Motivasi – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, seorang Muslim yang tidak menghormati orang tuanya, tidak memuliakannya, apalagi tidak mau merawatnya, maka hidupnya akan jauh dari keberkahan. Di akhirat ia tak berhak atas surga Alloh Subhanahu wa Ta’alaa.

Tidak ada amal yang lebih tinggi, amal yang sangat mulia, dan pahala paling agung dari diri seorang Muslim setelah ia beriman dan berjihad kecuali senantiasa memuliakan orang tuanya, dan merawatnya hingga akhir hayat.

Dengan kata lain, siapapun dari umat Islam yang tidak memuliakan orang tuanya berarti dia tidak berhak atas kemuliaan. Sebaliknya, kehinaan demi kehinaan akan selalu menghampiri perjalan hidupnya di dunia maupun akhirat.

Sebuah hadits menyebutkan, “Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina, orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orang tuanya lanjut usia di sisinya (semasa hidupnya), namun ia (orang tuanya) tidak memasukkannya ke Surga”. (HR. Ahmad)

Sungguh kerugian besar bila ada seorang Muslim yang menjumpai orang tuanya lanjut usia tetapi tidak merawatnya dengan tangannya sendiri, lebih mementingkan dirinya sendiri, mengkhawatirkan masa depannya sendiri, dan malah justru menitipkannya kepanti jompo, na’udzubillahi min dzalik.

Berkaitan dengan hal ini, ada satu kisah menarik yang tercantum di dalam musnad Imam Ahmad, yaitu:

Suatu ketika, seorang sahabat bernama Jahimah pernah dating kepada Nabi dan berkata, “Ya Rosululloh aku ingin ikut perang dan aku datang kepadamu untuk meminta saran”.

Rosululloh pun bertanya, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?.” “Ya, masih”, jawabnya. Maka beliau bersabda, “Kalau begitu, temanilah ia, berjihadlah dengan melayaninya.”

Berkaitan dengan sikap memuliakan dan menghormati orang tua, hendaknya kita mengambil pelajaran dari kisah Uwais Al-Qorni.

Kisahnya adalah berawal dari pertemuaan Uwais dengan ‘Umar bin Al Khottob Rodhiyallohu ‘anhu. Dikisahkan bahwa ‘Umar bin Al Khottob ketika didatangi oleh serombongan jamaah haji dari Yaman, ia bertanya. “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang bernama Uwais bin ‘Amir?”. Hingga tak lama setelah itu, ‘Umar bin Khottob bisa bertemu dengan orang yang bersangkutan.

Kemudian Umar bertanya, “Benar engkau adalah Uwais bin ‘Amir?”, Umar bertanya lagi, “Benar engkau dahulu memiliki penyakit kulit lantas sembuh kecuali sebesar satu dirham”.

Uwais menjawab, “Iya”. Umar bertanya lagi, “Benar engkau punya seorang ibu?”. Uwaismenjawab, “Iya”.

Kenapa Umar bin Khottob Rodiyallohu ‘anhu bertanya seperti itu?. Rupanya ada alasan dan sebab dari pertanyaan yang diajukan Umar. Umar pun menjelaskan, “Aku sendiri pernah mendengar Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda, “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir bersama rombongan dari Yaman. Ia berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya.

Seandainya ia mau bersumpah pada Alloh, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Alloh supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”

Umar pun berkata, “Mintalah pada Alloh untuk mengampuniku”. Kemudian Uwais mendoakan Umar dengan meminta ampunan pada Alloh.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, dari kisah Uwais bin Amir itu, kita bisa mengambil faidah yang banyak, salah satunya tentang kemuliaan orang tua dan ganjaran yang besar bagi orang yang memuliakan dan menghormati orang tuanya, khususnya ibu. Semoga kita diberi anugerah, yakni kesempatan untuk bisa berbakti kepada kedua orang tua, sepanjang hayat kita, sehingga kita bisa mengecap keutamaan demi keutamaan dari bakti tersebut. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: