Muslimah – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, Alloh Azza wa Jalla yang Maha Bijaksana telah mewajibkan setiap anak untuk berbuat baik kepada orang tuanya. Berbuat baik yakni al-Birru adalah kalimat umum yang meliputi seluruh kebaikan dan perlakuan baik, berlaku untuk laki-laki dan perempuan. Durhaka kepada orang tua kebalikan dari berbuat baik, ia termasuk deretan dosa besar. Orang yang durhaka kepada orang tua dilaknat oleh Alloh Ta’alaa diancam api neraka, tidak akan mendapat aroma surga, tidak akan dilihat oleh Alloh Ta’alaa, tidak akan dibersihkan dari dosanya dan baginya adzab yang pedih.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda:

Artinya, “Maukah kalian aku tunjukkan dosa yang paling besar? “Kami menjawab, “mau, wahai Rosululloh. Beliau bertanya tiga kali dan bersabda, “Syirik kepada Alloh dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Berikut adalah adab-adab yang harus anda perhatikan ketika berinteraksi atau bermuamalah dengan orang tua,

Adab yang pertama adalah mendo’akan kedua orang tua.

Alloh Ta’alaa berfirman:

Artinya, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Robbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isro’ : 24)

Seandainya orang tua masih berbuat syirik, kita tetap harus berlaku lemah lembut kepada keduanya, dengan harapan agar keduanya kembali kepada tauhid.

Dalam riwayat Muslim disebutkan, bahwa Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘anhu senantiasa berdo’a kepada Alloh agar ibunya masuk Islam, sampai suatu ketika Abu Hurairoh meminta bantuan kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam supaya berdo’a untuk ibunya agar masuk Islam, sehingga dengan doa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam tersebut akhirnya ibu Abu hurairoh bersyahadat masuk Islam didepan anaknya.

Adab yang kedua adalah berkata kepada kedua orangtua dengan perkataan yang lemah lembut.

Seorang muslimah tidak boleh menghardik dan membentak kedua orang tuanya. Akan tetapi hendaknya dia berbicara kepada orang tuanya dengan penuh santun dan adab.

Alloh Ta’alaa berfirman:

Artinya, “Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isro’ : 23)

Janganlah sekali-kali anda menyakiti hati orang tua dengan ucapan kasar, sebab jika mereka mendo’akan keburukan kepada anda, niscaya do’a mereka mustajab.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda:

Artinya, “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu do’a orang yang dizholimi, do’a orang yang bepergian atau safar dan do’a orang tua kepada anaknya.” (HR. Ibnu Majah)

Hal itu dibuktikan dalam kisah Juraij. Kisah ini menunjukkan bahwa do’a keburukan yang dipanjatkan oleh ibunya pada Juraij terkabul.

Diriwayatkan dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata, “Seorang yang bernama Juraij sedang mengerjakan ibadah di sebuah sauma atau tempat ibadah. Lalu ibunya datang memanggilnya, “Humaid berkata, “Abu Rafi’ pernah menerangkan kepadaku mengenai bagaimana Abu Hurairah Rodhiyallohu ‘anhu meniru gaya ibu Juraij ketika memanggil anaknya, sebagaimana beliau mendapatkannya dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam yaitu dengan meletakkan tangannya di bagian kepala antara dahi dan telinga serta mengangkat kepalanya, “Hai Juraij! Aku ibumu, jawablah panggilanku”. Ketika itu perempuan tersebut mendapati anaknya sedang sholat. Dengan keraguan Juraij berkata kepada diri sendiri, “Ya Alloh, ibuku atau sholatku”. Tetapi Juraij telah memilih untuk meneruskan sholatnya. Tidak berapa lama selepas itu, perempuan itu pergi untuk yang kedua kalinya. Beliau memanggil, “Hai Juraij ! Aku ibumu, jawablah panggilanku”. Juraij bertanya lagi kepada diri sendiri, “Ya Alloh, ibuku atau sholatku”. Tetapi beliau masih lagi memilih untuk meneruskan sholatnya. Oleh karena terlalu kecewa akhirnya perempuan itu berkata, “Ya Alloh, sesungguhnya Juraij adalah anakku. Aku sudah memanggilnya berulang kali, namun ternyata ia enggan menjawabnya. Ya Alloh, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia mendapat fitnah yang disebabkan oleh perempuan pelacur”. Pada suatu hari seorang pengembala kambing sedang berteduh di dekat tempat ibadah Juraij yang letaknya jauh terpencil dari orang ramai. Tiba-tiba datang seorang perempuan dari sebuah dusun yang juga sedang berteduh di tempat tersebut. Kemudian keduanya melakukan perbuatan zina, sehingga melahirkan seorang anak. Ketika ditanya oleh orang ramai, “Anak dari siapakah ini ?”. Perempuan itu menjawab. “Anak dari penghuni tempat ibadah ini”. Lalu orang ramai berduyun-duyun datang kepada Juraij. Mereka membawa besi perajam. Mereka berteriak memanggil Juraij, yang pada waktu itu sedang sholat. Maka sudah tentu Juraij tidak melayani panggilan mereka, akhirnya mereka merobohkan bangunan tempat ibadahnya. Tatkala melihat keadaan itu, Juraij keluar menemui mereka. Mereka berkata kepada Juraij. “Tanyalah anak ini”. Juraij tersenyum, kemudian mengusap kepala anak tersebut dan bertanya. ‘Siapakah bapakmu?”. Anak itu tiba-tiba menjawab, “Bapakku adalah seorang pengembala kambing”. Setelah mendengar jawaban jujur dari anak tersebut, mereka kelihatan menyesal, lalu berkata,  “Kami akan mendirikan tempat ibadahmu yang kami robohkan ini dengan emas dan perak”. Juraij berkata, “Tidak perlu, biarkan ia menjadi debu seperti asalnya”. Kemudian Juraij meninggalkannya”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Dari hadits yang mulia ini, dapat kita ambil ibroh dan mauidzhoh bahwa melayani panggilan, ajakan, seruan, perintah orang tua mesti didahulukan di atas segala-galanya termasuk menangguhkan sholat ketika mendengar panggilan orang tua. Wallohu a’lam(red/admin)

%d blogger menyukai ini: