Motivasi Islami – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, sebagaimana kita ketahui bahwa Al-Quran tidak diturunkan secara sekaligus, akan tetapi berangsur-angsur. Lalu kenapa Al-Quran tidak diturunkan secara sekaligus dalam satu kali?.

Pertanyaan itu juga pernah diutarakan oleh kaum musyrikin Quraisy kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam. Ini sebagaimana Alloh Ta’alaa berfirman,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

Artinya, “Berkatalah orang-orang kafir, ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?.’ Demikianlah, supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil”. (QS. Al-Furqon : 32)

Menurut Az-Zuhaili dalam At-Tafsiir Al-Muniir, ayat ini menyebutkan salah satu syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang musyrik Makkah terhadap kenabian Muhammad Shollallohu ‘alaihi wassallam. Setelah menyatakan bahwa Al-Quran hanyalah kedustaan dan dongeng orang-orang terdahulu, kemudian di ayat ini mereka melontarkan pertanyaan yang bermaksud menyebarkan syubhat atau keraguan, bahwa jika memang Al-Quran tersebut benar-benar berasal dari Alloh, mengapa ia tidak diturunkan secara langsung saja seluruhnya, sebagaimana Taurat diturunkan secara langsung seluruhnya kepada Musa?.

Alloh Ta’alaa kemudian menjawab syubhat mereka ini, bahwa Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur, selama 23 tahun, menyesuaikan dengan peristiwa dan kejadian yang ada di masa Nabi, di antara hikmah dari penurunan Al-Quran secara berangsur-angsur adalah,

Yang pertama, untuk mengokohkan hati Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam dan orang-orang beriman terhadap syariat Alloh Ta’alaa, sekaligus memudahkan mereka dalam menghafal Al-Quran, memahaminya dan mengamalkan hukum-hukum yang ada di dalamnya secara mendalam dan menyeluruh.

Umat Islam generasi awal kebanyakan adalah umat yang buta huruf. Umat yang buta huruf ini, tidaklah mudah bagi mereka menghafal seluruh Al-Quran seandainya Al-Quran diturunkan sekaligus, dan tidak mudah pula bagi mereka memahami maknanya dan mentadabburi ayat-ayatnya. Turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur merupakan bantuan yang terbaik bagi mereka untuk menghafal dan memahami ayat-ayatnya.

Setiap kali turun satu atau beberapa ayat, para shahabat segera menghafalnya, mentadabburi maknanya, dan mempelajari hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.

Yang kedua, menghilangkan beban berat atas para mukallaf atau orang yang terbebani syariat. Seandainya seluruh taklif syariah yang ada dalam Al-Quran diturunkan secara langsung sekaligus, maka orang-orang beriman akan mengalami kesulitan dalam mengamalkannya.

Yang ketiga, pertemuan Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam dengan Jibril waktu demi waktu saat menerima wahyu, membantu menguatkan dan memberi kesabaran kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam saat menyampaikan risalah dan menghadapi keburukan dari kaumnya. Sehingga setiap wahyu yang baru turun, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam kembali merasa ringan dari segala tekanan dakwah yang selama itu beliau hadapi.

Yang keempat, pentingnya proses bertahap dalam pensyariatan. Kaum yang telah memiliki kebiasaan umum yang telah mengurat mengakar, sulit untuk diubah secara langsung dan drastis. Seandainya itu dilakukan, maka tentu mereka akan menolaknya.

Hal ini sesuai dengan riwayat dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘anha, beliau Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda,
Artinya, “Seandainya ayat yang pertama kali turun adalah ‘Janganlah kalian minum khamar’, niscaya orang-orang akan berkata, ‘Selamanya kami tidak mau meninggalkan khamar. Begitu pula jika ayat yang pertama kali turun, ‘janganlah kalian berzina, niscaya mereka akan berkata, ‘Selamanya kami tidak akan meninggalkan zina”. (HR. Bukhori)

Oleh karena itu, dengan hukum syariat yang bertahap, orang akan lebih mudah menerima syariat dan tidak merasa terbebani dan terkejut dengan perubahan. Apalagi merubah kebiasaan yang sudah lama.

Selain itu, Al-Quran sengaja diturunkan berangsur-angsur untuk menjadikan kesan yang mendalam di hati kaum muslimin, yakni ketika terjadi suatu peristiwa kemudian Alloh Ta’alaa menurunkan wahyuNya berkaitan dengan peristiwa tersebut, bagaimana hukumnya, setiap kali terjadi suatu peristiwa di antara mereka, maka turunlah hukum mengenai peristiwa itu yang memberikan kejelasan statusnya, sebagai petunjuk dan peletakan dasar-dasar tasyri’i bagi mereka. Sesuai dengan situasi dan kondisi, satu demi satu. Dan cara demikian ini menjadi obat bagi hati mereka.

Pada mulanya Al-Quran meletakkan dasar-dasar keimanan-keimanan dan aqidah, Al-Quran menegakan hujjah dan bukti sehingga kepercayaan syirik bisa dibasmi. Setelah aqidah mengakar kuat dalam jiwa-jiwa muslim, barulah Alloh menurunkan ayat-ayat tentang syariat, seperti pengharaman khomr dan zina.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, itulah beberapa hikmah dari penurunan Al-Quran secara berangsur-angsur, semoga hal ini bisa mempertebal keimanan kita sekaligus menambah wawasan keislaman kita. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: