Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Allah, setelah kita mengetahui makna dari kalimat Syahadat “laa ilaaha illallah” yang telah kita jelaskan pada pembahasan sebelumnya, maka kali ini kita akan membahas tentang rukun dan syarat syahadat “Laa ilaha illallah”.

Secara umum rukun syahadat “Laa ilaha illallah” memiliki 2 rukun, yaitu An-Nafyu yakni penafian atau peniadaan, dan Al-Itsbat yakni penetapan. Kedua rukun ini diambil dari dua penggalan kalimat tauhid, yaitu “Laa ilaha” dan “illallah”.

Kalimat “Laa ilaha” merupakan “An-Nafyu”,  yaitu meniadakan dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan, serta mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah Ta’alaa.

Dan kalimat “illallah” merupakan “Al-Itsbat”, yaitu menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah dan diibadahi melainkan Allah, serta beramal dengan landasan ini.

Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thogut yaitu ingkar kepada syaitan atau apa saja yang disembah selain dari Allah Ta’alaa, dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat, yang tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Mengingkari Thogut atau sesembahan selain Allah yang terdapat dalam ayat ini, adalah cerminan dari rukun An-Nafyu, sementara “Beriman kepada Allah” adalah cerminan dari rukun Al-Itsbat.

Selanjutnya syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang melafalkan kalimat tauhid “Laa ilaha illallah” dan agar berfaedah baginya diantaranya yaitu,

Yang pertama, berilmu dan memahami kandungan makna dan rukun syahadat ini, sehingga hilang kebodohan terhadap kandungan makna dan rukun kalimat ini.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan mengetahui makna ‘laa ilaha illallah’, bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah, pasti masuk surga”. (HR. Muslim)

Yang kedua, meyakini segala yang ditunjukkan oleh kalimat ini tanpa ada keraguan sedikitpun.

Yang ketiga, menerima konsekuensi atau tuntutan kalimat ini, berupa beribadah hanya kepada Allah semata, dan meninggalkan beribadah kepada selain Allah, tanpa adanya penolakan yang didasari keengganan, pembangkangan, dan kesombongan.

Yang keempat, tunduk dan berserah diri terhadap segala tuntutan kalimat ini tanpa mengabaikannya.

Yang kelima, jujur dalam mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallah” dengan disertai hati yang membenarkannya. Jika seseorang mengucapkan kalimat ini namun hatinya mengingkari dan mendustainya, maka dia merupakan orang munafik yang sebenar-benarnya.

Yang keenam, Ikhlas dalam mengucapkannya dan memurnikan amal dari segala kotoran syirik, bukan karena riya, atau untuk ketenaran, maupun tujuan-tujuan duniawi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’ dengan tujuan mengharap wajah Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang ketujuh, mencintai kalimat “Laa ilaaha Illallah” dan segala tuntutannya, serta mencintai orang yang melaksanakan tuntutannya.

Allah Ta’alaa berfirman,

Artinya, “Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan yang mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”. (QS. Al-Baqarah : 165)

Orang –orang yang benar dalam imannya mencintai Allah dengan cinta yang tulus dan murni. Adapun para pelaku kesyirikan memiliki cinta ganda. Mereka mencintai Allah sekaligus mencintai tandingan-Nya.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, demikianlah penjelasan singkat terkait rukun dan syarat syahadat “Laa illaha illallah” pada kesempatan kali ini, semoga Allah memberikan pemahaman yang benar kepada kita terkait hal ini, dan semoga kita bisa mengambil faidahnya. Wallahu a’lam… (red/admin)