Tazkiyatun Nafs – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini, kita akan kembali melanjutkan pembahasan mengenai “Namimah atau mengadu domba”.

Pada edisi sebelumnya sudah dijelaskan mengenai dosa bagi pelaku namimah, yaitu jika perbuatan ini dilakukan terus menerus termasuk ke dalam dosa besar, atau al-kabair.

Dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam pernah melewati salah satu sudut kota Madinah atau Makkah, lalu Beliau mendengar suara dua orang yang sedang diazab di kubur. Beliau pun bersabda,

Artinya, “Mereka berdua sedang disiksa. Mereka telah melakukan satu dosa dan menganggap bahwa itu bukan perkara besar, namun sesungguhnya itu perkara besar. Orang yang pertama disiksa karena tidak menutupi diri ketika kencing. Adapun orang yang kedua disiksa karena suka mengadu domba atau namimah”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Adapun kelanjutannya.…

Imam An-Nawawi Rohimahulloh berkata, “Dan setiap orang yang disampaikan kepadanya perkataan namimah, dikatakan kepadanya, “Fulan telah berkata tentang mu begini begini, atau melakukan ini dan ini terhadap mu, maka hendaklah ia melakukan enam perkara berikut,

Yang pertama. Tidak membenarkan perkataannya. Karena tukang namimah adalah orang fasik.

Yang kedua. Mencegahnya dari perbuatan tersebut, menasehatinya dan mencela perbuatannya.

Yang ketiga. Membencinya karena Alloh, karena ia adalah orang yang dibenci di sisi Alloh. Maka wajib membenci orang yang dibenci oleh Alloh.

Yang keempat. Tidak berprasangka buruk kepada saudaranya yang dikomentari negatif oleh pelaku namimah.

Yang kelima. Tidak memata-matai atau mencari-cari aib saudaranya dikarenakan namimah yang didengarnya.

Dan yang keenam. Tidak membiarkan dirinya ikut melakukan namimah tersebut, sedangkan dirinya sendiri melarangnya. Janganlah ia menyebarkan perkataan namimah itu dengan mengatakan, “Fulan telah menyampaikan pada ku begini dan begini”. Dengan begitu ia telah menjadi tukang namimah karena ia telah melakukan perkara yang dilarang tersebut”.

Apakah semua bentuk berita tentang perkataan atau perbuatan orang dikatakan namimah?. Jawabannya, tidak. Bukan termasuk namimah seseorang yang mengabari orang lain tentang apa yang dikatakan tentang dirinya apabila ada unsur maslahat di dalamnya. Hukumnya bisa sunnah atau bahkan wajib bergantung pada situasi dan kondisi. Misalnya, melaporkan pada pemerintah tentang orang yang mau berbuat kerusakan, orang yang mau berbuat aniaya terhadap orang lain, dan lain-lain.

Imam An-Nawawi Rohimahulloh berkata, “Jika ada kepentingan menyampaikan berita, maka tidak ada halangan menyampaikannya. Misalnya jika ia menyampaikan kepada seseorang bahwa ada orang yang ingin mencelakakannya, atau keluarga atau hartanya”.

Lalu pada kondisi seperti apa menyebarkan berita menjadi tercela?. Yaitu ketika ia bertujuan untuk merusak. Adapun bila tujuannya adalah untuk memberi nasehat, mencari kebenaran dan menjauhi atau mencegah gangguan maka tidak mengapa. Akan tetapi terkadang sangat sulit untuk membedakan keduanya. Bahkan, meskipun sudah berhati-hati, ada kalanya niat dalam hati berubah ketika kita melakukannya. Sehingga, bagi yang khawatir adalah lebih baik untuk menahan diri dari menyebarkan berita.

Imam Asy-Syafi’i Rohimahulloh berkata, “Seseorang selayaknya memikirkan apa yang hendak diucapkannya. Dan hendaklah dia membayangkan akibatnya. Jika tampak baginya bahwa ucapannya akan benar-benar mendatangkan kebaikan tanpa menimbulkan unsur kerusakan, serta tidak menjerumuskan kedalam larangan, maka dia boleh mengucapkannya. Jika sebaliknya, maka lebih baik dia diam”.

Lalu, bagaimana cara melepaskan diri dari perbuatan namimah?.

Janganlah rasa tidak suka atau hasad kita pada seseorang menjadikan kita berlaku jahat dan tidak adil kepadanya, termasuk dalam hal ini adalah namimah. Karena betapa banyak perbuatan namimah yang terjadi karena timbulnya hasad di hati. Lebih dari itu, hendaknya kita tidak memendam kedengkian kepada saudara kita sesama Muslim. Hasad serta namimah adalah akhlak tercela yang dibenci oleh Alloh karena dapat menimbulkan permusuhan, sedangkan Islam memerintahkan agar kaum Muslimin bersaudara dan bersatu bagaikan bangunan yang kokoh.

Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bermusuhan, dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudara mu kepada orang lain, dan jadilah kamu hamba-hamba Alloh yang bersaudara”. (HR. Muslim)

Maka dari itu, kita perlu berusaha dan bersungguh-sungguh untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tidak berguna, apalagi dari perkataan yang karenanya saudara kita tersakiti dan terdzolimi. Bukankah mulut seorang Mukmin tidak akan berkata kecuali yang baik?.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla selalu melindungi kita dari kejahatan lisan kita, dan tidak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang merugi di akhirat, dikarenakan lisan yang tidak terjaga, “YaAlloh, sesungguhnya kami berlindung kepada mu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, dan hatiku”. Wallohua’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: