Siroh Nabawiyah – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, sebagaimana telah kita bahas pada edisi lalu bahwa penindasan demi penindasan terus dilakukan bangsa Quraisy kepada Rosululloh Shallallâhu ‘alaihi wasallam agar beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam menghentikan dakwah tauhid. Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallaahu ‘anhu bahwa pernah suatu hari Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam melakukan shalat di sisi Baitullah (Ka’bah) sedangkan Abu Jahal dan rekan-rekannya tengah duduk-duduk. Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: “Siapa diantara kalian yang akan membawa kotoran onta Bani Fulan lalu menumpahkannya ke punggung Muhammad saat dia sedang sujud?”. Maka bangkitlah ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, sosok yang paling sangar diantara mereka, membawa kotoran tersebut sembari memperhatikan gerak-gerik Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassallam. Tatkala beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam beranjak sujud kepada Alloh Ta’alaa, dia pun menumpahkan kotoran tersebut ke arah punggung beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam di antara dua bahunya. Lalu Aku (Ibnu Mas’ud Rodhiyallohu ‘anhu) meliaht hal itu dan ingin sekali melakukan sesuatu (untuk menghalangi mereka yang sedang melecehkan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam), andai aku memiliki perlindungan. Lalu mereka tertawa sambil masing-masing saling mencolek dan memiringkan badan satu sama lainnya dengan penuh kesombongan dan keangkuhan sedangkan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam masih sujud.

Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam tidak dapat mengangkat kepalanya hingga Fathimah Rodhiyallohu ‘anha datang dan membuang kotoran tersebut dari punggung beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam, barulah beliau mengangkat kepalanya, kemudian beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam berdoa: ‘Ya Alloh! berilah balasan (setimpal) kepada kaum Quraisy tersebut’. Beliau mengucapkannya tiga kali dan doa beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam ini menyesakkan hati mereka. Dia (Ibnu Mas’ud) melanjutkan ceritanya lagi, ‘mereka menganggap bahwa berdoa di negeri itu (Mekkah) adalah mustajabah. Kemudian dalam doanya tersebut, beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam menyebutkan nama mereka satu per-satu: ‘ Ya Alloh! Binasakanlah Abu Jahal, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, al-Walid bin ‘Utbah, Umayyah bin Khalaf, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith – Ibnu Mas’ud menyebutkan yang ke tujuh namun tidak mengingat namanya – .

Kemudian Ibnu Mas’ud Rodhiyallohu ‘anhu melanjutkan kisahnya dengan mengatakkan, Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya! Sungguh aku telah melihat orang-orang yang disebutkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam tewas mengenaskan di al-Qalib , yaitu kuburan di Badar, Madinah (pada peristiwa perang Badar)”. Adapun nama orang yang ke tujuh tersebut adalah ‘Imarah bin al-Walid.

Selanjutnya, lain lagi yang dilakukan oleh Ummayyah bin Khalaf. Bila melihat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, dia langsung mencerca dan mencela beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam. Oleh Karena itu, turunlah terhadapnya firman Alloh Ta’alaa,

Artinya, “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat (al-Humazah) lagi pencela”. (QS. al-Humazah : 1)

Mengenai ayat ini, Ibnu Hisyam Rohimahulloh berkata: “kata al-Humazah maknanya adalah orang yang mencemooh seseorang secara terang-terangan dan tanpa tedeng aling-aling, memain-mainkan kedua matanya sambil mengerdipkannya, sedangkan kata al-Lumazah maknanya adalah orang yang mencela manusia secara sembunyi dan menyakiti hati mereka”.

Selain itu, sama halnya dengan saudara laki-lakinya, Ubay bin Khalaf, mereka berdua seiring dan sejalan dalam kekafiran. Suatu ketika, ‘Uqbah duduk di majlis Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam sambil mendengarkan dakwahnya, namun manakala berita tersebut sampai ke telinga Ubay; dia langsung mencaci dan mencemooh saudaranya tersebut serta memintanya agar meludah ke wajah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, maka diapun melakukannya. Kemudian Ubay sendiri juga tidak mau kalah, dia pun menumbuk tulang belulang yang ada hingga remuk redam lalu meniupkannya ke angin yang berhembus ke arah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Bentuk pelecehan lainnya yang dilakukan para pembenci Tauhid kepada pribadi mulia nana agung Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam adalah apa yang diperbuat oleh al-Akhnas bin Syuraiq at-Tsaqafy yang selalu mengerjai Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam. Untuk itu, al-Quran menyifatinya dengan sembilan sifat yang menyingkap perangainya, yaitu firman Alloh Ta’alaa :

Artinya, “Dan janganlah kalian ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah. Yang enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kaku kasar, dan juga yang terkenal kejahatannya”. (QS. al-Qalam : 10-13)

Pelecehan kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam juga tak ketinggalan dilakukan oleh Abu Jahal, terkadang dia datang kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam dan mendengarkan al-Quran, kemudian berlalu namun hal itu tidak membuatnya beriman, tunduk, sopan apalagi takut. Bahkan dia menyakiti Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam dengan perkataannya, menghadang jalan Alloh Ta’alaa, berlalu lalang dengan angkuh memproklamirkan apa yang diperbuatnya dan bangga dengan kejahatan yang dilakukannya tersebut seakan sesuatu yang enteng saja bahkan ia menganggapnya sebagai hal yang mulia. Terhadapnya turunlah ayat :

Artinya, “Dan ia tidak mau membenarkan (Rosul dan al-Quran) dan tidak mau mengerjakan sholat”. (QS. al-Qiyaamah : 31) dan ayat setelahnya

Selain itu, dia juga selalu mencegah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam untuk melakukan sholat sejak pertama kali melihat beliau Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam melakukannya di Masjid al-Haram. Hingga pada Suatu kali, dia melewati beliau yang sedang melakukan shalat di sisi Maqam (nabi Ibrahim ‘alaihissalaam), lalu berkata: “wahai Muhammad! Bukankah sudah aku larang engkau melakukan ini?”. Kemudain dia mengancam, berbuat kasar serta membentak beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam. Dia berkata kepada beliau:”wahai Muhammad! Dengan apa engkau akan mengancamku? Demi Alloh! bukankah sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak berdoa (memanggil golongannya) di lembah ini (Mekkah)”. Maka dari itu, turunlah ayat:

Artinya, “Maka biarkanlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya). kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah”. (QS. al-‘Alaq : 17-18).

Kemudian Dalam riwayat lain dinyatakan bahwa Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam mencengkeram lehernya dan menggoyang-goyangkannya sembari membacakan firman Alloh:

Artinya, “Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. “. (QS. al-Qiyaamah : 34-35)

Lantas musuh Alloh itu pun berkata: “Engkau hendak mengancamku, wahai Muhammad? Demi Alloh! engkau dan Robbmu tidak akan sanggup melakukan apapun. Sesungguhnya aku-lah seperkasa-perkasanya orang yang berjalan diantara dua gunung di Mekkah ini!”.

Sekalipun sudah membentak-bentak, Abu Jahal tetap tidak pernah kapok dari kekafirannya bahkan semakin bertambah-tambah saja. Berkaitan dengan ini, dari Abu Hurairah Rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata: “Abu Jahal berkata: ‘Apakah Muhammad sujud dan menempelkan jidatnya di tanah (sholat) di depan batang hidung kalian?”. Salah seorang diantara mereka menjawab: “ya, benar!”. Dia berkata lagi: “demi al-Laata dan al-‘Uzza! Sungguh aku akan menginjak-injak lehernya dan membenamkan mukanya (Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam) ke tanah!”. Tak berapa lama, datanglah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam lalu melakukan sholat. Abu Jahal yang sebelumnya berencana akan menginjak-injak leher Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam ketika sholat, namun sebaliknya, yang terjadi sungguh mengagetkan mereka. Abu Jahal malah tidak jadi bergerak maju dan menutupi kedua tangannya untuk berlindung. Mereka lalu bertanya : “wahai Abu Jahal! Ada apa gerangan denganmu?”. Dia menjawab: “Sesungguhnya ada parit dari api, sesuatu yang menakutkan dan sayap-sayap yang memisahkan antara aku dan dia (Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassallam)”. Kemudian Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “andai dia sedikit lagi mendekat kepadaku, niscaya tubuhnya akan disambar malaikat dan terkoyak satu per-satu”. (HR. Muslim)

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah gambaran yang amat mengerikan sehubungan dengan bentuk-bentuk pelecehan dan penganiayaan yang dialami oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam dan kaum Muslimin dari para Thaghut (pemuka kekafiran) kaum Musyrikin yang mendakwa bahwa mereka adalah Ahlulloh (Kekasih atau keluarga Alloh) dan penduduk tanah haram-Nya. Kemudian, bagaimanakah sikap Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam menghadapi kecaman dan penindasan dari kaum Musyrikin Quraisy yang semakin menjadi-jadi? Kita akan simak kelanjutannya dalam kisah selanjutnya. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: