Tarbiyatul Aulad – Pembaca yang semoga dirahmati Allah, pada pembahasan yang lalu sudah dijelaskan mengenai bagaimana agar para orangtua dapat mengarahkan anak melangkah menuju ilmu, belajar, serta mencintai ilmu dan Ulama sampai dengan point yang keempat. Adapun kelanjutannya yaitu,

Yang kelima. Mengajari anak untuk memuliakan para Ulama.

Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Ada tiga manusia, tidak ada yang meremehkan mereka kecuali orang munafik. Mereka adalah orangtua, Ulama, dan pemimpin yang adil”. (HR. Ath-Thabrani)

Tentu kita sudah mengetahuinya bersama, bahwa para Ulama adalah pewaris para Nabi. Memuliakan dan menghormati mereka, bersikap santun dan lembut di dalam bergaul dengan mereka, adalah di antara adab yang harus dibiasakan sejak kanak-kanak. Memuliakan Ulama menjadikan anak akan memuliakan ilmu yang diterimanya, yang dengannya Allah ‘Azza wa Jalla akan menghidupkan hati seseorang.

Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu juga menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Sesungguhnya Luqman berkata kepada putranya, “Wahai anakku, engkau harus duduk dekat dengan Ulama. Dengarkanlah perkataan para ahli hikmah, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan hujan deras”. (HR. Ath-Thabrani)

Yang keenam. Membiasakan seluruh keluarga membaca dan menghapal ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam.

Dalam membina akidah anak, mengajarkan Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam adalah hal yang utama dalam membentuk mentalitas anak. Keduanya merupakan sumber untuk menghidupkan ilmu yang akan menyinari dan menguatkan akal. Para Shahabat radhiyallahu ‘anhum sangat berambisi sekali mengikat anak-anak mereka dengan Al-Qur’an.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu setiap kali mengkhatamkan Al-Qur’an, beliau mengumpulkan istri dan anak-anaknya, lalu berdo’a untuk kebaikan mereka.

Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam masih hidup di dunia ini, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu telah hafal Al-Qur’an pada usia sepuluh tahun. Begitu juga Imam Asy-Syafii rahimahullah telah hafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun, dan juga Imam Al-Bukhari mulai menghafal hadits ketika duduk dibangku madrasah, dan mengarang kitab At-Tarikh pada usia 18 tahun. Sungguh inilah contoh dan prestasi yang sangat membanggakan bagi kaum Muslimin sekalian yang harus diterapkan dan dicontoh dalam mendidik anak-anak kita, yang mana sampai saat ini kita masih bisa belajar Al-Qur’an, ilmu-ilmu agama dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam tanpa ada sedikitpun perubahan atau penyelewengan, karena sebab di antaranya perjuangan para Salafus Shalih yang terus mengajarkan ilmu-ilmu tersebut sampai dengan kita bisa merasakannya hingga saat ini.

Yang ketujuh. Membuat perpustakaan rumah, walaupun sederhana.

Mempelajari ilmu tak akan lepas dari kitab ataupun buku-buku sebagai media referensi yang senantiasa akan memenuhi kebutuhan ilmu. Keberadaan perpustakaan rumah menjadi hal yang sangat penting untuk mengkondisikan anak-anak senantiasa dekat dengan ilmu dan bersahabat dengan kitab-kitab ilmu.

Sehingga sangat penting adanya perpustakaan di dalam rumah, sekalipun sederhana. Koleksi bukunya dipilihkan dari buku-buku sejarah Islam, biografi Salafus Shalih, buku-buku akhlak, hikmah, kisah perjalanan para Ulama ke berbagai negeri, kisah-kisah penaklukan berbagai negeri, dan semisalnya.

Yang kedelapan. Mengajak anak menghadiri majelis-majelis kaum dewasa.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam pernah menceritakan bahwa Beliau ketika masih kecil juga turut menghadiri majelis-majelis kaum dewasa. Beliau mengatakan, “Aku biasa menghadiri pertemuan-pertemuan para pemuka kaum bersama paman-pamanku”. (HR. Ahmad)

Dengan membawa anak-anak ke majelis orang dewasa, dengan berjalannya waktu akal seorang anak akan meningkat, jiwanya akan terdidik, semangat dan kecintaannya kepada ilmu akan semakin kuat.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, demikianlah pembahasan kita kali ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya, terlebih kita bisa menerapkannya di dalam mendidik anak-anak kita agar menjadi generasi yang unggul dan berprestasi. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: