Sirah Nabawiyah – Pembaca yang semoga dirahmati Allah, sebelum kita lanjutkan kisah beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam ketika tiba di Madinah, berikut kita akan simak sebagian peristiwa yang terjadi dalam perjalanan Hijrah beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam dari gua Tsur menuju kota hijrah, Madinah.

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Kami telah melakukan perjalanan sepajang malam dan dari keesokan harinya hingga hari mencapai suhu udara yang amat terik, jalanan lengang dan tidak ada satupun orang yang lewat. Lalu aku mengangkat sebuah batu besar yang berukuran panjang dan dapat dinaungi sehingga tidak tersengat oleh terik matahari, lalu kami singgah untuk berteduh di sana. Aku meratakan tempat dengan tanganku sendiri untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam dapat tidur, lalu aku bentangkan hamparan yang terbuat dari bulu binatang, sembari berkata, “Tidurlah, wahai Rasulullah! Aku akan mengontrol kondisi di sekelilingmu”. Lantas beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam tertidur dan aku mengontrol kondisi di sekelilingnya.

Tiba-tiba saya melihat seorang penggembala sedang menggiring kambingnya menuju batu besar tersebut juga, dia ingin melakukan seperti yang kami lakukan. Lalu aku bertanya kepadanya, “Kamu menggembalakan untuk siapa, wahai anakku, Dia menjawab, “Seorang dari penduduk Madinah.” (Dalam riwayat lain, “dari penduduk Mekkah.”) Aku bertanya, “Apakah kambing yang kamu gembalakan ada air susunya?.” Dia menjawab, “Ya.” Aku berkata, “Apakah dapat diperah?.” Dia menjawab, “Ya.” Lalu dia mengambil seekor kambing. Aku berkata, “Perahlah susunya hingga tidak bersisa dan (hindari) dari tanah, bulu dan debu halus di matanya.” Lalu dia memerah semua air susu yang terkumpul pada setiap persendiannya. Aku memiliki wadah kecil berisi air dan membawanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam untuk beliau minum dan berwudlu darinya.

Aku mendatanginya namun beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam masih tertidur sehingga aku tidak ingin membangunkannya, lalu setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam terjaga barulah aku memberikannya. Aku menuangkan air kesusu sehingga bagian bawahnya menjadi dingin. Lalu aku berkata, “Minumlah, wahai Rasulullah!.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam pun meminumnya hingga aku puas dengan hal itu.

Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata, “Bukankah sudah waktunya berangkat?.” Aku menjawab, “Benar.” Dia (Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu) berkata, “Lalu kamipun berangkat”. (HR. Bukhari)

Lalu kisah lainnya adalah di antara kebiasaan yang dilakukan oleh Abu Bakar adalah selalu membonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam. Hal ini, karena beliau radhiyallahu ‘anhu seorang sepuh yang sudah dikenal sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam masih muda dan belum dikenal. Hingga seorang laki-laki berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, “Siapa laki-laki yang bersamamu ini?”. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Orang ini menunjukiku jalan”. Maksudnya, “menunjuki jalan kebaikan”. Namun orang tersebut mengira hanya sekedar menunjuki jalan (yang ditelusuri).

Kisah lainnya dari hijrah tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang diincar oleh Suraqah bin Malik. Suraqah berkata, “Tatkala aku sedang duduk-duduk di majlis kaumku, Bani Mudlij, datanglah seorang laki-laki dari mereka hingga berdiri di hadapan kami yang masih duduk-duduk sembari berkata, ‘Wahai Suraqah! Barusan aku telah melihat para musuh di pesisir. Aku kira mereka itu Muhammad dan para shahabatnya.” Lalu tahulah aku bahwa memang mereka orangnya. Lantas aku berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya yang kamu lihat bukan mereka akan tetapi kamu melihat sifulan dan sifulan yang berangkat di depan mata kita.” Kemudian aku berdiam di majlis sesaat, lalu berdiri dan masuk lagi. Lantas aku menyuruh budak wanitaku agar mengeluarkan kudaku yang berada di belakang bukit, lalu dia menahannya untukku. Aku mengambil tombakku lantas keluar melalui bagian belakang rumah, aku membuat garis di tanah dengan kepala tombakku, dan menurunkan bagian atasnya hingga aku menghampiri kudaku lantas menunggangnya. Aku mengendalikannya agar membawaku lebih dekat (dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu) hingga aku mendekat dari mereka namun kudaku terjungkal sehingga aku terjatuh darinya, lalu aku berdiri sembari tanganku memegangi busur panah lalu mengeluarkan anak-anak panah lantas mengundinya, apakah aku harus mencelakai mereka atau tidak?. Namun undian yang keluar justeru yang tidak aku sukai (yaitu tidak mencelakai mereka).

Lantas aku menunggangi kudaku lagi dan tidak mempedulikan perihal undian yang keluar tadi, kudaku membawaku mendekat hingga bilamana aku mendengar bacaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam sementara beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam dalam kondisi tidak menoleh, hanya Abu Bakar yang lebih banyak menoleh, maka kedua lengan kudaku terperosok kembali ke dalam perut bumi hingga sebatas lutut yang membuatku terjatuh lagi darinya, kemudian aku menderanya, dan ia pun bangkit lagi namun kedua lengannya itu hampir tidak dapat dikeluarkan. Tatkala ia sudah berdiri tegak, tiba-tiba bekas kedua lengannya tadi menimbulkan debu yang mengepul di langit seperti asap, lantas aku mengundi dengan anak-anak panah lagi, namun sekali lagi yang keluar adalah yang justeru aku benci, lantas aku berteriak memanggil mereka, (lalu mengatakan) bahwa mereka aman.

Merekapun menghentikan langkah, lalu aku menunggangi kudaku hingga menemui mereka. Ketika aku bertemu dan mengingat apa yang aku alami barusan ketika aku hendak mencelakai mereka, terbersitlah di dalam diriku bahwa apa yang dibawa Shallallahu ‘alaihi wassallam ini akan mendapatkan kemenangan. Lalu aku berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya kaummu telah menjadikan tebusan terhadap dirimu. ‘Aku juga memberitahukan mereka perihal apa yang akan diinginkan orang-orang terhadap mereka. Lantas aku menawarkan mereka perbekalan dan barang-barang yang dibutuhkan, namun beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam tidak melakukan tawaran terhadapku dan tidak menanyaiku kecuali hanya berkata, ‘Ringankan harganya dari kami. ‘Lalu aku memintanya agar menuliskan rekomendasi perlindungan untukku, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam memerintahkan ‘Amir bin Fuhairah untuk menuliskannya, lalu dia menulisnya untukku pada secarik kulit. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pun pergi berlalu.”

Dalam riwayat yang lain dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Kami berangkat sementara orang-orang Quraisy mengejar kami namun tidak seorangpun yang berhasil menemui kami selain Suraqah bin Malik bin Ju’syum yang menunggangi kudanya. Lalu aku berkata, ‘Pelacakan ini telah mencapai kita, wahai Rasulullah!.’ Lantas beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam membaca firman-Nya,

Artinya, “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. (QS. At-Taubah : 40)

“Suraqah kemudian pulang dan mendapatkan orang-orang yang masih memburu keduanya. Lalu dia berkata, “Aku sudah mendapatkan berita pasti tentangnya untuk kalian, sehingga sudah cukuplah bagi kalian hingga di sini”. Dalam hal ini, di pangkal hari dia sebelumnya sebagai orang yang gigih mencari keduanya namun di penghujungnya justeru menjadi pelindung bagi keduanya.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, demikianlah pembahasan pada kesempatan kali ini semoga bermanfaat, InsyaaAllah kita lanjutkan pada kesempatan berikutnya. Wallahu a’lam… (red/admin)