Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, sebagaimana telah kita ketahui bahwa Alloh Ta’alaa telah memuliakan kita manusia dibandingkan makhluk lainnya, dengan menganugerahkan akal. Aqidah Islamiyah senantiasa memuliakan akal yang shahih, serta mengagungkannya dan mengangkat kedudukannya. Demikian pula aqidah Islamiyah tidaklah membekukan atau mengungkung akal dan tidak pula mengingkari kecemerlangannya.

Islam tidak ridha terhadap seorang muslim yang melenyapkan cahaya akalnya, dan kemudian lebih condong kepada taqlid buta dalam memahami persoalan di seputar keyakinan maupun yang selainnya. Bahkan seorang muslim dituntut untuk berpikir dengan benar tentang kebesaran langit maupun bumi, tentang keadaan dirinya, dan tentang ayat-ayat Alloh yang ada di sekitar dia.  Dengan demikian ia akan menjangkau segala rahasia dibalik penciptaan alam ini, serta mengenal hakikat kehidupan di dunia ini. Maka melalui perantara berpikir seperti inilah akan mengantarkan seseorang kepada banyak keyakinan yang sesuai dengan batas kemampuan akalnya.

Sebaliknya, Islam sangat mencela orang-orang yang mengebiri peran akalnya, dan sekedar mengikuti rujukan-rujukan yang dikarang oleh nenek moyang mereka dengan tanpa mengoptimalkan potensi akalnya, serta mengambil pelajaran darinya dan kosong dari bimbingan ilmu. Walaupun Islam memiliki pandangan demikian terhadap akal, akan tetapi Islam tetap memberikan batasan-batasan wilayah kerja akal sehingga dapat lebih proporsional dalam memfungsikannya.

Pembatasan ini semata-mata untuk melindungi akal tersebut, sehingga akal tidak terpecah konsentrasinya dan tidak tercerai-berai dalam memahami segala perkara ghaib. Karena sesungguhnya akal itu tidak mampu menjangkaunya serta menyibak hakikat di balik itu semua. Perkara ghaib yang dimaksud seperti Dzat Alloh Ta’alaa, eksistensi ruh, surga, neraka dan  lainnya. Karena akal manusia memiliki wilayah kerjanya sendiri. Maka apabila ia tidak berupaya menempuh bidang yang sebenarnya telah disediakan bagi akal itu, sungguh ia akan sesat dan meraba-raba dalam memahami perkara yang tersembunyi dan mustahil untuk dicapainya.

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui peran akal, akan tetapi membatasi wilayah kerjanya sehingga tidak melampaui batas dalam memfungsikan akal serta tidak meremehkan perannya dalam kehidupan. Lantas, apa sebenarnya hakikat akal itu?

Kata ‘Aql dalam bahasa Arab  mempunyai beberapa arti, di antaranya : Ad-diyah atau denda, al-hikmah atau kebijakan, dan husnut tashorruf atau tindakan yang tepat. Secara istilah akal digunakan untuk dua pengertian,

Pertama, hal-hal mendasar yang dapat dipahamai secara  rasional dan pengetahuan-pengetahuan dasar yang ada pada setiap manusia.

Kedua, Kesiapan bawaan yang bersifat ghorizah atau naluri dan kemampuan yang matang. Akal merupakan bagian dari indera yang ada dalam diri manusia, yang bisa ada dan bisa hilang. Sifat ini dijelaskan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam dalam salah satu sabdanya:

وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَعْقِلَ

Artinya, “…Dan dari orang gila sampai ia kembali berakal”. (HR. Abu Dawud)

Akal adalah daya pikir yang diciptakan Alloh Subhanahu wa Ta’alaa untuk manusia, kemudian diberi muatan tertentu berupa kesiapan dan kemampuan yang dapat melahirkan sejumlah aktivitas pemikiran yang berguna, bagi kehidupan manusia yang telah dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Alloh Ta’alaa berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

Artinya, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan….”. (QS. Al-Isro : 70)

Syari’at Islam memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia. Hal itu dapat dilihat pada beberapa hal, di antaranya,

Pertama, Alloh Ta’alaa hanya menyampaikan kalam-Nya kepada orang yang berakal, karena hanya mereka yang dapat memahami agama dan syari’at-Nya.

Alloh Ta’alaa berfirman,

وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya, “…Dan merupakan peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal”. (QS. Shod : 43)

Yang Kedua, Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif atau beban hukum dari Alloh ‘Azza wa Jalla. Hukum-hukum syari’at tidak berlaku bagi mereka yang tidak menerima taklif. Di antara yang tidak menerima taklif itu adalah orang gila karena kehilangan akalnya. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَعْقِلَ.

Artinya, “Pena catatan pahala dan dosa diangkat atau dibebaskan dari tiga golongan: orang yang tidur sampai bangun, anak kecil sampai baligh, dan orang gila sampai ia kembali berakal”. (HR. Abu Dawud)

Yang Ketiga, Alloh ‘Azza wa Jalla mencela orang yang tidak menggunakan akalnya. Misalnya celaan Alloh terhadap ahli Neraka yang tidak menggunakan akalnya, Alloh Ta’alaa berfirman,

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Artinya, “Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan peringatan itu niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni Neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mulk : 10)

Yang Keempat, Penyebutan begitu banyak proses dan anjuran berfikir dalam Al-Qur-an, seperti tadabbur, tafakkur, ta-aqqul dan lainnya. Seperti dalam firman Alloh Ta’alaa,

…كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Artinya, “…Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”. (QS. Al-Baqoroh : 219)

Yang Kelima, Islam mencela taqlid yang membatasi dan melumpuhkan fungsi dan kerja akal. Taqlid sendiri pengertiannya adalah menerima pendapat orang lain tanpa dilandasi dalil.

Ibnu Khuwaiz Mindad al-Maliki Rohimahulloh menjelaskan bahwa makna taqlid secara syar’i adalah merujuk kepada perkataan yang tidak ada dalil atas orang yang mengatakannya. Dan makna ittiba’ yaitu mengikuti apa-apa yang berdasarkan atas hujjah (dalil) yang tetap. Ittiba’ diperkenankan dalam agama, namun taqlid dilarang.”

Alloh Ta’alaa berfirman,

Artinya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka : ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh, mereka menjawab : ‘Tidak! Tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami’. Apakah mereka akan mengikutinya juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS. Al-Baqoroh : 170)

Yang Keenam, Islam memuji orang-orang yang menggunakan akalnya dalam memahami dan mengikuti kebenaran. Alloh Ta’alaa berfirman,

Artinya, “…Sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (QS. Az-Zumar : 17-18)

Yang Ketujuh, adanya pembatasan wilayah kerja akal dan pikiran manusia. Hal ini sebagaimana firman Alloh Ta’alaa,

Artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu adalah urusan Rabb-ku. Dan tiadalah kalian diberi ilmu melainkan sedikit”. (QS. Al-Isro : 85)

Ulama salafush sholih senantiasa mendahulukan naql (dalil) dari pada akal. Naql adalah dalil-dalil syar’i yang tertuang dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah. Mendahulukan dalil naqli atas dalil akal bukan berarti Ahlus Sunnah tidak menggunakan akal. Tetapi maksudnya adalah dalam menetapkan ‘aqidah, mereka tidak menempuh cara seperti yang ditempuh para ahli kalam yang menggunakan akal semata untuk memahami masalah-masalah yang sebenarnya tidak dapat dijangkau oleh akal, dan menolak dalil syar’i yang bertentangan dengan akal mereka atau rasio mereka.

Secara ringkas pandangan Ahlus Sunnah tentang penggunaan akal adalah,

Pertama, Syari’at didahulukan atas akal, karena syari’at itu ma’shum sedangkan akal tidak ma’shum.

Kedua, Akal mempunyai kemampuan mengenal dan memahami yang bersifat global, tidak bersifat detail.

Ketiga, Apa yang benar dari hukum-hukum akal pasti tidak bertentangan dengan syari’at.

Keempat, Apa yang salah dari pemikiran akal adalah apa yang bertentangan dengan syari’at.

Yang kelima, Penentuan hukum-hukum yang rinci seperti wajib, haram dan seterusnya adalah hak prerogatif syari’at.

Keenam, Akal tidak dapat menentukan hukum tertentu atas sesuatu sebelum datangnya wahyu, walaupun secara umum ia dapat mengenal dan memahami yang baik dan buruk.

Ketujuh, Balasan atas pahala dan dosa ditentukan oleh syari’at.

Kedelapan, Janji Surga dan ancaman Neraka sepenuhnya ditentukan oleh syari’at.

Kesembilan, Tidak ada kewajiban tertentu terhadap Alloh ‘Azza wa Jalla yang ditentukan oleh akal kita kepadaNya. Karena Alloh Ta’alaa mengatakan tentang DiriNya,

فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

Artinya, “Dia Maha Kuasa berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya”. (QS. Al-Buruj : 16)

Dari sini dapat dikatakan bahwa keyakinan Ahlus Sunnah adalah yang benar dalam masalah penggunaan akal sebagai dalil. Jadi, akal dapat dijadikan dalil jika sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah atau tidak bertentangan dengan keduanya. Jika akal bertentangan dengan keduanya, maka ia dianggap bertentangan dengan sumber dan dasarnya.

Oleh karena itu, kita berdoa kepada Alloh, semoga Dia menunjukkan kepada akal kita untuk memahami keagungan-Nya, keagungan penciptaan-Nya, memahami syariat-Nya dan mentadabburi kalam-Nya. Dan menghindarkan kita dari akal yang menyimpang, akal yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan pada kesempatan kali ini semoga bermanfaat. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: