Oleh: Ust. Hawari, Lc., M.E.I.

Pada kesempatan yang berbahagia kali ini, kita akan membahas tentang Peran Muslimah dalam Dakwah. Semoga dengan pembahasan penting kali ini bisa memotivasi kaum muslimah untuk ikut andil dalam dakwah di jalan Allah subhanahu wata’ala melalui berbagai sarana dan media sesuai dengan kemampuan mereka.

Kaum muslimah adalah salah satu benteng dari benteng-benteng Islam yang tidak boleh dirongrong, apalagi dirusak. Di pundak mereka, ada tanggung jawab besar untuk melindungi, mendidik, dan menjaga umat dari berbagai kerusakan yang menyesatkan. Apabila para muslimah senantiasa istiqāmah dalam mengayomi umat, maka seluruh lapisan masyarakat pun akan terlindungi. Kesholihan dan kesucian jiwa mereka merupakan jalan untuk melindungi umat dari kemunduran dan kesenangan menurutkan hawa nafsu.

Karena itulah, maka musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala baik dari kalangan Westernis maupun Sekuleris senantiasa berusaha keras untuk dapat menghancurkan benteng kokoh yang mulia dan memecahkan permata yang belum terjamah ini.

Mereka mulai menyebarkan racun dan rayuan maut untuk menjerumuskan kaum muslimah dari agama dan ketakwaannya. Mereka juga memobilisasi berbagai media massa untuk mengiklankan beragam bentuk perbuatan keji lagi lacur sebagai suatu seni atau sebagai sebuah peradaban. Mereka pun menyebarkan pula peradaban semu yang hina, seperti komoditi seksual, dengan tujuan untuk merubah tatanan masyarakat dan opini publik terhadap kaum muslimah.

Sesungguhnya kita semua dituntut untuk mengetahui dengan seksama bahwa realita umat kita, baik dari segi sosial-masyarakat maupun dari sisi dakwah, menunjukkan satu kesimpulan pasti bahwa kita semua kurang memberikan porsi dan perhatian yang cukup untuk mendakwahi kaum muslimah.

Kitapun melihat bahwa kebanyakan muslimah yang insya Allah shalihah, masih lebih banyak diam dari pada berdakwah kepada sesama muslimah.

Bahkan, kebanyakan mereka hanya pandai mencari berbagai alasan semu atau kambing hitam, agar ketidakmampuan dan sifat diam mereka dapat dilegalkan secara syar’i.

Bukankah secara pasti kita semua mengetahui bahwa rintangan dakwah yang dihadapi oleh kaum wanita lebih banyak daripada yang menimpa saudara-saudaranya, kaum lelaki?

Namun, kenapa masih banyak juga para muslimah yang enggan bahkan bermalas-malasan ikut andil dalam dakwah semampu mereka? Inilah pertanyaan yang seharusnya direnungkan untuk para muslimah.

Marilah sejenak bersama-sama kita merenungi kabar berita di dalam hadits riwayat Bukhari dari Abū Huroiroh radhiyallahu anhu tatkala berkata:

“Ada seseorang wanita berkulit hitam meninggal dunia dan dia adalah orang yang senantiasa menyapu masjid, dan kematiannya belum diketahui oleh Rasulullah. Maka, hari berikutnya beliau diinformasikan tentang hal tersebut, maka beliau berkata, “Apakah yang telah dikerjakannya? Lalu dijawab: Dia telah meninggal, wahai Rasulullah! Beliau berkata: Maukah kalian menginformasikannya lebih lanjut? Maka merekapun menjawab, “Sesungguhnya dia itu begini dan begini –tentang kisah hidupnya–, seakan-akan merendahkannya. Maka beliau berkata, “Tolong tunjukkan kepadaku kuburannya!” Kemudian beliau mendatangi kuburannya dan menyalatkannya”

Subhānallah…seorang wanita yang oleh kebanyakan orang dipandang dengan sebelah mata ataupun hina… Namun nilai kemuliaannya di sisi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sangatlah agung sehingga beliau menanyakan hal-ihwalnya dan juga menyalatkannya.

Wanita tersebut telah menunaikan tugas dan tanggung jawabnya meskipun diang-gap sepele. Akan tetapi, di sisi Allah subhanahu wata’ala merupakan amalan yang agung sehingga berhak mendapatkan pujian dan perhatian dari Rasulullah salallahu alaihi wassalam. Sesungguhnya hal ini adalah suatu bentuk peran serta muslimah dalam medan dakwah. Ia bersungguh-sungguh dalam berkhidmat kepada kaum muslimin dalam menjaga kebersihan tempat ibadah atau masjid.

Itulah gambaran amalan mulia yang berasal dari seorang wanita lemah dalam pandangan orang lain… Namun hatinya adalah hati yang dipenuhi dengan ketaatan yang sanggup untuk melahirkan kesungguhan dan pengorbanan, tanpa disertai perasaan malu atau malas sedikitpun.

Sesungguhnya hal ini adalah suatu bentuk peran dakwah, yang membuat bangga hati orang-orang yang memiliki nurani yang sensitif dalam kebaikan dan senantiasa bergelora untuk berjuang. Maka, diapun bangkit untuk segera mempersembahkan kemampuan dirinya untuk mengharap wajah Allah sunhanahu wata’ala semata. Ia beramal tanpa menunggu orang lain saja yang akan berbuat.

Ternyata banyak sekali pengaruh yang meresap dalam jiwa tatkala kita menyak-sikan kebiasaan yang telah mendarah daging seperti ini; dan ternyata sering kita lihat. Sebaliknya, kita menyaksikan bahwa kebanyakan wanita shalihah – kecuali yang dirahmati Allah- justru berpaling dan menghindar dari amanat dan tanggung jawab yang besar ini.

Banyak sekali medan-medan dakwah yang strategis untuk dimaksimalkan bagi muslimah dalam berdakwah. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, di masyarakat pun sangat butuh andil muslimah untuk berdakwah sesama mereka.

Tidakkah hati kita merasa miris tatkala menyaksikan beragam kerusakan yang menimpa saudari-saudari kita? Tabbaruj, pacaran, gosip, kesyirikan, menyebar di masyarakat kita siang dan malam. Lantas, kenapa kondisi ini kurang direspon oleh para muslimah yang telah diberikan Allah subhanahu wata’ala limpahan hidayah?

Sekaranglah saatnya, kaum muslimah bangkit untuk mulai mempersiapkan diri. Sudah saatnya kaum muslimah ikut andil di medan dakwah sesuai dengan kesanggupan mereka. Sesungguhnya kelalaian muslimah dalam dakwah merupakan kesempatan emas bagi musuh-musuh Allah untuk merusak para pendidik generasi robbani.

Mari satukan langkah untuk terus bergerak dalam dakwah demi membenahi kerusakan umat ini. Semoga Allah subhanahu wata’ala mencatat kita sebagai orang-orang yang jujur dalam berjuang fisabilillah. Amin . Wallahu a’lam.