RIYADH  – Koalisi militer pimpinan Arab Saudi telah mengumumkan akhir dari perjanjian gencatan senjata di Yaman yang menurut mereka berulang kali dilanggar oleh milisi Syiah Houtsi dan sekutunya.

Sebuah pernyataan di Twitter oleh kantor berita Saudi SPA mengutip pernyataan pejabat mengatakan bahwa gencatan senjata berakhir pada Sabtu (2/1/2016) pukul 11.00 waktu setempat, seperti dilansir Al Jazeera.

Gencatan senjata dimulai pada 15 Desember tahun lalu dan bertepatan dengan pembicaraan damai yang disponsori PBB di kota Jenewa, Swiss.

Meskipun terikat perjanjian gencatan senjata, kedua belah pihak terus terlibat dalam aksi militer.

“Koalisi telah dan masih sangat ingin menciptakan kondisi yang tepat untuk menemukan solusi damai,” klaim pernyataan pejabat koalisi pimpinan Saudi seperti dilaporkan SPA.

Dikatakan bahwa gencatan senjata tidak bisa dipertahankan karena “milisi Houtsi dan pasukan Saleh terus-menerus melanggarnya”.

Pernyataan pers datang setelah koalisi mengumumkan bahwa pasukan pertahanan udara Saudi telah mencegat rudal balistik yang ditembakkan dari Yaman menuju kota Abha pada Jum’at (1/1).

“Peluncur terletak dan dihancurkan di Yaman,” ujar pernyataan pers koalisi pimpinan Saudi.

Pada Kamis (31/12), tiga warga sipil termasuk dua orang anak tewas dalam serangan rudal lintas perbatasan dari Yaman ke daerah pemukiman di wilayah Jizan, barat daya Arab Saudi.

Sebelas lainnya luka-luka, di antaranya sembilan anak, menurut pertahanan sipil Saudi.

Saudi telah mengerahkan rudal Patriot yang dirancang untuk melawan serangan dan baru-baru ini mencegat rudal yang ditembakkan dari Yaman yang terjadi hampir setiap harinya.

Lebih dari 80 orang, sebagian besar dari mereka tentara dan penjaga perbatasan, telah tewas dalam penembakan dan bentrokan lintas perbatasan di selatan Arab Saudi sejak operasi militer oleh koalisi pimpinan Saudi dimulai di Yaman. (Adin/Salamfm/haninmazaya/arrahmah)