Kamis, 15 Dzulqo’dah 1437 H / 18 Agustus 2016

Pertanyaan.

Pak ustadz bagaimana hukumnya bila seorang istri memasukkan seorang laki-laki mantan suaminya kedalam rumah tanpa seizin suami, pada saat suami sedang bekerja?

Jawaban :

Rumah keluarga adalah rumah kemuliaan dan kehormatan. Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan kedua suami istri saling menjaganya. Terutama istri, yang secara khusus Allahsubhanahu wa ta’ala perintahkan agar menjaga amanah di rumah suaminya. Karena istri adalahrabbatul bait (ratu di rumah suaminya), yang bertugas menjaga rumah suaminya. Diantara ciri wanita shalihah, Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam al-Quran:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Sebab itu wanita yang salehah, adalah yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka.” (QS. an-Nisa: 34)

Dan upaya wanita menjaga kehormatan dirinya, harta suaminya dan rumahnya, merupakan hak suami yang menjadi kewajiban istri. Jabir rodhiallohu anhu menceritakan, dalam haji wada’ Rasulullah sholallohu alaihi wasallam menyampaikan pesan dalam khutbahnya:

“Bertaqwalah kepada Allah terkait hak istri-istri kalian. Kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah, dan kalian halal berhubungan dengan mereka karena Allah halalkan melalui akad. Hak kalian yang menjadi kewajiban mereka, mereka tidak boleh memasukkan lelaki di rumah. Jika mereka melanggarnya, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Sementara mereka punya hak disediakan makanan dan pakaian dengan cara yang wajar, yang menjadi kewajiban kalian.” (HR. Muslim)

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyah disebutkan bahwa:

“Hak suami yang menjadi kewajiban istrinya, dia tidak boleh mengizinkan seorangpun masuk rumah, kecuali dengan izin suaminya. Berdasarkan hadis dari Abu Hurairah rodhiallohu anhu, Rasulullah sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Tidak halal bagi wanita untuk puasa sunah, sementara suaminya ada di rumah, kecuali dengan izin suaminya. Dan istri tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya kecuali dengan izin suaminya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ibnu Hajar menukil keterangan dari an-Nawawi mengenai hadits ini, bahwa:

Bahwa dalam hadis ini terdapat isyarat, bahwa istri tidak boleh memutuskan sendiri dalam memberi izin masuk rumah, kecuali dengan izin suami. Dan ini dipahami untuk kasus yang dia tidak tahu apakah suami ridha ataukah tidak. Namun jika dia yakin suami ridha dengan keputusannya, tidak menjadi masalah baginya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah)

Sebagai contoh, tamu yang tidak perlu izin dari suami, tamu dari kerabat suami atau kerabat istri. Mereka bisa dipersilahkan masuk, selama masih mahram dengan istri. Tetapi jika yang datang tamu asing, bukan keluarga suami maupun istri, sementara suami tidak ada di rumah, maka istri tidak boleh mengizinkan masuk tamu itu.

Jika tamu menyampaikan salam, istri cukup menjawab salamnya dengan pelan dari dalam tanpa membukakan pintu. Jika tamu menyadari  ada penghuni di dalam, dan dia minta izin masuk, cukup sampaikan bahwa suami tidak di rumah dan tidak boleh diizinkan masuk.

Dengan demikian, tidak boleh seorang istri memasukkan orang lain ke rumah suaminya kecuali dengan izinnya. Terlebih lagi yang datang adalah mantan suaminya, dan suaminya sedang bekerja. Maka, jika seorang istri memasukkannya sedangkan dirumahnya tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya, maka ini jauh lebih terlarang lagi, karena termasuk kholwat atau berdua-duaan, yang bisa menjerumuskan kepada perbuatan zina. Wal iyyadzu billah. Semoga Allah menjaga keluarga kaum muslimin.

Wallahu a’lam…

Dijawab Oleh : Tim Lajnah Ilmiyah SALAM FM