Tazkiyatun Nafs – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini, kita akan kembali melanjutkan pembahasan mengenai “Pengaruh Teman Bergaul”.

Pada edisi yang lalu sudah dijelaskan mengenai manfaat berteman dengan orang yang sholih. Yaitu teman yang sholih akan senantiasa menjaga dari maksiat, dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, serta meninggalkan kejelekan. Dia juga akan senantiasa menjaga kita baik ketika bersama kita maupun tidak, dia juga akan member kita manfaat dengan kecintaanya dan do’anya kepada kita, baik ketika kita masih hidup maupun setelah kita tiada. Dia juga akan membantu menghilangkan kesulitan kita karena persahabatannya dengan kita dankecintaanya kepadakita. Adapun kelanjutannya, bergaul dengan teman yang buruk juga ada dua kemungkinan yang kedua-duanya buruk. Yang pertama kita akan menjadi jelek, dan yang kedua kita akan ikut memperoleh kejelekan yang dilakukan teman kita. Syaikh As Sa’di Rohimahulloh juga menjelaskan bahwa berteman dengan teman yang buruk memberikan dampak yang sebaliknya. Orang yang bersifat jelek dapat mendatangkan bahaya bagi orang yang berteman dengannya, dapat mendatangkan keburukan dari segala aspek bagi orang yang bergaul bersamanya.

Sungguh betapa banyak kaum yang hancur karena sebab keburukan-keburukan mereka, dan betapa banyak orang yang mengikuti sahabat-sahabat mereka menuju kehancuran, baik mereka sadari maupun tidak. Oleh karena itu, sungguh merupakan nikmat Alloh‘Azza wa Jalla yang paling besar bagi seorang hamba yang beriman, yaitu Alloh ‘Azza wa Jalla memberinya taufik berupa teman yang baik.

Sebaliknya, hukuman bagi seorang hamba adalah, Alloh ‘Azza wa Jalla mengujinya dengan teman yang buruk.

Kita bisa mencontoh kepada tauladan kita Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, Beliau menjadikan teman sebagai patokan terhadap baik dan buruknya agama seseorang. Oleh sebab itu, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam memerintahkan kepada kita agar memilih teman dalam bergaul. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Seseorang itu sesuai dengan akhlak teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya”. (HR. Abu Daud danTirmidzi)

Memilih teman yang jelek akan menyebakan rusaknya agama seseorang. Jangan sampai kita menyesal pada hari kiamat nanti karena pengaruh teman yang jelek, sehingga tergelincir dari jalan kebenaran dan terjerumus dalam kemaksiatan. Kita renungkan firman Alloh ‘Azza wa Jalla, yang berbunyi,

Artinya, “Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rosul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu dating kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia”.

Mari kita renungkan bersama, bagaimana Alloh ‘Azza wa Jalla menggambarkan seseorang yang telah menjadikan orang-orang yang jelek akhlaknya sebagai teman-temannya di dunia, sehingga di akhirat menyebabkan penyesalan yang sudah tidak berguna lagi.

Ibnu Qudamah Al Maqdisi Rohimahulloh pernah berkata,

“Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat, yaitu orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan pembuat perkara baru dalam agama, dan bukan orang yang rakus dengan dunia”.

Kemudian beliau menjelaskan, “Akal merupakan modal utama. Tidak ada kebaikan berteman dengan orang yang bodoh. Karena orang yang bodoh, dia ingin menolongmu tapi justeru dia malah mencelakakanmu. Yang dimaksud dengan orang yang berakal adalah orang yang memahami segala sesuatu sesuai dengan hakekatnya, baik dirinya sendiri atau tatkala dia menjelaskan kepada orang lain. Teman yang baik juga harus memiliki akhlak yang mulia. Karena betapa banyak orang yang berakal dikuasai oleh rasa marah dan tunduk pada hawa nafsunya, sehingga tidak ada kebaikan berteman dengannya. Sedangkan orang yang fasik, dia tidak memiliki rasa takut kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Orang yang tidak mempunyai rasa takut kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, tidak dapat dipercaya dan kita tidak aman dari tipu dayanya.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: