Oleh: Ust. Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.

Segala bentuk ibadah yang kita lakukan, haruslah hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu Wata’ala semata. Karena jika menujukan ibadah kepada selain Allah, maka kita akan terjatuh dalam kesyirikan yang menjadikan kita terjatuh ke lembah api neraka yang di penuhi dengan siksaan yang sangat pedih.

Mempersembahkan ibadah kepada selain Allah merupakan bentuk penyelewengan terhadap rububiyyah Allah. Karena termasuk ke dalam bentuk tauhid adalah tauhid rubbubiyah yaitu mempersembahkan seluruh peribadatan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Atau dengan kata lain, tauhid uluhiyah meng-Esa-kan Allah Subhānahu wa Ta’ālā dalam beribadah kepada-Nya. Tauhid uluhiyyah disebut juga dengan istilah tauhid ilahiyah atau tauhid ‘ubudiyyah.

Sangat banyak dalil tauhid uluhiyah ini di dalam al-Qur`an dan hadits Rasulullah Sholallolohu ‘alaihi wa sallam. Tentu hal ini menunjukkan betapa penting dan tinggi kedudukan tauhid uluhiyah dalam agama Islam. Di antara dalil yang menunjukkan tauhid uluhiyah, adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala.

نَّحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَقُولُونَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِجَبَّارٖۖ فَذَكِّرۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ ٤٥ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ٥٧

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah hanya kepada-ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki mereka memberi Aku makan.” (QS. adz-Dzariat: 56-57)

Demikian juga dalam di ayat lainnya:

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan peribadatan hanya untuk-Nya dan menjadi orang-orang yang bertauhid.” (QS. al-Bayyinah: 5)

Tauhid uluhiyyah ini mengandung tiga masalah pokok, yaitu:

Pertama, Nusuk, kemudian yang Kedua, Hakimiyyah, dan yang Ketiga, al-Wala’ wa al-baro’.

Kandungan pokok tauhid uluhiyyah yang pertama adalah dalam nusuk. Yang dimaksud dengan nusuk adalah praktek-praktek peribadatan seperti shalat, do`a, qurban, haji, nadzar, dan lain sebagainya. Semua praktek-praktek peribadatan tersebut harus sepenuhnya dipersembahkan hanya kepada Allah –Subhānahu wa Ta’ālā–.

Maka, barangsiapa yang memberikan salah satu peribadatan tersebut, atau seluruhnya kepada selain Allah –Subhānahu wa Ta’ālā–, maka orang tersebut telah mengerjakan perbuatan syirik yang besar sekali.

Berkaitan dengan hal ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya-lah untuk Allah, Robb semesta alam.” (QS. al-An’am: 162)

Kemudian Kandungan Tauhid uluhiyyah yang kedua adalah Hakimiyyah.

Yang dimaksud dengan Hakimiyyah adalah mengakui bahwa hanya Allah-lah yang berhak membuat berbagai hukum, baik hukum-hukum peribadatan maupun hukum-hukum keduniawian. Hanya hukum-hukum Allah-lah yang harus diterapkan dan ditegakkan di seluruh dunia dan di seluruh aspek kehidupan.

Barangsiapa yang menolak hukum Allah–Subhānahu wa Ta’ālā– atau menggantikan hukum-hukum-Nya dengan undang-undang buatan makhluk, menerapkan hukum-hukum buatan makhluk dan meninggalkan hukum-hukum-Nya, maka orang tersebut telah jatuh dalam kesyirikan yang besar.

Dalam firman Allah:

ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٣١

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai robb-robb selain Allah, dan demikian juga dengan al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah: 31)

Mungkin di antara kita ada yang bertanya, mengapa kita harus menerapkan hukum Allah? Maka kita katakan, karena Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– adalah Pencipta dan Pemilik segala sesuatu. Segala yang ada di alam wujud dunia adalah milik Allah-Nya. Oleh karena itu, hanya Dialah yang berhak berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya atas seluruh makhluk-Nya. Hanya Dia-lah yang berhak membuat peraturan-peraturan untuk mengatur makhluk-Nya.

Barangsiapa yang membuat tandingan bagi Allah dalam hukum-hukum-Nya, apalagi dengan menyingkirkan hukum-hukum-Nya dan menggantinya dengan hukum-hukum makhluk, maka celakalah orang tersebut karena dia telah jatuh ke dalam suatu kesyirikan yang besar sekali.

Menerapkan atau menerima sebagian hukum-hukum Allah –Subhānahu wa Ta’ālā– serta menolak dan menyingkirkan sebagian lainnya, sama halnya dengan menolak seluruh hukum-hukum-Nya. Dalam surat al-Baqoroh Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَنتُمۡ هَٰٓؤُلَآءِ تَقۡتُلُونَ أَنفُسَكُمۡ وَتُخۡرِجُونَ فَرِيقٗا مِّنكُم مِّن دِيَٰرِهِمۡ تَظَٰهَرُونَ عَلَيۡهِم بِٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِ وَإِن يَأۡتُوكُمۡ أُسَٰرَىٰ تُفَٰدُوهُمۡ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيۡكُمۡ إِخۡرَاجُهُمۡۚ أَفَتُؤۡمِنُونَ بِبَعۡضِ ٱلۡكِتَٰبِ وَتَكۡفُرُونَ بِبَعۡضٖۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفۡعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمۡ إِلَّا خِزۡيٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلۡعَذَابِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ ٨٥

“Apakah kalian (orang-orang Yahudi) beriman pada sebagian dari al-kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidaklah balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian dari pada kalian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat.” (QS. Al Baqoroh: 85)

Kemudian kandungan tauhid uluhiyah yang ketiga adalah al-wala’ wa al-baro’. al-Wala’ berarti kedekatan, kecintaan, dan pembelaan. Sedangkan al-baro’ adalah kejauhan, kebencian, dan permusuhan. Ketika semua hal tersebut disalurkan menurut manhaj Allah –Subhānahu wa Ta’ālā–, maka semua hal tersebut merupakan peribadatan yang besar sekali. Hal ini berdasarkan beberapa firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seperti dalam surat al-Hadid ayat yang ke 25:

لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلۡنَا مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَأَنزَلۡنَا ٱلۡحَدِيدَ فِيهِ بَأۡسٞ شَدِيدٞ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥ وَرُسُلَهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٞ ٢٥

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rosul-rosul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, supaya mereka mempergunakan besi itu dan supaya Allah mengetahui siapa yang membela agama dan rosul-rosul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hadid: 25)

Tauhid uluhiyyah dalam al-wala’ dan al-baro’; berarti hanya dekat, mencintai, dan membela Allah –Subhānahu wa Ta’ālā–, agama-Nya, Rosul-Nya Sholallohu ‘alaihi wa sallam dan kaum mukminin. serta men-jauhkan diri, membenci, dan memusuhi orang-orang kafir dan juga sifat kekufuran. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 165:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادٗا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ وَلَوۡ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ إِذۡ يَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ أَنَّ ٱلۡقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعٗا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعَذَابِ ١٦٥

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tan-dingan bagi Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Ada pun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (QS. al-Baqoroh ayat 165)

Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa pada hari kiamat, bahwa kekuatan itu hanyalah kepunyaan Allah semua-nya, dan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala amat berat siksa-Nya niscaya mereka menyesal.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah –Shallallahu ‘alayhi wa Sallama– juga bersabda,

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah, maka dia telah menyempurnakan imannya.” (HR. Tirmidzi)

Al-Wala’ wa al-baro’ ini adalah bagian tauhid yang sangat penting sekali, karena al-wala’ wa al-baro’ dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. al-Wala’ dan al-bara’ termasuk prinsip utama yang selalu dipegang teguh oleh para nabi dan orang-orang sholeh sebelum kita. hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat al-Mumtahanah:

قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ إِلَّا قَوۡلَ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمۡلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۖ رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ ٤

“Sesungguhnya telah ada untuk kalian tauladan yang baik pada Ibrahim dan pada orang-orang yang besertanya, tatkala mereka berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa-apa yang kalian sembah selain Allah serta mengingkari apa-apa yang ada pada kalian dan telah tumbuh antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian selamanya hingga kalian beriman pada Allah Tuhan yang esa, kecuali perkataan Ibrohim pada ayahnya, sesungguhnya aku akan memintakan ampunan pada Allah untuk mu, tidaklah aku memiliki untuk dirimu sesuatu pun dari Allah, Wahai Tuhan kami, hanya pada Engkaulah kami bertawakal dan bertobat serta hanya kepada-Mu-lah tempat kembali.” (QS. al-Mumtahanah: 4)

Demikianlah pembahasan tentang rincian pembahasan tauhid uluhiyah. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua untuk menauhidkannnya. Amin. Wallahu A’lam.