Larangan penggunaan jilbab di perkantoran di Eropa memicu reaksi LSM Hak Asasi Manusia. Larangan ini dinilai akan menambah diskriminasi atas latar belakang agama.

Amnesty Intenational seperti dikutip Radio Australia, mengungkapkan kekecewaan terhadap keputusan tersebut, dan menyatakan bahwa pelarangan tersebut membuat diskriminasi pekerja makin tegas, wanita dari pria dan atas latar belakang agama.

Organisasi Hak Asasi Manusia lainnya, Open Society Justice Initiative juga mengungkapkan kekecewaan mereka.

Keputusan pelarangan jilbab di perkantoran di Eropa ini memperlemah jaminan kesetaraan di tengah sikap Eropa yang anti diskriminasi.

Belum lama ini, Pengadilan Uni Eropa membolehkan perkantoran melarang karyawannya menggunakan simbol agama, politik, atau filosofi tertentu. Larangan ini muncul setelah seorang Muslimah berjilbab dikeluarkan dari sebuah perusahaan keamanan G4S Belgia karena bersikeras tetap memakai jilbab.

(Republika.co.id)

%d blogger menyukai ini: