Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Allah, tak asing bagi kita syahadat “laa ilaha illah” ini, karena kita senantiasa membacanya dalam sholat, tepatnya ketika tasyahud. Kalimat ini merupakan salah satu dari rangkaian dua kalimat syahadat, yaitu syahaadatu an laa ilaha illalloh dan syahaadatu anna muhammadar Rasulullah, yang dengan mengikrarkannya seorang yang kafir menjadi muslim. Syahadat ini disebut Syahadat Tauhid, karena mengandung pentauhidan Allah Ta’alaa dalam ibadah.

Demikian pentingnya syahadat ini, sehingga menjadi bagian terpenting dari rukun Islam yang pertama. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Islam dibangun atas lima perkara, yaitu Syahadat laa ilaha illallah dan Muhammadur Rasulullah, Mendirikan sholat, Menunaikan Zakat, Berhaji ke Baitullah, dan Puasa di bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh sebab itu, sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk memahami kandungan makna, rukun, syarat dan konsekuensi atau tuntutan dari syahadat ini.

Makna Syahadat Laa ilaha illallah adalah, meyakini dan mengikrarkan bahwa tiada sesuatupun yang berhak diibadahi kecuali Allah Ta’alaa, dengan tetap teguh di dalamnya dan melaksanakan tuntutannya.

Sedangkan makna Laa ilaha illallah adalah, Laa ma’buda bi haqqin illallah, yaitu tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah. Inilah makna Laa ilaha illallah yang benar.

Adapun terdapat makna-makna yang keliru ketika menafsirkan Laa ilaha illalloh, yang masih beredar dikalangan sebagian masyarakat,

Diantaranya kalimat “Laa ilaha illalloh” ditafsirkan dengan Laa ma’buda illalloh, maknanya Tiada sesembahan selain Allah. Ini makna yang berkonsekuensi batil, karena mengandung makna bahwa setiap sesembahan, baik yang haq maupun yang batil adalah Allah.

Ada pula yang menafsirkan makna “Laa ilaha illallah” dengan Laa khaliqa illallah, yang bermakna Tiada pencipta selain Allah. Ini juga makna yang kurang tepat, karena hanya mengandung sebagian dari kandungan makna “Laa ilaha illallah” yaitu tauhid rububiyah, sementara kandungan makna kalimat “Laa ilaha illallah” ini adalah tauhid ibadah yang mencakup tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyyah.

Andaikan benar makna “Laa ilaha illallah” ditafsirkan dengan “Laa khaliqa illallah” Tiada pencipta selain Allah, maka tentulah Iblis laknatullah ‘alaihi dan orang-orang kafir di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam  termasuk muslim, karena mereka mengakui bahwa Allah Sang Pencipta, Penguasa, Pemilik dan Pemelihara alam jagad raya. Allah Ta’alaa berfirman,

Artinya, “…Katakanlah, ‘Maka apakah kamu tidak ingat?”. Katakanlah: ‘Siapakah Tuhan Pencipta dan Pemelihara langit yang tujuh, dan Tuhan arasy yang agung?”, pasti mereka menjawab, “Alloh”. Katakanlah kepada mereka:,‘mengapa kamu tidak bertaqwa?”. (QS. Al-Mu’minun : 85-87)

Demikian pula, andaikata tafsir ini benar, tentulah orang-orang kafir Quraisy dan yang semisal mereka akan menerima dakwah Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam. Namun nyatanya tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam menyeru mereka “Ucapkanlah : Laa ilaha illallah, niscaya kalian akan beruntung di dunia dan akhirat”, mereka pun lantas membantah dengan ucapan mereka, yang diabadikan Allah Ta’alaa dalam firman-Nya,

Artinya, “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan”. (QS. Shad : 5)

Dan pendapat keliru yang selanjutnya yaitu, kalimat “Laa ilaha illallah” ditafsirkan dengan Laa hakima illallah, yaitu Tiada hakim atau Pembuat hukum kecuali Allah. Makna ini kurang tepat dan tidak sempurna, karena masih saja mengandung sebagian dari kandungan makna “Laa ilaha illallah” yaitu tauhid rububiyah saja. Jelasnya, jika seseorang mentauhidkan Allah dalam hukum, namun bersamaan dengan itu dia beribadah kepada selain Allah, maka tetap saja dia belum merealisasikan tuntutan kalimat tauhid ini.

Makna yang benar dari tafsir “Laa ilaha illalloh” adalah “Laa ma’buda bi haqqin illalloh”, yaitu Tiada sesembahan yang haq atau berhak disembah melainkan Allah. Hal ini berdasarkan Al-Quran surah Shod ayat 5 tadi, di mana orang-orang kafir di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam mengingkari dakwah beliau untuk mentauhidkan Allah, dan menjadikan Allah satu-satunya Dzat yang disembah dengan ucapan mereka:, “Apakah dia menjadikan sesembahan-sesembahan itu hanya satu sesembahan Allah saja?, Sungguh ini sesuatu yang aneh”.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, demikianlah penjelasan singkat terkait makna kalimat syahadat “Laa illaha illallah”, semoga Allah memberikan pemahaman yang benar kepada kita dalam memaknai kalimat yang sangat penting ini, dan semoga kita bisa mengambil faidahnya. Wallahu a’lam… (red/admin)