Pemuda Hijrah – Sahabat hijrah yang semoga dirahmati Alloh, sebelumnya hendaknya kita bertanya pada diri sendiri apakah hari ini sudah baca Quran atau belum?. Kira-kira sahabat punya target berapa halaman atau berapa juz Al-Quran dalam sehari dihabiskan? Atau berapa jam dalam satu hari kita sediakan waktu untuk al-Quran?. Tentunya jangan sampai kita melupakan Al-Quran di setiap hari yang kita lalui.

Sahabat hijrah, selain itu kita juga harus menyadari bahwa al-Quran tidak cukup hanya sekedar dibaca saja, tapi juga perlu ditadaburi, dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan kita.

Oleh karena itulah Alloh Subhanahu wa Ta’alaa berfirman,

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

Artinya, “Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepada mu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran”. (QS. Shod : 29)

Ketika kita memahami apa yang kita baca, maka kita pun akan tersentuh dengan bacaan Al-Quran, sehingga ada orang yang menangis ketika membaca Al-Quran. Sebagian dari kita barangkali merasa takjub, heran, atau bahkan ikut menangis ketika mendengar beberapa imam di negeri Arab yang menangis di saat membaca ayat-ayat Al-Quran. Itu adalah hal yang wajar dan itu manusiawi.

Tahu nggak sahabat, tangisan yang terkadang datang ketika mendengarkan Al-Quran atau berdzikir kepada Alloh Ta’alaa memiliki beberapa sebab.

Sebab yang pertama, ketika mendengarkan Al-Quran dan berdzikir, seseorang melihat satu hal yang tidak dimilikinya, sehingga menangis. Contohnya menangis ketika membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan sahabat dan Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wassallam, kita menangis mengenang perjuangan mereka.

Kemudian yang Kedua, seseorang melihat satu dosa yang dia perbuat, sehingga dia pun menangis. Inilah yang dinamakan tangisan karena rasa takut.

Kemudian yang Ketiga, menangis karena seseorang melihat kekurangan di dalam amal perbuatan, sehingga dia pun menangis. Itulah tangisan kesedihan.

Kemudian yang keempat, seseorang melihat bahwa kesempatan beramal tidak didapatkan, contohnya adanya keutamaan di waktu-waktu tertentu yang tidak didapat, maka dia menangis. Ini yang disebut dengan tangis penyesalan.

Selanjutnya yang kelima, tangisan ketika seseorang mengingat kesempurnaan sesuatu yang dia cintai kemudian dia mendapatkan jalan untuk mendapatkannya. Inilah yang disebut tangis kebahagiaan.

Kita tidak mesti harus menangis ketika membaca Al-Quran. Akan tetapi jika seumur hidup atau selama Ramadhan tidak pernah mata ini tersentuh dengan Al-Quran, maka kita harus banyak-banyak intropeksi diri. Karena salah satu ciri seorang mukmin adalah hatinya bergetar dan bertambah imannya ketika dibacakan Al-Quran dan mata pun bisa menangis bahagia.

Bahkan, salah satu tanda atau ciri orang-orang yang beriman adalah menangis ketika mengingat Alloh Subhanahu wa Ta’alaa, hatinya peka dan bergetar ketika mendengar ayat-ayat Alloh Ta’alaa dibacakan atau ketika dirinya membaca Al-Quran.

Hal ini sebagaimana yang Alloh Ta’laa firmankan,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah lah iman mereka karenanya, dan hanya kepada Alloh-lah mereka bertawakkal”. (QS. Al-Anfal : 2)

Mungkin kamu bertanya-tanya, gimana mau menangis, orang membaca Al-Quran saja nggak tahu artinya. Oleh karena itu sahabat, usahakan kita membaca Al-Quran dengan meresapi maknanya, menghadirkan hati dengan khusyu’ dan mentadaburi ayat-ayatnya.

Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wassallam saja menangis ketika dibacakan Al-Quran. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan di dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata.

“Suatu ketika Nabi Shollallahu ‘alaihi wassallam berkata kepadaku, “Bacakanlah Al-Qur’an kepadaku. Maka ku katakan kepada beliau, “Wahai Rosululloh, apakah saya bacakan Al-Quran kepada Anda sementara Al-Quran itu diturunkan kepada Anda?.” Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.”

Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat An-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini yang berbunyi (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka” (QS. An-Nisa : 41), Maka beliau berkata. “Cukup, sampai di sini saja.”  Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Sahabat hijrah, air mata selalu diidentikan dengan kesedihan, tapi terkadang air mata juga mengalir karena kegembiraan yang begitu besar. Sementara ketika kita menangis ketika membaca Al-Quran, yang berarti menangis karena Alloh Ta’alaa, maka kita menangis karena takut kepada Alloh Ta’alaa. Tangisan ini adalah tangisan yang membuat hati bahagia. Bagaimana tidak bahagia?. Sementara air mata mengalir deras kita bergumam di hati, “akhirnya, akhirnya mata ini bisa menangis karena Alloh”.

Kita langsung teringat keutamaan menangis karena Alloh Ta’alaa, sebagaimana yang Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam sabdakan,

Artinya, “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Alloh sampai susu yang telah diperah bisa masuk kembali ke tempat keluarnya”. (HR. At-Tirmidzi)

Sahabat hijrah yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada kesempatan kali ini, semoga kita termasuk orang-orang yang menjadi hamba-hamba pilihan, yakni yang selalu dekat dengan Al-Quran, mengamalkannya dan menjadi sebab dekatnya dengan Alloh Ta’alaa, salah satunya adalah dengan menangis ketika membaca Al-Quran. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: