasarkan dalil yang shahih dan tegas serta berdasarkan kesepakatan para Ulama. Begitu pula haji bagi simayit juga bermanfaat. Terdapat hadits shahih yang menyebutkan bahwa Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang puasa, maka ahli warisnya yang  nanti mempuasakan dirinya”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits lain Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Tidaklah seseorang mendoakan saudaranya dengan suatu do’a, melainkan Alloh akan mengutus Malaikat yang bertugas ketika ia berdo’a kepada saudaranya, Malaikat itu pun berkata, “Aamiin, semoga Alloh kabulkan, engkau pun akan dapat semisalnya”.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam juga bersabda,

Artinya, “Barangsiapa yang sholat jenazah, maka ia akan mendapatkan satu qiroth. Barangsiapa yang menambah dengan mengikutinya hingga dikuburkan, maka ia akan mendapatkan dua qiroth. Minimal ukuran qiroth adalah semisal gunung Uhud”.

Dan sebagaimana Alloh ‘Azza wa Jalla merahmati orang yang melaksanakan sholat jenazah lantas berdo’a untuk simayit, demikian pula simayit dirahmati dengan do’a orang yang masih hidup untuknya.

Di antara sebab dosa bisa lebur adalah berkat syafa’at Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bagi para pelaku dosa besar, bisa pula karena musibah yang menimpa seorang Muslim. Dan yang lebih besar dari itu semua adalah karena rahmat dan ampunan Alloh ‘Azza wa Jalla.

Yang Keenam. Syafa’at Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam dan yang lainnya pada para pelaku dosa besar di hari kiamat kelak.

Sebagaimana Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda dalam hadits yang shahih,

Artinya, “Syafa’at ku untuk pelaku dosa besar dari umatku”.

Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam juga bersabda,

Artinya, “Separuh dari umatku akan dipilih untuk masuk surge atau akan diberi syafa’at. Maka aku pun memilih agar umatku diberi syafa’at karena itu tentu lebih umum dan lebih banyak. Apakah syafa’at itu hanya untuk orang bertakwa?. Tidak. Syafa’at itu untuk mereka yang terjerumus dalam dosa besar”.

Yang Ketujuh. Musibah di dunia yang menjadi sebab terhapusnya dosa.

Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Tidaklah menimpa seorang Mukmin berupa rasa sakit yang terus-menerus, rasa capek, kekhawatiran pada pikiran, sedih karena sesuatu yang hilang, kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya, melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Yang Kedelapan. Ujian di alam kubur, juga siksaan dan kenikmatan yang menjadi sebab terhapusnya dosa-dosanya.

Yang Kesembilan. Kengerian dan kesulitan pada hari kiamat.

Dan yang Kesepuluh. Rahmat dan ampunan dari Alloh ‘Azza wa Jalla tanpa sebab yang dilakukan oleh hamba.

Jika sudah jelas bahwa celaan dan hukuman akan terhindar pada pelaku dosa karena sepuluh sebab yang telah disebutkan, maka anggapan yang menyatakan bahwa hukuman bagi pelaku dosa besar, atau al kabair, hanya bisa terhapus dengan taubat berarti menyelisihi keterangan ini.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla selalu membimbing kita di jalanNya, dan mengampuni juga menerima permohonan ampun kita atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan selama hidup kita, baik dosa kecil ataupun dosa besar. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: