Pejabat dari Myanmar dan Bangladesh melakukan pertemuan pada Senin (15/01/2018) kemarin untuk membahas bagaimana menerapkan kesepakatan mengenai pemulangan lebih dari 600.000 Muslim Rohingya yang melarikan diri dari tindakan keras tentara Myanmar sejak akhir Agustus 2017.

Berkaitan dengan rencana pemulangan tersebut, banyak warga etnis Rohingya pesimis melihat apa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Pemulangan pernah terjadi pada tahun 1992, namun warga etnis Rohingya harus mengalami pengusiran kembali pada tahun 2017.

Salah seorang pengungsi bernama Husain mengatakan bahwa pihak berwenang Bangladesh telah meyakinkan mereka bahwa Myanmar akan mengembalikan hak-hak mereka dan bisa hidup dengan damai. Tapi Husain menandaskan bahwa tak ada yang berubah ketika dia kembali ke Myanmar.

Myanmar yang mayoritas penduduknya beragama Buddha telah bertahun-tahun menolak kewarganegaraan Rohingya, membatasi gerak dan akses mereka terhadap banyak layanan dasar seperti perawatan kesehatan dan pendidikan. Mereka dianggap sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.

(arrahmah.com)

%d blogger menyukai ini: