Muslimah – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada pembahasan sebelumnya telah kami sampaikan empat hal yang berkaitan dengan adab-adab atau etika islami ketika kita bermuamalah atau bergaul dengan tetangga, berikut ini adalah lanjutan adab-adab yang harus kita perhatikan ketika hidup bertetangga.

Adab yang kelima,  mendahulukan tetangga dekat.

Sesungguhnya tetangga yang masih kerabat memiliki hak yang lebih besar daripada tetangga yang bukan kerabat. Alloh Azza wa Jalla berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ

“Sembahlah Alloh dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya kalian”. (QS. An-Nisa : 36)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rohimahulloh menjelaskan dalam tafsirnya, “bahwa yang dimaksud tetangga dekat adalah tetangga yang masih memiliki hubungan nasab atau keluarga, sedangkan tetangga jauh adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan nasab. Maka tetangga dekat memiliki dua hak yaitu hak sebagai keluarga dan hak sebagai tetangga. Sementara tetangga jauh hanya memiliki satu hak saja yaitu hak sebagai tetangga. Maka selayaknya seorang muslimah mengutamakan tetangga dekat terlebih dahulu. Demikian juga tetangga yang paling dekat letak rumahnya dengan kita memiliki hak yang lebih besar daripada tetangga yang jauh letak rumahnya.”

Dari ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘anha berkata, “Saya pernah bertanya kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam;

يَا رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ لِي جَارَيْنِ، فَإِلىَ أَيِّهِمَا أُهْدِي؟

Wahai Rosululloh, Saya mempunyai dua tetangga, kepada siapa saya memberi hadiah?”

Beliau menjawab,

Berilah hadiah kepada tetangga yang rumahnya paling dekat denganmu.” (HR. Bukhori)

Adab yang keenam, adalah bersabar atas gangguan dari tetangga.

Dan hendaklah seorang muslimah bersabar jika mendapati perlakuan tidak baik dari tetangga serta memaafkan dan tidak membalasnya. Dan janganlah mengedepankan emosi jika salah satu putranya bertengkar dengan putra tetangganya kemudian bersikap acuh terhadap tetangganya, namun ia seharusnya mendamaikan dan berlapang dada. Bergembiralah menjadi tetangga yang penyantun dan kasih, bergembiralah dengan kesabaranmu karena engkau akan mendapatkan pahala dan memperoleh keridhoan Alloh Azza wa Jalla .

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda:

Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Alloh -disebutkan diantaranya- Sesorang yang mempunyai tetangga, ia selalu disakiti atau diganggu oleh tetangganya, namun ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian.” (HR. Ahmad)

Dari Abu Hurairah Rodhiyallohu ‘anhu berkata, “Seseorang datang kepada Rosululloh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam  mengadukan tetangganya. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam  bersabda kepadanya, “Bersabarlah!” Ketiga atau keempat kalinya beliau bersabda: “Buanglah barang-barangmu di jalan.” Dia membuang barang-barangnya dan orang-orang mengerumuninya dan bertanya: “Ada apa denganmu?” Dia menjawab: “Tetanggaku menyakitiku, sehingga orang-orang melaknatnya. Tetangganya tersebut mendatanginya dan berkata: “Kembalikan barang-barangmu ke dalam rumah, demi Alloh! Aku tidak akan kembali menyakitimu.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Adab yang ketujuh,  adalah tidak boleh mengganggu dan menyakiti tetangga.

Wahai saudariku muslimah! Janganlah engkau menyakiti atau menganggangu tetanggamu. Hendaknya engkau peka terhadap sikap yang engkau perlihatkan dan suara yang engkau perdengarkan kepada tetanggamu.

Janganlah bangunan yang engkau bangun membuat mereka terhalang dari sinar matahari atau udara. Janganlah sampai bangunan tersebut melampaui batas tanahnya, sehingga bisa merusak atau mengubah hak miliknya karena hal tersebut akan menyakiti hatinya.

Jangan pula engkau mengganggu tetanggamu dengan mengotori halaman mereka atau menutup jalan bagi mereka. Dan hendaknya seorang muslimah tidak mencari-cari kesalahan dan kekeliruan serta tidak pula bahagia bila tetangga berbuat salah. Muslimah yang baik mesti  merahasiakan kekurangan yang ada pada tetangganya.

Wahai saudariku! Janganlah engkau membuat kegaduhan yang mengganggu mereka. Janganlah mengeraskan suara radio, TV atau suara yang sejenis sehingga mengganggu kegiatan mereka atau mengganggu istirahat mereka ketika sakit. Bahkan sekalipun yang diperdengarkan adalah bacaan al-Qur’an, selama hal tersebut mengganggu tetangga maka berarti dia telah berbuat zhalim. Sungguh tetangga yang jahat akan dijauhkan dari nikmatnya iman.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam  bersabda,

وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِنُ. قِيْلَ: وَ مَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ : الَّذِيْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Demi Alloh, tidak beriman. Demi Alloh, tidak beriman. Demi Alloh, tidak beriman!” Nabi ditanya, “Siapa, wahai Rosululloh?” Nabi menjawab,”Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatannya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Adab yang kedelapan,  tidak boleh berperilaku jahat kepada tetangga.

Perbuatan buruk ke tetangga mendapat ganjaran dosa berlipat ganda. Hal ini berdasarkan sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam, ketika beliau bertanya kepada para sahabat, “Apa pendapatmu tentang hukum zina?” Mereka menjawab, “Haram.”

Lalu beliau bersabda,

لَأنْ يَزْنـِيَ الرَجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ أيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أنْ يَزْنـِيَ بِامْرَأةٍ جَارِهِ

Seseorang berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan dibanding jika ia berzina dengan istri tetangganya.”

Lalu Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam bertanya lagi, “Apa pendapatmu tentang hukum mencuri?” Mereka menjawab, “Haram.” Lalu, nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam  bersabda,

لَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ

Seseorang mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan dosanya dibanding jika ia mencuri dari rumah tetangganya.” (HR. Ahmad)

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, agar tidak disalahpahami hadits ini bukanlah berarti zina dan mencuri kepada selain tetangga tidak berdosa. Bahkan ia juga berdosa, sebagaimana dalam hadits yang disebutkan tadi. Namun, perbuatan itu semakin keras ancaman dosanya ketika dilakukan terhadap tetangga. Wallohu ‘alam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: