Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, salah satu karunia Alloh Ta’alaa yang diberikannya kepada umat Islam adalah tidak adanya perbedaan bahwa sumber utama dalam hukum dan pedoman hidup kita adalah Al-Quran dan As-Sunnah. Keduanya adalah wahyu yang bersih dari kesalahan, ma’sum atau terjaga dari kekeliruan. Siapa saja yang berpegang teguh dengan kedua sumber tersebut maka ia tidak akan tersesat dan tidak akan berselisih.

Umat Islam di masa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam atau para sahabat selalu kembali kepada beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam setiap kali terjadi perbedapat pendapat atau perselisihan di antara mereka. Setelah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam menjelaskan, sirnalah perselisihan dan perbedaan di antara mereka. Atau terjadi kasus yang cukup rumit, sehingga Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam berdiam diri menunggu turunnya Al-Quran. Namun setelah turunnya Al-Quran, yang menjelaskan realita dan hukumnya, sirnalah segala persoalan yang mengganjal mereka.

Sebagai contoh, adalah kasus hadits ifk atau ‘berita bohong’ yang dialamatkan kepada ‘Aisyah Rodliyallohu ‘anha dan juga penyebab turunnya ayat tentang li’an dalam surah An-Nuur yang dialami salah seorang sahabat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, yaitu Hilal bin Umayyah Rodliyallohu ‘anhu.

Ketika Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam telah meninggal dunia, mulailah terjadi perbedaan pendapat dikalangan ‘Ulama. Tetapi yang perlu diingat bahwa, perbedaan ini bukan persoalan yang menyangkut aqidah atau prinsip dalam Islam. Kita yakin bahwa para ‘Ulama tidak mungkin meyakini suatu hukum syari’at atau memberikan fatwa kecuali yang sesuai dengan tuntutan Al-Quran dan Sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, namun sebagai manusia biasa yang tidak ma’shum, mungkin saja seseorang keliru dalam memahami kandungan yang terdapat al-Quran dan sunnah, tanpa bermaksud menyelisihi apalagi menentang atau berpaling dari keduanya.

Ada beberapa sebab terjadinya perbedaan pendapat di kalangan para ‘Ulama, yang mudah-mudahan dengan mengetahui hal ini, kita dapat menyikapi dengan benar terhadap perbedaan yang ada di antara mereka.

Sebab yang pertama, nash atau dalil dalam suatu masalah tidak sampai kepada seorang ‘alim yang keliru dalam mengambil suatu keputusan atau memberikan fatwa.

Kasus seperti ini bukan hanya terjadi di masa sekarang, bahkan pernah terjadi beberapa kali di masa sahabat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam. Contohnya, Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa di masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab Rodhiyallohu ‘anhu, dia melakukan perjalanan menuju Palestina yang telah dikuasai kaum muslimin bersama satu rombongan dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Ketika di tengah perjalanan, terdengarlah kabar bahwa di negeri Syam atau Suriah dan Palestina, tengah dilanda wabah yang sangat berbahaya serta telah banyak menelan korban jiwa. Dalam sejarah Islam wabah ini disebut dengan wabah ‘Tha’un Amwas’. Wabah ini telah menelan korban sekitar 25 ribu jiwa, termasuk di antaranya panglima besar kaum muslimin yaitu Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Mu’adz bin Jabal Rodhiyallohu ‘anhuma.

Mendengar berita itu, Umar Rodhiyallohu ‘anhu menahan perjalanan dan bermusyawarah dengan para pembesar dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Maka, terjadilah perbedaan pendapat di antara mereka dalam masalah, apakah mereka meneruskan perjalanan atau kembali ke Madinah? Yang berpendapat untuk kembali ke Madinah memberikan argumentasi, bahwa masuknya mereka ke kota itu akan membawa mereka kepada kematian, karena wabah itu sangat berbahaya. Sedangkan pendapat kedua memberikan pandangan bahwa semua yang terjadi tidak pernah terlepas dari qadla dan qadar Alloh Ta’alaa. Semua itu telah tercatat di Lauhul Mahfuzh.

Pada saat itulah ‘Abdurrahman bin ‘Auf Rodhiyallohu ‘anhu datang dan berkata, “Sesungguhnya saya mempunyai pengetahuan tentang hal ini, saya pernah mendengar Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِى أَرْضٍ فَلاَ تَقْدُمُوْا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ فِيْهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ.

Artinya, “Apabila kalian mendengar berita tentang penyakit tha’un di suatu negeri, maka janganlah kamu memasukinya. Dan ketika wabah penyakit itu tengah terjadi, sedang kamu berada di sana, maka janganlah pergi meninggalkan negeri itu, karena lari dari penyakit tersebut”.

Setelah mendengar hadits tersebut, semuanya tunduk dan patuh terhadap sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam dan kembali ke kota Madinah.

Kemudian yang kedua, sebuah hadits atau dalil telah sampai kepada seseorang yang kebetulan keliru dalam mengambil suatu keputusan, namun ia kurang percaya kepada pembawa berita atau yang meriwayatkan hadits. Misalnya, imam Fulan mengatakan bahwa hadits ini shahih, sedangkan imam yang lain berpandangan bahwa hadits tersebut dha’if atau lemah.

Sebagai contoh, pernah terjadi di masa khalifah Umar bin al-Khaththab Rodhiyallohu ‘anhu, ketika beliau menolak riwayat Fathimah binti Qais Rodhiyallohu ‘anha bahwa perempuan yang telah dicerai yang ketiga kalinya oleh suaminya, perempuan itu tidak berhak lagi mendapatkan hak terhadap nafkah dan tempat tinggal dari suaminya. Khalifah Umar Rodhiyallohu ‘anhu menolak riwayat itu karena kurang percaya terhadap orang yang meriwayatkan hadits tersebut.

Kemudian yang ketiga, dalil atau hadits telah sampai kepada orang tersebut, namun ia keliru dalam memahaminya.

Contoh perbedaan seperti ini pernah terjadi di zaman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, bahkan pada masa hidup Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Peritistiwa itu bermula ketika Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam baru selesai perang Ahzab pada tahun ke lima Hijriyah dan meletakkan peralatan perang. Pada saat itu, datanglah malaikat Jibril ‘alaihissalaam dan berkata, “Berangkatlah menuju perkampungan Bani Quraizhah”.

Maka saat itu juga Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam memerintahkan kepada para sahabat agar segera berangkat menuju perkampungan mereka dan bersabda,

لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ إِلاَّ فِى بَنِي قُرَيْظَةَ

Artinya, “Janganlah seseorang shalat Ashar kecuali di (perkampungan) Bani Quraizhah.”

Ternyata, para sahabat berbeda pendapat dalam memahami nash hadits ini. Sebagian mereka memahami bahwa yang dimaksud Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam adalah agar mereka segera berangkat, sehingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah sebelum shalat ‘Ashar. Karena itulah, ketika tiba waktu shalat ‘Ashar, sedangkan mereka masih berada di tengah perjalanan, mereka tetap melaksanakan shalat ‘ashar dan tidak mengakhirkannya hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah.

Sedangkan sahabat yang lain memahami bahwa yang dimaksud Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam adalah agar mereka jangan melaksanakan shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah. Sehingga ketika tiba waktu shalat ‘Ashar, sedangkan mereka masih berada di tengah perjalanan, mereka tidak langsung melaksanakan shalat ‘ashar dan menundanya hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah.

Ketika hal itu disampaikan kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, beliau tidak memberikan komentar apa-apa, dan tidak mencela kelompok yang manapun.

Tidak diragukan lagi, bahwa yang benar adalah yang melakukan shalat dalam waktunya dan tidak menundanya hingga keluar dari waktunya, karena kewajiban melaksanakan shalat dalam waktunya adalah dengan dalil yang jelas, sedangkan dalil hadits ini masih mengandung beberapa penafsiran.

Kemungkinan besar, inilah penyebab paling dominan yang melatar belakangi terjadinya perbedaan di kalangan para ‘Ulama dalam persoalan far’iyah atau cabang, namun bukan yang menyangkut persoalan prinsip di dalam syari’at Islam.

Kemudian penyebab yang keempat, dalil telah sampai kepada seorang ‘Ulama akan tetapi dalil itu sebenarnya sudah dinasakh atau dihapus kandungan hukumnya, artinya tidak berlaku lagi. Namun ‘Ulama tersebut tidak mengetahui dalil yang menghapusnya.

Dan penyebab yang kelima, sebuah hadits atau dalil telah sampai kepada seorang ulama, namun ia lupa terhadap dalil tersebut.

Sudah menjadi sunnatulloh, bahwa lupa adalah bagian dari fitrah kita sebagai manusia biasa. Banyak orang yang telah hapal sekian banyak hadits-hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, namun kemudian ia lupa. Ini merupakan salah satu penyebab terjadinya terjadi perbedaan pendapat, walau dalam porsi yang tidak terlalu besar.

Setelah mengetahui beberapa penyebab perbedaan di kalangan para ‘Ulama, bagaimana sikap Ahlus Sunnah terhadap adanya perbedaan pendapat ini?

Jika kita menemukan perbedaan seperti yang telah disebutkan tadi, siapakah yang harus kita ikuti? Apakah kita akan mengikuti seorang ‘Ulama dan tidak pernah keluar dari pendapatnya, walau pun kebenaran ada pada pendapat yang lain? Ataukah kita mengikuti pendapat yang lebih kuat sesuai dengan dalil-dalil yang ada, walau berbeda pendapat dengan ‘Ulama yang kita ikuti?

Jawaban yang benar adalah yang kedua, karena wajib bagi yang mengetahui dalil yang shahih untuk mengikutinya, walau berbeda pendapat dengan para ‘Ulama. Karena mereka adalah manusia yang mungkin saja keliru dalam memberikan fatwa atau mengambil kesimpulan dalam suatu hukum. Siapapun yang meyakini bahwa ada seseorang selain Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam yang harus diambil pendapatnya setiap waktu dan keadaan, berarti dia meyakini bahwa selain beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam ada yang memiliki keistimewaan risalah atau ada yang ma’shum, artinya dipelihara dari dosa dan kesalahan.

Padahal tidak ada seorang pun yang memiliki keistimewaan seperti ini selain Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, dan setiap orang bisa diterima pendapatnya atau ditolak, kecuali yang diriwayatkan dari Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam dengan sanad yang shahih.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat dan bisa mengambil pelajaran di dalamnya. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: