Muslimah – Pendengar yang semoga dirahmati Alloh, sesunguhnya bertakwa kepada Alloh Azza wa Jalla terkait dengan hak-hak kerabat adalah wajib, baik kerabat istri maupun kerabat suami. Diantara hikmah pernikahan adalah memperluas kekeluargaan dan mempererat ikatan kekerabatan antara yang satu dengan yang lain.

Ada beberapa adab yang mesti diperhatikan oleh Anda,  ketika bermuamalah dengan mertua,

Adab yang pertama adalah memuliakan mertua.

Seorang muslimah harus memperlakukan orang tua suami dengan perlakuan yang baik, sebagai bentuk ketaatan kepada Alloh Ta’ala dan untuk menyenangkan suami. Orang tuanya sama kedudukannya dengan orang tua istri. Sebagaimana seorang istri tidak ingin orang tuanya disakiti, begitu juga suami tidak suka orang tuanya disakiti.

Wahai Para Istri….. berbuat baiklah kepada orang tua suami, sebagaimana andapun ingin suami anda berbuat baik kepada orang tua anda. Dan jangan lupa bahwa kedua orang tua suami menjadi penyebab suami ada dan dia tercipta untuk mencintai keduanya.

Alloh Ta’ala memerintahkan kepada kita agar berbuat baik kepada karib-kerabat. Mertua, termasuk bagian dari karib-kerabat. Dengan demikian berbuat kepada mereka merupakan suatu kewajiban.

Alloh Ta’ala berfirman,

“Sembahlah Alloh dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahaya kalian. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS. An-Nisa : 36)

Adab yang kedua adalah membantu mertua.

Semestinya setiap muslimah memahami anjuran Islam ini secara menyeluruh. Ada hak yang harus ditunaikan bagi sesama muslim. Termasuk kepada mertua, yang tentu menjadi kerabat kita. Dan kerabat memiliki hak yang semestinya lebih diutamakan. Sehingga jika seorang menantu merasa enggan membantu mertua, hendaklah ia menyadari ketimpangannya dalam memahami syari’at Islam yang mengajarkan kebaikan kepada sesama dan kaum kerabat. Bahkan jika menelusuri peran mertua, sebagai orang tua pasti memiliki jasa yang tidak sedikit. Kalaupun menantu seakan mendapat beban karena diminta untuk membantunya, maka pertolongan yang diberikan menantu tersebut masuk dalam perbuatan yang baik.

Alloh Ta’ala berfirman, Al-Quran surat An-Nisa ayat tiga puluh empat:

“Sembahlah Alloh dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahaya kalian”. (QS. An-Nisa : 34)

Adab yang ketiga adalah berakhlak terpuji kepada mertua.

Seyogyanya perhatian terhadap kemuliaan akhlak terpuji menjadi satu keharusan bagi seorang muslimah. Karena terkadang ada orang yang bisa bersopan santun, berwajah cerah dan bertutur manis kepada orang lain di luar rumahnya, namun hal yang sama sulit ia lakukan di dalam rumah tangganya. Ada orang yang bisa bersikap pemurah kepada orang lain, ringan tangan dalam membantu, suka membantu orang kesulitan, suka memaafkan dan berlapang dada, namun giliran berhadapan dengan orang rumah, mertua, suami ataupun anaknya, sikap seperti itu tak tampak pada dirinya.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Alloh amatlah murka terhadap seorang yang keji lagi mengucapkan ucapan yang jelek.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah Rodhiyallohu ‘anhu berkata:

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau pun menjawab, “Takwa kepada Alloh dan akhlak yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi)

Dari ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘anha berkata: Aku mendengar Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam  bersabda:

“Sesungguhnya seorang mukmin betul-betul akan mendapatkan kedudukan ahli puasa dan sholat dengan akhlak baiknya.” (HR. Abu Dawud)

Adab yang keempat adalah Berbicara yang  Baik.

Hendaknya seorang istri menjauhi berbantah-bantahan dan menentang, karena itu bahan bakar dari segala permasalahan. Hendaknya ia lemah lembut dan berkata yang baik.

Alloh berfirman,

“Dan ingatlah, ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil yaitu: janganlah kalian menyembah selain Alloh, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik”. (QS. Al-Baqoroh : 83)

Rosululloh  Shollallohu ‘alaihi wassalam  bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa beriman kepada Alloh dan hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam (HR. Bukhori dan Muslim)

Adab yang kelima adalah Pema’af.

Jadilah orang yang pemaaf bagi keluarga suami, membalas kekasaran dan kekerasan mereka dengan kelembutan dan kasih sayang. Jika suara mereka meninggi atau marah, hendaklah seorang istri merendahkan suaranya. Jika kata-kata mereka jelek, hendaklah seorang istri memperbaiki dan memperbagus kata-katanya.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah beberapa adab dan etika muslimah kepada mertua, yang diajarkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam. Semoga kita bisa mengambil faidah dan manfaat dari nasihat tersebut dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallohu’alam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: