Pemuda Hijrah – Sahabat hijrah yang semoga dirahmati Alloh, banyak yang memiliki harta namun jarang memiliki sifat mulia, yaitu qona’ah alias merasa cukup dengan nikmat Alloh ‘Azza wa Jalla. Padahal jika seorang muslim meraihnya ia seakan-akan memiliki dunia seisinya. Jika memiliki sifat qona’ah ia tidak akan tamak pada harta orang lain dan juga selalu ridho dengan ketetapan Alloh Ta’alaa. Ia pun yakin segala yang ditetapkan oleh Alloh Ta’alaa, itulah yang terbaik.

Berkenaan dengan sifat qona’ah ini, ada hadits yang diriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin  Mihshan  Al-Anshary dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam beliau bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Artinya, “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya pada diri, keluarga dan masyarakatnya, diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kebahagiaan itu sederhana dan tidak perlu membutuhkan banyak biaya. Ketika kita memiliki rasa aman terhadap diri dan keluarga, maka disitulah kita bahagia. Karena betapa banyak orang yang memiliki banyak harta tapi hidupnya tidak aman oleh ancaman musuh. Betapa banyak orang yang berlimpah harta, tapi tidak aman oleh para pendengki.

Ketika kita memiliki badan yang sehat sempurna, maka itu juga kunci dan akar kebahagiaan. Betapa banyak orang yang harus menderita menahan selera makannya hanya karena pantangan-pantangan dokter. Ingin makanan yang asin, darah tinggi naik. Ingin makan yang manis, diabetes kambuh. Ingin makan yang berlemak, kolesterol mengancam. Akhirnya, makanan yang berlimpah, uang yang banyak dan pelayan yang siap sedia tak bisa memberinya senyum kepuasan. Akan tetapi, badan sehat, walau makan hanya ikan asin dan sambal terasi, tetapi akan terasa nikmatnya.

Kemudian kita juga bisa bahagia ketika ada makanan yang kita bisa makan hari ini, apa pun itu makanannya, hendaknya kita syukuri karena ada orang yang melewatkan paginya tanpa makan sama sekali.

Hadits ini menunjukkan bahwa tiga nikmat tersebut jika telah ada  dalam diri seorang muslim, maka itu sudah jadi nikmat yang besar, siapa yang di pagi hari mendapatkan tiga nikmat tersebut berarti ia telah memiliki dunia seisinya.

Di dalam hadits lain disebutkan bahwa qona’ah termasuk keberuntungan yang diberikan Alloh Ta’alaa.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ

Artinya, “Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qona’ah atau merasa cukup dengan rizki tersebut”. (HR. Ibnu Majah)

Di dalam riwayat yang lain disebutkan.

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ  عَلَيْكُمْ »

Artinya, “Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Alloh anugerahkan padamu”. (HR. Ibnu Majah)

Salah satu cara supaya kita memiliki sifat qona’ah adalah dengan melihat siapa yang di bawah kita dalam urusan dunia, jangan melihat ke atas, ke mana, melihat kelangit?. bukan, maksudnya melihat orang-orang yang posisinya lebih tinggi dari kita. Kita jangan melihat orang yang lebih dari kita dalam hal dunia, baik itu harta, jabatan, kekayaan, dan sebagainya. Lihatlah kepada orang-orang yang berada di bawah kita sehingga kita bersyukur terhadap nikmat Alloh Ta’alaa.

Bahkan sifat qona’ah ini adalah kekayaan yang sesungguhnya, hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadits,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ »

Artinya, “Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Kita lihat faktanya sahabat, betapa banyak orang yang telah dianugerahi oleh Alloh Ta’alaa harta malah masih merasa tidak cukup. Ia ingin terus menambah dan menambah. Ia pun tidak ambil peduli dari manakah harta tersebut datang. Inilah orang yang fakir terhadap harta yang sesungguhnya. Sikapnya demikian karena niatan jelek dan kerakusannya untuk terus mengumpulkan harta. Padahal hakikat kaya adalah kaya hati, yaitu seseorang yang merasa cukup dengan yang sedikit yang Alloh Ta’alaa beri. Ia pun tidak begitu rakus untuk terus menambah.

Ia miskin karena selalu merasa kurang, sebaliknya orang yang dianggap miskin, kaya jika dia merasa cukup dengan apa yang telah Alloh Ta’alaa berikan. Sikap ini timbul karena dia ridho dengan ketetapan Alloh Ta’alaa. Inilah hakikat qona’ah.

Tapi perlu kita ketahui ini bukan berarti kita dilarang kaya, karena Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam sendiri pernah bersabda.

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

Artinya, “Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat”. (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Jadi tak mengapa kaya asalkan bertakwa. Yang namanya bertakwa, selalu merasa cukup dengan kekayaan tersebut, Ia tidak rakus dengan terus menambah. Kalau pun menambah karena hartanya dikembangkan, ia pun merasa cukup dengan karunia Alloh yang ada. Dan yang namanya bertakwa berarti selalu menunaikan kewajiban yang berkaitan dengan harta tersebut melalui zakat, menempuh jalan yang benar dalam mencari harta dan menjauhi cara memperoleh harta yang diharamkan Islam.

Sahabat hijrah yang semoga dirahmati Alloh, demikian pembahasan kita pada kesempatan kali ini, semoga kita semua dianugerahi sifat yang mulia ini, yakni sifat qona’ah. Semoga kita menjadi hamba-hamba Alloh Ta’alaa yang selalu merasa cukup dan kaya hati. Wallohu ‘alam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: