Sirah Nabawiyah – Pembaca yang semoga dirahmati Allah, begitu tiba di dalam gua, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, jangan engkau masuk dulu sebelum aku masuk; jika ada sesuatu di dalamnya, maka biarlah aku yang mengalaminya saja”. Kemudian ia pun masuk lalu membersihkannya. Dia menemukan di sampingnya ada beberapa lubang, lantas menyobek kainnya dan menyumbatnya. Namun kainnya tidak cukup, sehingga Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menutup 2 lubang yang masih belum tersumbat dengan kedua kakinya. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu kemudian berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, “Masuklah”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pun masuk dan merebahkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu lalu tertidur. Hal ini dilakukan karena kedekatan beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam dengan sahabatnya tersebut.

Sementara itu, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu disengat kalajengking pada kakinya dari arah lubang (yang disumbat dengan kakinya tadi) namun dia tidak bergerak sedikitpun karena khawatir membangunkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Kondisi ini membuat air matanya menetes hingga membasahi wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Lantas Beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata kepadanya, ‘Ada apa denganmu, wahai Abu Bakar?’, “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rasulullah! Aku telah disengat”, jawabnya. Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam meludah kecil ke arah bekas sengatan tersebut sehingga apa yang dirasakannya hilang sama sekali.

Kemudian keduanya tinggal di dalam gua tersebut selama tiga malam, dari malam Jum’at hingga malam Ahad. Sementara pada malam-malam itu, ‘Abdullah, putra Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma mendampingi mereka berdua. Mengenai hal tersebut, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Dia (Abdulloh bin Abu Bakr radhiyallahu ‘anhuma adalah) seorang anak yang sudah menginjak usia baligh, cerdas dan cepat paham. Dia berjalan mengunjungi keduanya pada penghujung malam supaya tidak diketahui, sehingga dia seakan-akan bermalam dengan orang-orang Quraisy. Semua yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dapat dilaksanakannya dengan baik. Dia membawa berita tentang kondisi Mekkah kepada keduanya ketika malam sudah gelap.

‘Amir bin Fuhairah, mawla Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma menggembalakan kambing perah untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Selain itu, ia juga mengistirahatkan gembalaannya sebentar di malam hari sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dapat meminum dari perahan susu kambing tersebut ketika malam. ‘Amir bin Fuhairah melakukan hal itu selama tiga malam tersebut. Bahkan dengan cerdiknya, setelah ‘Abdullah bin Abu Bakar pulang ke Mekkah, ‘Amir bin Fuhairah menggiring kambingnya untuk mengikuti jejaknya guna menghapus jejak tersebut.

Sementara itu, kaum Quraisy semakin kesal ketika mengetahui secara pasti pada pagi harinya, tentang lolosnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dari eksekusi persekongkolan yang mereka lakukan. Tindakan pertama yang mereka lakukan adalah memukuli ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, menyeretnya ke Ka’bah dan memenjarakannya untuk sesaat sebagai upaya mendapatkan informasi tentang keduanya. Manakala tindakan mereka terhadap ‘Ali radhiyallahu ‘anhu tidak membuahkan hasil, mereka mendatangi rumah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu lalu mengetuk pintunya. Ketika itu, Asma` binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma keluar menemui mereka, lantas mereka berkata kepadanya, “Mana ayahmu?”. “Demi Allah, saya tidak tahu, kemana ayahku”, jawabnya. Kemudian Abu Jahal mengangkat tangannya -dia ini dikenal orang yang berperangai kasar- lantas menampar pipi Asma` radhiyallahu ‘anha hingga menyebabkan anting-antingnya jatuh.

Selanjutnya di dalam sidang istimewanya, orang-orang Quraisy memutuskan untuk menggunakan berbagai sarana guna menangkap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dan sahabat setianya Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Mereka menjadikan semua jalur menuju kota Mekkah dari semua penjuru di bawah pengawasan yang superketat dan bersenjata. Selain itu, mereka juga memutuskan untuk memberikan hadiah besar senilai 100 ekor onta bagi siapa saja yang dapat membawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ke hadapan orang-orang Quraisy, apapun kondisinya, dalam keadaan hidup ataupun mati. Ketika itulah, para pasukan berkuda, pejalan kaki dan pelacak jejak sama-sama bergiat untuk melakukan pencarian dan menyebar sampai ke lereng-lereng perbukitan, lembah, dataran rendah maupun tinggi namun hal itu tidak membuahkan hasil. Bahkan ada sebagian para pelacak tersebut yang telah sampai ke mulut gua Tsur akan tetapi Allah Ta’alaa menolong Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.

Mengenai hal tersebut, dari Anas dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Aku berada di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam di gua, lalu aku mengangkat kepalaku. Ternyata, di situ ada kaki-kaki mereka. Lantas aku berkata, ‘Wahai Rasulullah! Andaikata sebagian mereka menoleh ke bawah pasti dia dapat melihat kita’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam lalu bersabda, ‘Diamlah, wahai Abu Bakar! Kita berdua tapi Yang ketiganya adalah Allah’. Di dalam lafazh riwayat yang lain, ‘Apa pendapatmu, bila ada dua orang sedangkan Yang ketiganya adalah Allah?”. (HR. Bukhari)

Kejadian tersebut merupakan mukjizat yang dianugerahkan oleh Allah kepada nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wassallam dalam rangka memuliakannya padahal para pelacak tersebut hanya beberapa langkah lagi mencapai diri beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam.

Ketika semangat untuk mencari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu sudah mulai mengedur dan aktifitas patroli pemeriksaan sudah dihentikan serta gejolak emosi kaum Quraisy sudah mulai reda, setelah secara kontinyu dan serius pelacakan dilakukan selama tiga hari tanpa membuahkan hasil, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dan shahabat setianya tersebutpun keluar menuju Madinah. Sebelumnya, mereka berdua telah menyewa ‘Abdullah bin Uraiqith al-Laytsiy, yang merupakan gaet berpengalaman di dalam menelusuri jalan. Dia ketika itu masih menganut agama kaum Kafir Quraisy namun keduanya menaruh kepercayaan kepadanya dan menyerahkan kedua onta mereka kepadanya. Setelah itu, mereka berdua membuat perjanjian dengannya untuk bertemu di gua Tsaur setelah tiga malam dengan membawa kedua onta tersebut.

Maka, tatkala malam senin, awal bulan Rabi’ul Awwal tahun 1 H atau bertepatan dengan 16 september tahun 622 M, ‘Abdullah bin Uraiqith menemui keduanya dengan membawa kedua onta itu. Ketika itu, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, “Wahai Rasulullah, gunakanlah salah satu dari dua ontaku ini”. Lalu dia pun menyerahkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam yang terbaik dari keduanya. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam berkata kepadanya, “(Aku akan beli) dengan harga”.

Sementara itu, Asma` binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma mendatangi keduanya dengan membawa bekal makanan namun lupa mengikatnya dengan tali. Tatkala keduanya sudah berangkat, dia pergi untuk mengikat bekal makanan tersebut lalu menyobek ikat pinggannya menjadi dua bagian, satu bagian dia ikatkan ke bekal makanan tersebut dan yang satu lagi untuk dipakainya. Ketika itulah dia dijuluki Dzatun Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang).

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berangkat, ikut serta juga bersama mereka ‘Amir bin Fuhairah. Mereka semua dibimbing oleh ‘Abdullah bin Uraiqith dengan menempuh jalur pantai (pesisir). Begitu keluar dari gua, jalur pertama yang dibidiknya untuk membimbing mereka adalah arah selatan menuju Yaman, kemudian ke arah Barat menuju pesisir. Lalu setelah tembus ke jalan yang tidak pernah dijejaki orang, dia menuju arah utara, dekat pinggir pantai Laut Merah. Jalur ini sangat jarang ditempuh orang. Hingga akhirnya mereka sampai di Quba.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, demikianlah pembahasan pada kesempatan kali ini, semoga menambah kecintaan kita pada Rasulullah dan para Shahabatnya. Insyaa Allah kita akan lanjutkan kisah hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam menuju Bumi Hijrah yakni Madinah al-Munawwaroh pada kesempatan yang akan datang. Wallahu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: