Oleh: Arifin, S.H.I

Pacaran merupakan kemaksiatan yang dianggap asyik lagi menyenangkan bagi sebagian kalangan. Memang setanlah yang menghiasai keindahan pacaran dengan segudang kebaikan. Jadilah, manusia menganggap bahwa pacaran suatu yang indah lagi menawan.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya’.” (QS. Hijr [15]: 39)

Mayoritas manusia pada saat ini menganggap bahwa pacaran merupakan hal yang biasa, wajar, dan lumrah. Padahal menurut hukum Islam pacaran dilarang. Alasan mereka yang berpacaran bervariasi, salah satu alasan yang populer adalah pacaran sebagai ajang mengenal jati diri masing-masing pasangan sebelum melangkah menuju pintu gerbang pernikahan. Itulah salah satu alasan yang sering dilontarkan oleh kebanyakan orang yang sedang memadu cinta palsu dan kasih sayang semu. Ada hal yang menarik yang perlu kita perbincangkan. Kenapa pacaran dikatakan sebagai cinta palsu dan kasih sayang semu?

Saudaraku… Saat seorang menjalin asmara jahiliyyah (pacaran) maka ia berusaha tampil sebaik mungkin di hadapan belahan hatinya. Sang pangeran cintapun berusaha sekuat tenaga mengucapkan kata-kata lembut, menawan, sopan santun, dan penuh makna. Pujianpun sering meluncur dari lisannya untuk tambatan hatinya. Hadiah barang berharga sering diberikan buat kekasihnya. Ia sering menyapa pasangannya lewat pesan singkatnya. Bahkan menghubungi lewat telpon, atau jejaring sosial menjadi aktivitas sehari-harinya.

Sang pangeran pun berpenampilan menawan. Baju yang dikenakannya tak seperti biasanya. Aroma wangipun tercium dari tubuhnya. Semua ini dikerjakan demi meraih cinta palsu tambatan hatinya. Meskipun pada kenyataannya sifat yang dimiliki pangeran cinta berbeda 180 derajat. Sejatinya ia seseorang yang berwatak kasar, keras kepala, emosi, dan berprilaku buruk lainnya.

Sang ratupun cintapun tak ketinggalan menyuguhkan penampilan terbaiknya. Berpenampilan rupawan, indah, mempesona dan menarik hati untuk lelaki pujaan hatinya. Ia berusaha melembutkan suara di hadapan pangerannya. Kata-kata manispun sering terucap dari lisannya. Busana indah sering dikenakan untuk menyambut kehadirannya. Tampil ceria, bahagia, dan menyenangkan demi meraih cinta palsunya.

Inilah relalita yang ada tentang pacaran. Pelaku pacaran, baik lelaki atau wanita memiliki kepribadian ganda dan bersifat mengada-ngada dengan menutupi sifat dan watak sebenarnya. Sifat baik dan mulia dimunculkan sementara sifat buruk tak dinampakan karena sama-sama menjaga image (jaim).

Efek Asmara Jahiliyyah

Saudaraku… Asmara jahiliyyah yang terjadi antara sepasang lelaki dan wanita pada hakikatnya menjerumuskan keduanya ke kubangan dosa. Saat sepasang lelaki dan wanita menjalani asmara jahilyyah, maka setan berusaha mengobarkan syahwat mereka berdua menjadi membara. Setan menjadikan asmara jahilyyah di mata pelakunya begitu indah, menyenangkan, dan membahagiakan. Bahkan setan melenyapkan rasa malu dan sungkan mereka berdua untuk melakukan kedurhakaan kepada Alloh subhanahu wa ta’ala berupa penodaan kesucian dan kehormatan.

Siapa saja yang sedang mabuk asmara, niscaya senantiasa akan senantiasa mengingat dia. Tidur mengingat dia, makan dan minum mengingat dia, bahkan ketika menunaikan ibadah sholat mengingat dia, na’udzubillah min dzalik. Akibatnya, manis dan lezatnya peribadahan sholat terampas dari hatinya. Lezatnya membaca dan merenungi kalam Ilahi akan sirna disebabkan senantiasa mengingat tambatan hatinya. Kekalutan pikiran, kegersangan jiwa, kesempitan hati, dan kesengsaran sanubari kerap menimpa dirinya sebagai akibat perbuatan dosa yang dilakukannya.

Ingat! Asmara jahiliyyah pada hakikatnya jalan menuju kebinasaan dan kehancuran. Ungkapan kata-kata manis dan gombal pun sering ditancapkan setan kepada hati pasangan yang sedang memadu kasih dan cinta.  Sehingga terucap dalam lisan mereka ungkapan yang merusak akidah, “demi cintaku padamu, aku rela mati.”

Dari rayuan gombal inilah, banyak pasangan yang melakukan perzinaan dengan alasan “suka sama suka” untuk menutupi perbuatan dosa mereka-, na’udzubillah mindzalik. Malangnya, setelah pasangannya mengandung sang pangeran cinta pun meninggalkan begitu saja. Ibarat pepatah, ”Habis manis sepah dibuang.” Seandainya dinikahipun tetap saja cinta tersebut ternoda dan penuh aib serta tercoreng di mata manusia lebih-lebih di mata agama. Sebab agama melarang menikahi wanita yang hamil.

Menikahlah, hidup menjadi indah dan bernilai ibadah

Oleh karena itu kami himbau kepada para pemuda dan pemudi, buktikan cintamu dengan menikah! Dengan menikah, Anda akan menyemai pahala luar biasa. Kerinduan Anda dengan pasangan memancarkan pahala. Memberikan nafkah lahir dan batin kepadanya membuahkan balasan pahala. Kata-kata manis yang membangkitkan gelora cinta pasangan Anda, akan merekatkan kasih sayang. Penampilan Anda yang menawan dan rupawan di hadapannya bernilai ibadah.

Ingat pula! Dengan menikah Anda akan menemukan cinta sejati. Dengan menikah akan dijumpai kesetiaan atau tidaknya cinta antara dua insan yang berbeda. Dengan menikah akan bersemilah benih-benih cinta ketika melihat pasangannya peduli, membantu, dan perhatian. Dengan menikah Anda akan berbagi kebahagiaan dan kesedihan. Dengan menikah saling dekatnya kekasih dengan kekasihnya serta sikap lemah lembut kepadanya. Dengan menikah setiap pasangan suami istri akan memberikan kebaikan buat pasangannya. Dengan menikah akan terwujudkan ketenangan, ketentraman, dan kasih sayang.

Inilah tujuan pernikahan sebagaimana yang Alloh subhanahu wa ta’ala firmankan dalam kitab suci-Nya,

 وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kalian rasa kasih dan sayang.” (QS. Rum [30]: 21)

Wallohu a’lam…