Siroh Nabawiyah – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh,  Tatkala kaum Quraisy melihat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam masih terus melakukan aktivitas dakwahnyanya, tahulah mereka bahwa kedatangan mereka kepada Abu Thalib sia-sia karena ia masih tetap tak berkeinginan untuk mengucilkan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam. Bahkan mereka merasa bahwa Abu Thalib telah bulat hatinya untuk memisahkan diri dan memusuhi Kaum Musyrikin Quraisy. Oleh sebab itu, kembali sebagai upaya membujuk Abu Tholib agar mau menyerahkan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam kepada mereka, mereka membawa ‘Imarah bin al-Walid bin al-Mughirah ke hadapan Abu Tholib, seraya berujar : “wahai Abu Thalib! Sesungguhnya ini ada seorang pemuda yang paling rupawan dan tampan di kalangan kaum Quraisy! Ambillah dia, maka dengan begitu, engkau dapat berbuat sesukamu, mengikatnya atau membebaskannya (membelanya). Jadikanlah dia sebagai anakmu, maka dia jadi milikmu. Lalu serahkan kepada kami keponakanmu (Rosululloh Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassallam) yang telah menyelisihi agamamu dan agama nenek-nenek moyangmu itu, mencerai beraikan persatuan kaummu dan membuyarkan impian mereka, untuk kami bunuh. Ini adalah barter diantara kita dan menjadi impas, seorang (ditukar) dengan seorang“.

Menanggapi hal tersebut, Abu Tholib lantas menjawab: “Demi Alloh! Sungguh tawaran kalian tersebut sesuatu yang murahan! Apakah kalian ingin memberikan kepadaku anak kalian ini agar aku beri makan untuk kepentingan kalian sementara aku memberikan anakku (Rosululloh Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassallam) agar kalian bunuh?. Demi Alloh! ini tidak akan pernah terjadi!“. Kemudain Al-Muth’im bin ‘Adiy bin Naufal bin ‘Abdu Manaf ikut berbicara, ia berkata: “Demi Alloh, wahai Abu Tholib! Kaummu telah berbuat adil terhadapmu dan berupaya untuk membebaskanmu dari hal yang tidak engkau sukai. Jadi, apa sebabnya engkau tidak mau menerima sesuatupun dari tawaran mereka?“. Abu Tholib kembali menjawab, “Demi Alloh! kalian bukannya berbuat adil terhadapku, akan tetapi kalian telah bersepakat menghinakanku dan mengkonfrontasikanku dengan kaum Quraisy. Oleh sebab itu, lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan!“.

Ketika kaum Quraisy gagal dalam perundingan tersebut dan tidak berhasil membujuk Abu Tholib untuk mencegah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam dan mengekang laju dakwahnya kepada Alloh Ta’alaa, maka mereka pun memutuskan untuk memilih langkah yang sebelumnya mereka hindari dan tidak menyerempetnya, karena khawatir akan akibat yang akan datang karena langkah tersebut, yaitu langkah memusuhi pribadi Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Kaum Quraisy membatalkan sikap pengagungan dan penghormatan yang dulu pernah mereka tampakkan terhadap Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam baik sebelum maupun setelah munculnya dakwah Islamiyyah di lapangan. Memang, sungguh sulit merubah sikap yang terbiasa dengan kebengisan dan kesombongan untuk berlama-lama sabar, maka dari itu, mereka mulai langsung mengulurkan tangan permusuhan terhadap Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam. Sebagai buktinya, mereka mulai dengan melakukan berbagai bentuk ejekan, hinaan, pencemaran nama baik dan lain sebagainya.

Dan Tentunya, sudah lumrah bila yang pertama-tama menjadi ujung tombaknya adalah Abu Lahab sebab dia adalah seorang kepala suku Bani Hasyim. Dia tidak pernah memikirkan pertimbangan apapun sebagaimana yang selalu dipertimbangkan oleh tokoh-tokoh Quraisy lainnya. Dia adalah musuh bebuyutan Islam dan para pemeluknya kendati ia salah seorang paman Rosul. Sejak pertama, dia sudah menghadang dakwah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam sebelum kaum Quraisy berkeinginan melakukan hal itu. Kita telah membahas bagaimana prilaku Abu Lahab terhadap Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam di majlis Bani Hasyim dan di bukit Shofa. Padahal sebelum beliau Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam diutus menjadi Rosul, Abu Lahab telah mengawinkan kedua anaknya, ‘Utbah dan ‘Utaibah dengan kedua putri Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam; Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Namun tatkala beliau diutus menjadi Rosul, dia memerintahkan kedua anaknya tersebut agar menceraikan kedua putri beliau Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam dengan cara yang kasar dan keras, hingga akhirnya terjadilah perceraian itu.

Bukan hanya itu saja kebencian yang Abu Lahab kepada Dakwah Tauhid ini, bahkan ketika ‘Abdullah, putra kedua Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam wafat, Abu Lahab amat gembira dan mendatangi semua kaum Musyrikin untuk memberitakan perihal Muhammad yang sudah menjadi Abtar (orang yang terputus nasabnya dan terputus dari rahmat Alloh). Oleh karena itu, Alloh Ta’alaa menurunkan ayat ke-3, dari surat al-Kautsar, yang berbunyi,

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.(QS. Al-Kautsar : 3)

Sebagaimana dalam pembahasan sebelumnya, Abu Lahab memang selalu menguntit di belakang Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam saat musim haji dan di pasar-pasar sebagai upaya mendustakannya. Dalam hal ini, Thariq bin ‘Abdullah al-Muhariby Rodhiyallohu ‘anhu meriwayatkan suatu berita yang intinya bahwa yang dilakukan Abu Lahab tidak sekedar mendustakan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, akan tetapi lebih dari itu, dia juga memukul beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam dengan batu hingga kedua tumit beliau berdarah. Bukan hanya itu, Isteri Abu Lahab pun, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah saudara perempuan Abu Sufyan, tidak kalah frekuensi permusuhannya terhadap Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam dibanding sang suami. Dia pernah membawa dedurian dan menebarkannya di jalan yang dilalui oleh Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam, Bahkan pernah pula, di depan pintu rumah beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam pada malam harinya. Dia adalah sosok perempuan yang judes. Lisannya selalu dijulurkan untuk mencaci beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam, mengarang berita dusta dan berbagai isu buruk tentang beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam, menyulutkan api fitnah serta mengobarkan perang membabi buta terhadap dakwah Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam. Oleh karena itulah, Al-Qur’an menyifatinya dengan Hammaalatal Hathab (wanita pembawa kayu bakar). Alloh Ta’alaa berfirman,

Artinya, “dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. yang di lehernya ada tali dari sabut.(QS. Al-Lahab : 4-5)

Kemudian Ketika dia mendengar ayat Al-Qur’an yang turun mengenainya dan suaminya, dia langsung mendatangi Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam yang sedang duduk-duduk bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq Rodhiyallohu ‘anhu. Dia pun telah membawa segenggam batu ditangannya untuk mencelakakan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, namun ketika dia berdiri di hadapan keduanya, Alloh Azza wa Jalla membutakan pandangannya dari beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam sehingga dia tidak melihat selain Abu Bakar, lantas dia berkata: “wahai Abu Bakar! Mana shahabatmu itu? Aku mendapat berita bahwa dia telah mengejekku (maksudnya dengan diturunkannya surat al-Lahab). Demi Alloh! andai aku menemuinya niscaya akan aku tampar mulutnya dengan segenggam batu ini. Demi Alloh! Bukankah sesungguhnya aku ini seorang Penyair?. Kemudian dia menguntai bait berikut (artinya):

Si tercela yang kami tentang,

Urusannya yang kami tolak,

Diennya yang kami benci

Kemudian dia berlalu. Setelah kepergiannya, Abu Bakar Rodhiyallohu ‘anhu lantas berkata, “wahai Rosululloh! Bukankah engkau melihatnya dan ia juga dapat melihatmu?“. Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam menjawab: “Dia tidak dapat melihatku. Sungguh! Alloh telah membutakan pandangannya dariku“.

Demikianlah yang dilakukan oleh Abu Lahab padahal ia adalah paman Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam sekaligus tetangganya, rumahnya menempel dengan rumah beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam. Namun kedekatan nasabnya, tidak menjadikannya orang yang lembut. Ia Sama seperti tetangga-tetangga beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam yang lain yang selalu mengganggu beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam padahal beliau tengah berada di dalam rumah.

Mengenai hal ini, Ibnu Ishaq Rohimahulloh berkata: “Mereka yang selalu mengganggu Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam saat beliau berada di rumah tersebut adalah Abu Lahab, al-Hakam bin Abi al-‘Ash bin Umayyah, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, ‘Adiy bin Hamra’ ats-Tsaqafy dan Ibnu al-Ashda’ al-Hazaly. Semuanya adalah tetangga-tetangga beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam namun tak seorangpun diantara mereka yang masuk Islam kecuali al-Hakam bin Abi al-‘Ash. Bahkan Salah seorang diantara mereka ada yang melempari beliau dengan isi perut (kotoran) kambing saat beliau tengah melakukan sholat. Yang lain lagi, bila priuk milik beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam –yang terbuat dari batu- tengah dipanaskan (untuk memasak), maka mereka masukkan bangkai ke dalamnya. Hal ini, membuat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam memasang tabir agar dapat terlindungi dari kejahatan mereka manakala Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam tengah melakukan sholat. Bila usai mereka melakukan kejahatan tersebut, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam membawa kotoran dan bangkai tersebut keluar dan meletakkannya diatas sebatang ranting, kemudian berdiri di depan pintu rumah beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam lalu bersabda, “wahai Bani ‘Abdi Manaf! Tetangga-tetangga model apa yang seperti ini (jahat) kelakuannya?“. Kemudian kotoran-kotoran tersebut beliau lempar ke jalan.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, tidak cukup sampai disitu, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith malah melakukan hal yang lebih buruk dan busuk dari itu semua kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam. apakah yang dilakukannya? Kita akan simak kelanjutannya pada edisi yang akan datang? Insya Alloh. Wallohu a’lam(red/admin)

%d blogger menyukai ini: