Tarbiyatul Aulad – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai “Mendidik anak berkarakter Islami”.

Guru dikenal sebagai profesi seseorang di sekolah yang bertugas mengajar anak-anak. Tetapi pada hakikatnya semua manusia merupakan seorang guru apabila ia dapat mengajarkan sesuatu yang bermanfaaat kepada orang lain. Tentulah salah satu peran guru berada pada orang tua. Tugas orang tua sebagai guru bersifat alami dan natural. Hal inilah yang akan membentuk bagaimana karakter seorang anak nantinya. Maka sangat penting bagi orang tua untuk memahami pendidikan karakter untuk anak.

Pendidikan karakter adalah pendidikan dalam membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya.

Dan karakter seorang anak terbentuk dari kebiasaannya sehari-hari, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Karena kesinambungan inilah yang membentuk karakter secara permanen dan tahan lama. Dan apabila kita cermati, semua faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain, dari mulai keluarga, pembawaan serta lingkungan dimana anak itu tinggal. Apabila kita melihat dari pendidikan Islam untuk anak, sebenarnya kita bisa melatih karakter anak-anak itu pada kegiatan sehari-harinya, sesuai dengan anjuran dan kebiasaan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wassallam.

Adapun beberapa hal yang dapat melatih karakter anak-anak antara lain,

Yang pertama, biasakan anak untuk menggunakan tangan kanan dalam mengambil, memberi, makan, minum, menulis dan menerima tamu. Mengajarkannya untuk mengawali setiap pekerjaan dengan bacaan “basmalah” terutama untuk makan dan minum. Dan harus dilakukan dengan duduk serta mengakhirinya dengan membaca “hamdalah”. Membiasakan anak-anak jujur dalam perkataan dan perbuatan. Hendaknya kita juga tidak berbohong kepada mereka, meskipun kita hanya bergurau. Jika kita menjanjikan sesuatu hendaknya kita penuhi.

Yang kedua, membiasakan anak untuk selalu menjaga kebersihan, memotong kukunya, mencuci kedua tangannya sebelum dan sesudah makan, dan mengajarinya untuk bersuci ketika buang air kecil dan buang air besar, sehingga tidak meninggalkan kotoran atau najis pada pakaiannya, dan sholatnya menjadi sah.

Yang ketiga, berlemah lembut dalam memberi nasehat kepada mereka dengan cara rahasia. Tidak membuka kesalahan mereka di depan umum. Jika mereka tetap membandel maka kita diamkan selama tiga hari, dan tidak boleh lebih dari itu. Ingatkan juga mereka supaya tidak mencela dan melaknat orang serta berbicara yang jelek. Kita juga hendaknya menjaga ucapan di depan mereka agar menjadi teladan yang baik bagi mereka.

Yang keempat, member kasur pada setiap anak jika memungkinkan, jika tidak maka setiap anak diberikan selimut sendiri-sendiri. Akan lebih utama jika anak perempuan mempunyai kamar sendiri dan anak laki-laki mempunyai kamar sendiri, guna menjaga akhlak dan kesehatan mereka. Melarang anak membaca majalah dan gambar yang haram dilihat serta cerita-cerita komik seksualitas. Membatasi tontonan mereka di Televisi karena tontonan sekarang ini berbahaya bagi akhlak dan masa depan anak-anak.

Yang kelima, membiasakan untuk tidak membuang sampah di tengah jalan. Beritahu juga mereka akibat apabila membuang sampah dengan sembarangan. Berpesan juga kepada anak-anak untuk berbuat baik kepada tetangga dan tidak menyakiti mereka, serta membiasakan anak bersikap hormat dan memuliakan tamu serta menghidangkan suguhan baginya.

Yang keenam, mengajarkan mereka untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran, tidak takut kecuali kepada Alloh Ta’alaa, dan tidak menakut-nakuti mereka dengan cerita yang menakutkan, serta mewaspadai pergaulan mereka dengan kawan-kawan yang nakal, mengawasi mereka, dan melarang mereka duduk-duduk di pinggir jalan.

Yang ketujuh, memberi salam kepada anak-anak di rumah, di jalan, dan di kelas dengan lafadzh “Assalamu’alaikum”, jangan biasakan menyapa dengan kata “Hai, Hallo, atau pun ucapan lainnya”, karena ucapan itu merupakan sebuah do’a. Jangan mendoakan kejelekan kepada anak, karena do’a baik maupun buruk kadang-kadang dikabulkan, dan mungkin menambah kesesatan mereka. Lebih baik jika kita mengatakan kepada anak, “Semoga Alloh Memperbaikimu”. Biasakan juga budaya “5s” kepada anak-anak, yaitu Salam, Senyum, Sapa, Sopan dan Santun.

Yang kedelapan, membiasakan anak-anak untuk memakai pakaian sesuai jenisnya sehingga pakaian wanita tidak sama dengan laki-laki, memberikan kain penutup aurat kepada anak perempuan sejak kecil supaya terbiasa pada saat dewasa, serta menjauhi pakaian-pakaian ala barat seperti celana dan baju yang ketat dan terbuka. Berikan juga pengetahuan kepada mereka tentang wajibnya menjaga aurat.

Yang kesembilan, menyuruh anak-anak untuk diam ketika adzan berkumandang dan menjawab bacaan-bacaan adzan, serta untuk anak laki-laki dibiasakan sholat berjama’ah di masjid. Beritahu mereka juga dengan janji surga, bahwa surga akan diberikan kepada orang-orang yang melakukan sholat, puasa, menaati kedua orang tua, dan berbuat amalan yang diridhai oleh Alloh ‘Azza wa Jalla, serta menakut-nakuti mereka dengan neraka, bahwa neraka diperuntukkan bagi orang yang meninggalkan sholat, menyakiti orang tua, membenci Alloh, melakukan hukum selain hukum Alloh, dan memakan harta orang dengan menipu, korupsi dan lain sebagainya. Jangan seperti yang terjadi pada saat ini, anak-anak kita di takut-takuti oleh sosok setan atau jin, misalnya dengan mengatakan “jangan lewat sana, nanti ada pocong”, dan lain sebagainya. Yang pada akhirnya, dalam pikiran si anak menjadi takut kepada setan dibanding takut kepada Alloh ‘Azza wa Jalla. Padahal kita sudah ketahui bersama, bahwa cara yang seperti ini adalah kekeliruan yang tidak patut di contoh.

Yang kesepuluh,memberikan cerita-cerita yang mendidik, bermanfaat dan Islami, seperti serial cerita-cerita dalam al-Qur’an dan sejarah Islam lainnya, serta ceritakan juga perjuangan para sahabat-sahabat Nabi Rodhiyallohu ‘anhum yang terus semangat melawan kejahatan meskipun nyawa taruhannya.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, emikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini. Semoga menjadi motivasi bagi kita untuk lebih memperhatikan pendidikan anak kita, utamanya pendidikan agama mereka, karena pada gilirannya semua itu manfaatnya untuk kebaikan diri kita sendiri di dunia dan akhirat nanti. Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita isteri-isteri dan keturunan kita sebagai aset kebahagiaan kita di dunia maupun di akhirat kelak. Dan semoga Alloh ‘Azza wa Jalla melindungi kita serta keluarga kita dari bisikan setan. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: