Muslimah – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, menjaga lisan merupakan suatu hal yang sangat berarti, apalagi bagi kaum muslimah, hendaklah kita senantiasa berhati-hati dari terlalu banyak berbicara dan berceloteh dalam hal-hal yang tidak bermanfaat baik untuk kehidupan kita di dunia terlebih kehidupan akhirat kita.

Syari’at Islam yang Alloh turunkan dengan penuh kesempurnaan, telah memberikan arahan agar selamat dari terjerumusnya lisan ini ke dalam perbuatan dosa dan maksiat, di antaranya yaitu,

Menjauhi ghibah, ghibah yaitu membicarakan orang lain tentang sesuatu yang tidak disukainya. Saudariku yang berbahagia, ghibah atau menggunjing merupakan perbuatan yang dilarang oleh Islam.

Ghibah juga merupakan perbuatan dosa besar, dalam hal ini Alloh Ta’alaa menyamakan orang yang melakukan ghibah dengan orang yang memakan bangkai saudaranya. Berkaitan dengan hal ada hadits dari ‘Amr bin Ash Rodhiyallohu ‘anhu berjalan bersama para sahabatnya melewati seekor bangkai keledai kemudian beliau berkata:

أَنْ يَأْكُلَ الرَّجُلُ مِنْ هٰذَا حَتَّى يَمْلأَ بَطْنَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

Artinya, “Sungguh seorang memakan bangkai ini hingga memenuhi perutnya lebih baik baginya daripada memakan daging seorang muslim”. (HR. Bukhori)

Kemudian menjauhkan lisannya dari mencaci, hal ini karena muslimah yang baik akan menjadi tauladan bagi muslimah yang lainnya. Dan sudah semestinya kita sebagai muslimah tidak mencaci yang lainnya, dan tidak mengucapkan kecuali perkataan baik. Berkaitan dengan hal ini telah disebutkan tentang larangan mencaci. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

سِبَابُ اْلمُسْلِمِ فُسُوْقٌ

Artinya, “Mencaci-maki seorang muslim adalah perbuatan keji atau kefasikan”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Kemudian hendaknya seorang muslimah menjauhi namimah, namimah yaitu menyebarkan pembicaraan di tengah-tengah orang agar terjadi pertengkaran antar mereka.

Perbuatan namimah merupakan hal yang paling banyak menimbulkan kerusakan dan kejahatan. Karena memunculkan berbagai masalah, permusuhan, kedzhaliman, dan terputusnya silaturahim.

Dalam hadits di sebutkan bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ  

Artinya, “Tidak akan masuk surge pengadu domba”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Sedangkan dalam riwayat lain Beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam juga bersabda,

شِرَارُ عِبَادِ اللهِ الْمُشَاؤُوْنَ بِالنَّمِيْمَةِ، الْمُفَرِّقُوْنَ بَيْنَ اْلأَحِبَّةِ

Artinya, “Seburuk-buruk hamba Alloh adalah tukang fitnah, yakni orang yang mencerai-beraikan orang yang saling mencintai”. (HR. Ahmad)

Kemudian hal-hal yang harus dijauhi oleh muslimah yang lainnya yaitu tidak menghina.

As-Sukhriyyah atau mencela yaitu merasa tinggi dari orang lain dan menghina serta meremehkan mereka dengan mengungkapkan kekurangannya, baik dengan perkataan atau dengan tindakan. Termasuk menghina dalam ayat ini yaitu memanggil orang lain dengan nama yang dia tidak suka. Dan ini tidak sepantasnya dilakukan oleh kaum muslimah, karena perbuatan tersebut bisa melukai perasaan orang lain.

Kemudian hal lainnya yang mesti di jauhi oleh muslimah yaitu tidak menyebarkan rahasia. Kita harus menjaga amanah dan termasuk amanah yaitu menjaga rahasia, maka kita tidak sepantasnya menyebarkan rahasia sendiri atau rahasia orang lain.

Berkaitan dengan hal ini diriwayatkan bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Cukuplah orang dikatakan berdusta jika menceritakan apa yang ia dengar”. (HR. Muslim)

Kemudian ‘Umar bin Khotthob Rodhiyallohu ‘anhu juga menasehati, “Hati adalah gudang rahasia, bibir adalah gemboknya. Lisan menjadi kuncinya. Maka setiap orang hendaknya menjaga kunci rahasianya”.

Kemudian di antara sifat yang senantiasa melekat dalam diri seorang muslimah yaitu selalu jujur dan jauh dari dosa. Sesungguhnya kedustaan merupakan dosa besar. Dusta juga merupakan bentuk penyembunyiaan yang sebenarnya dan menampakan bukan yang sebenarnya. Dusta pun termasuk nifak dan fujur atau kemaksiatan yang bisa menjerumuskan pelakunya ke neraka.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَاْلكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى اْلفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

Artinya, “Hati-hatilah kalian dari berkata dusta, sesungguhnya perkataan dusta mengantarkan perbuatan keji, sedangkan perbuatan keji mengantarkan pelakunya ke api neraka”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Jika kita telah membiasakan kejujuran maka ini akan menumbuhkan ketakwaan dan rasa takut kita kepada Alloh Ta’alaa. Jiwa kita akan dipenuhi dengan kebeningan dan ketenangan. Menjauhkan kita dari permasalahan. Dan jika kita berdusta hakikatnya bukan menyelamatkan namun akan mengundang kedustaan berikutnya, tetaplah jujur dan jangan berdusta sebagai bentuk ketaatan kepada Alloh Ta’alaa.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan pada kesempatan kali ini agar senantiasa menjaga lisan kita, khususnya bagi kaum Muslimah sehingga Alloh memberikan ridho padanya. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: