Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Allah, di zaman sekarang ini banyak orang yang megucapkan kalimat “Laa ilaaha Illallah” namun menyalahi tuntutannya. Mereka masih menujukan ibadah atau beribadah dan memberikan persembahan kepada makhluk, seperti menyembelih dan bernadzar untuk kuburan dan penghuninya, meletakkan sesajian sebagai tumbal di tempat-tempat keramat dan angker, di sekitar pepohonan, dan bebatuan, serta bentuk-bentuk persembahan lainnya.

Padahal para ulama telah menjelaskan kepada kita, bahwa kalimat “Laa ilaaha illallah” tidak cukup di ucapkan atau hanya di baca saja. Tetapi lebih dari itu, bahwa syahadat “Laa ilaha illallah“ memiliki konsekuensi yang wajib kita laksanakan, diantaranya yaitu, meninggalkan ibadah kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla. Dan beribadah kepada Allah semata tanpa syirik sedikit pun, sebagai keharusan dari penetapan “illallah”.

Banyak orang yang mengikrarkan “laa ilaaha illallah” tetapi melanggar konsekuensinya. Sehingga mereka menetapkan ketuhanan bagi selain Allah, baik berupa para makhluk, kuburan, pepohonan, bebatuan serta para thoghut lainnya.

Kemudian, terkait hal-hal yang dapat membatalkan Syahadat “Laa ilaaha Illallah”, termasuk pula hal-hal yang membatalkan Islam, karena kalimat syahadat ini pulalah yang membuat seseorang masuk dalam Islam.

Mengucapnya adalah pengakuan terhadap kandungannya, dan konsisten mengamalkan konsekuensinya, berupa segala macam syi’ar-syi’ar Islam. Jika seseorang menyalahi ketentuan ini, berarti ia telah membatalkan perjanjian yang telah diikrarkannya ketika mengucapkan kalimat syahadat ini.

Yang membatalkan Islam itu banyak sekali. Para fuqaha’ dalam kitab-kitab fiqih telah menulis bab khusus yang diberi judul “Bab Riddah” yaitu bab tentang kemurtadan. Dan salah satu yang terpenting adalah Syirik dalam beribadah kepada Allah.

Termasuk di dalamnya yaitu menyembelih karena selain Allah, misalnya untuk kuburan yang dikeramatkan atau untuk jin atau yang semisalnya.

Kemudian, orang yang menjadikan antara dia dan Allah perantara-perantara, berdo’a kepada mereka, meminta syafa’at kepada mereka dan bertawakkal kepada mereka. Orang seperti ini terancam kafir secara ijma’. Orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik, dan orang yang masih ragu terhadap kekufuran mereka atau membenarkan madzhab mereka, juga terancam kafir.

Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam lebih sempurna dari petunjuk beliau, atau hukum yang lain lebih baik dari hukum beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam. Seperti orang-orang yang mengutamakan hukum para thoghut di atas hukum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, mengutamakan hukum atau perundang-undangan manusia di atas hukum Islam, ini pun terancam kafir.

Siapa yang membenci sesuatu dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam, dan menghina sesuatu dari agama Rasul Shallallahu ‘alaihi wassallam atau pahala maupun siksanya, maka ia pun terancam kafir.

Kemudian termasuk pembatal keislaman juga adalah “Sihir”, di antaranya adalah sharf dan ‘athf, yakni amalan yang bisa membuat suami benci kepada istrinya, atau membuat wanita cinta kepadanya, atau yang terkenal dengan pelet. Barangsiapa melakukan atau meridhai hal seperti ini, maka ia batal-lah Islamnya.

Barangsiapa yang meyakini bahwa sebagian manusia ada yang boleh keluar dari syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam, seperti halnya Nabi Hidhir boleh keluar dari syariat Nabi Musa ‘alaihissalam, maka ia terancam  kafir. Sebagaimana yang diyakini oleh sufi yang berlebihan dan melampaui batas, bahwa mereka dapat mencapai suatu derajat atau tingkatan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya.

Syaikh Muhammad At-Tamimy berkata, “bahwa tidak ada bedanya dalam hal yang membatalkan syahadat ini antara orang yang bercanda, yang serius, maupun yang takut, kecuali orang yang dipaksa. Dan semuanya adalah bahaya yang paling besar serta yang paling sering terjadi. Maka setiap muslim wajib berhati-hati dan mengkhawatirkan dirinya, serta mohon perlindungan kepada Allah Ta’alaa dari hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah dan siksaNya yang pedih”.

Untuk itu, dengan didasari kecintaan, kita harus ikhlas dan penuh semangat mengingatkan saudara-saudara seagama kita, dari bahaya-bahaya yang bisa menimpa tauhid mereka. Karena, sikap yang demikian merupakan bentuk implementasi dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam,

Artinya, “tidak sempurna iman salah seorang di antara kita, hingga kita mencintai untuk saudara kita sesuatu yang kita cintai untuk diri kita”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pembaca yang semoga dirahmati Allah, demikian pembahasan ringkas tentang konsekuensi dan pembatal syahadat, semoga bermanfaat. Semoga Allah Ta’alaa menjadikan kita umat yang bersatu dan bersaudara di atas agama tauhid ini dan semoga Allah menguatkan iman serta Islam kita, Aamiin. Wallahu ‘alam… (red/admin)