Muslimah – Pembaca yang semoga dirahmati Allah, pada kesempatan yang telah lalu kita telah mengetahui kriteria calon suami yang pertama yaitu aqidahnya lurus serta ta’at kepada Allah Ta’ala. Dan di antara kriteria calon suami yang selanjutnya yaitu,

Hendaklah wali dari wanita menetapkan kriteria calon suami yang sesuai dengan petunjuk Islam, yaitu pemuda yang memiliki akhlak mulia dan memiliki komitmen dalam beragama Islam. Jika datang kepada wali wanita seorang pemuda seperti ini maka baiknya sesegera mungkin untuk menikahkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang akhlak dan agamanya kalian ridhoi. Maka nikahkanlah ia, jika kalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar”. (HR. At-Tirmidzi)

Kemudian seorang laki-laki bertanya kepada Hasan bin ‘Ali. “Saya punya seorang putri, siapakah kiranya yang patut jadi suaminya ?” Hasan bin ‘Ali menjawab, “Seorang laki-laki yang bertakwa kepada Allah Ta’alaa. Sebab jika ia senang ia akan menghormatinya dan jika ia sedang marah ia tidak suka dzalim kepadanya”.

Jika pemuda itu berakhlak baik dan memiliki komitmen yang kuat kepada agama Islam, namun ia miskin. Maka sikap kita yaitu bersabar.

Orang-orang yang sholih terdahulu senantiasa memberikan kebaikan bagi anak-anak perempuan mereka, sehingga mereka menahan wanita-wanita mereka dari orang-orang kaya yang mengikuti hawa nafsu. Serta mengedepankan orang-orang miskin yang bertakwa daripada mereka. Karena keyakinan mereka bahwa kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.

Diriwayatkan sebuah peristiwa yang sangat mengagumkan dari Sa’id bin Al-Musayyib rahimahullah seorang ulama tabi’in  yang tidak tergiurkan dengan kekayaan dan jabatan demi untuk memberikan kebaikan kepada putrinya. Suatu ketika Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan datang kepadanya melamar putrinya untuk al-Walid bin Abdul Malik. Putrinya ketika itu adalah wanita yang paling cantik dan paling sempurna. serta paling paham dengan Kitab Allah dan Sunnah, tetapi Sa’id bin al-Musayyib tidak ragu untuk meminta maaf menolak lamarannya. Dan tetap bertahan kendati ia mendapat siksaan yang ditimpakan Abdul Malik kepadanya. Hingga ia mencambuknya seratus cambukan, hal itu karena al-Musayyib tahu sikap al-Walid yang kasar dan selalu memperturutkan hawa nafsu.

Sang alim yang mulia Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah kembali ke Madinah. Lalu diziarahi oleh Abdulloh bin Abi Wada’ah salah seorang muridnya, lantas al-Musayyib bertanya tentang kondisinya hingga ia mengetahui bahwa istrinya telah meninggal. Maka ia berkata kepadanya, “Tidakkah kamu mencari wanita lain?”, Ia menjawab “Semoga Allah Ta’alaa merahmati Anda, siapakah yang akan menikahkanku sedang aku tidak memiliki kecuali dua atau tiga dirham?”. Sa’id berkata kepadanya, “Aku yang akan menikahkanmu”, diabertanya, “Benarkah, Anda akan melakukannya?”. Ia berkata, “Ya”. Lalu dia pun menikahkannya dengan putrinya dengan mahar dua atau tiga dirham.

Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah lebih mengutamakan laki-laki yang fakir tapi bertakwa. Yang memiliki kemampuan dalam agama di atas Amirul Mukminin yang kaya raya. Abdullah bin Abi Wada’ah menuturkan, “Aku pun bangkit. Sedang aku tidak tahu akan berbuat apa lantaran amat bahagia, Aku berjalan pulang ke rumahku dan mulai berpikir kepada siapa aku meminjam uang. Dari siapa aku akan berhutang? Aku pun shalat Maghrib. Lalu beranjak ke rumah, kunyalakan lampu. Dan waktu itu aku sedang berpuasa, aku menyegerakan makan malam ku sebagai buka, yaitu berupa roti dan minyak. Tiba-tiba pintu rumahku ada yang mengetuk, aku bertanya, ‘Siapa?’. Dia menjawab, ‘Sa’id…’. Aku mengingat-ingat setiap orang yang namanya Sa’id, maka tidak ada kecuali Sa’id bin al-Musayyib.

Yang demikian itu, karena ia tidak terlihat selama empat puluh tahun, kecuali di antara rumahnya dan masjid, aku pun keluar untuk menemuinya. Dan ternyata dia adalah Sa’id bin al-Musayyib, aku mengira bahwa dia memiliki sebuah keperluan. Saya berkata, ‘Wahai Abu Muhammad yaitu Sa’id al-Musayyib, sekiranya engkau mengirim utusan kepadaku biar aku yang datang kepadamu’. Sa’id bin Musayyib berkata, ‘Tidak, Kamu lebih berhak untuk didatangi’, Aku berkata, ‘Kalau begitu, apa yang engkau perintahkan?’. Sa’id kembali berkata, ‘Sesungguhnya dahulu kamu seorang bujangan. Maka kamu pun menikah, Aku tidak mau membiarkanmu malam ini tidur seorang diri, ini istrimu’, ternyata ia berdiri di belakangnya, kemudian Sa’id mengambil tangannya dan mendorongnya ke pintu lalu menutupnya, Wanita itu jatuh lantaran malu, Aku menutup ulang pintu itu. Lalu melangkah ke arah mangkuk tempat roti dan minyak, Aku meletakkannya di bayangan lampu agar ia tidak melihatnya, kemudian aku naik ke loteng dan memanggil para tetangga, mereka pun datang, Mereka bertanya, ‘Ada apa denganmu?’. Aku berkata, ‘Sungguh, aku telah dinikahkan oleh Sa’id bin al-Musayyib dengan putrinya hari ini, ia membawanya malam ini tanpa sepengetahuan orang’.

Mereka berkata, ‘Sa’id menikahkanmu?!’. Saya menjawab, ‘Ya’. Mereka bertanya, ‘Sekarang putrinya di rumah ini?!’. Saya menjawab, ‘Ya’. Mereka pun mendatanginya. Berita itu sampai kepada ibuku, dia pun datang seraya berkata, “Wajahku haram dari wajahmu, jika kamu menyentuh istrimu sebelum aku mengarahkannya sampai tiga hari”. Aku pun menunggu selama tiga hari. Kemudian baru mendatanginya. Ternyata dia termasuk wanita yang paling cantik, paling hafal Kitab Allah, paling paham dengan Sunnah dan paling tahu hak suami, Aku tinggal selama sebulan. Sa’id tidak mengunjungiku dan aku pun tidak mengunjunginya. Baru setelah satu bulan, aku datang kepadanya di majelis ta’limnya, aku mengucapkan salam kepadanya. Lalu ia menjawab salamku, dan ia tidak berbicara kepada ku hingga orang-orang yang ada di majelis itu telah bubar.

Sa’id bin Musayyib bertanya, ‘Bagaimana keadaan orang itu (maksudnya putrinya)?’, aku menjawab, ‘Baik, wahai Abu Muhammad, sebagaimana yang dicintai teman, dan dibenci oleh musuh”, Dia berkata, ‘Jika ada yang meragukanmu darinya, maka jangan sampai kamu memukul’, Aku pun pulang ke rumahku, dan dia mengirimkanku uang dua puluh ribu dirham.

Betapa besar ketentraman sosok tabi’in mulia Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah akan masa depan putrinya. Sampai-sampai ia tidak berpikir untuk menanyakan detail keadaannya. Lantaran ketentramannya bahwa dia berada di sisi laki-laki bertakwa yang takut kepada Allah Ta’alaa. Tahu hak-haknya atas dirinya dan juga kedudukannya dari dirinya.

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, demikian pembahasan pada kesempatan kali ini, semoga Allah Ta’alaa memberikan taufiq-Nya kepada kita sehingga kita hidup dengan arahan dan petunjuk dari-Nya. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: