Tazkiyatun Nafs – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah ketika mendefinisikan hawa nafsu ia mengatakan bahwa hawa nafsu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang selaras dengan keinginan.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan tentang hawa nafsu ini bahwa terkadang dimutlakkan penyebutan hawa dengan makna cinta dan kecondongan maka termasuk di dalamnya kecondongan kepada kebenaran dan selainnya.

Adapun Asy-Sya’bi rahimahullah mengatakan bahwa hawa nafsu dinamakan al-hawa karena bisa menjerumuskan pemiliknya ke dalam Neraka.

Orang yang memperturutkan hawa nafsu hakikatnya mencari kenikmatan semu dan kepuasan nafsu sesaat di dunia tanpa berpikir panjang akibatnya walaupun harus rela kehilangan kenikmatan yang hakiki di dunia dan Akherat.

Lalu apakah hawa nafsu itu tercela?

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan bahwa hawa nafsu diciptakan ada pada diri manusia guna menjaga kelangsungan hidupnya. Sebab kalaulah tidak ada nafsu makan minum dan nikah tentulah manusia akan mati dan punah karena tidak makan minum dan menikah. Hawa nafsu mendorong manusia meraih perkara yang diinginkannya sedangkan marah mencegahnya dari perkara yang mengganggunya dalam kehidupannya. Maka tidak selayaknya hawa nafsu dicela atau dipuji secara mutlak tanpa pengecualian. Sebagaimana marah tidak boleh dicela atau dipuji secara mutlak pula.

Namun mengapa banyak disebutkan celaan terhadap hawa nafsu?

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan bahwa ketika sikap yang sering terjadi pada orang yang mengikuti hawa nafsu syahwat dan amarah tidak bisa berhenti sampai pada batas mengambil manfaat saja darinya karena itulah banyak disebutkan nafsu syahwat dan amarah dalam konteks yang tercela. Karena dominannya bahaya yang ditimbulkannya dan jarang orang yang mampu bersikap tengah-tengah dalam hal mengatur nafsu syahwat dan amarahnya.

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa bisa pula digunakan secara khusus untuk makna kecintaan terhadap kebenaran dan tunduk kepada Alloh dengan mengamalkannya.

Beliau juga berkata bahwa makna yang dikenal luas didalam penggunaan kata hawa nafsu secara mutlak tanpa terikat dalam kondisi tertentu adalah kecondonggan kepada sesuatu yang menyelesihi kebenaran.

Kebanyakan manusia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan adil tidak bisa bersikap tengah-tengah antara berlebih-lebihan dan menelantarkan hawa nafsu. Yang sering terjadi adalah seseorang mengikuti hawa nafsu syahwat dan amarahnya. Karena itulah hawa nafsu sering disebutkan  dalam konteks yang tercela.

Pada asalnya hawa nafsu itu adalah kecondongan jiwa kepada sesuatu yang disukai lalu jika condongnya kepada sesuatu yang sesuai dengan syari’at maka terpuji namun sebaliknya jika kecondongannya  kepada sesuatu yang bertentangan dengan syari’at maka tercela.

Sedangkan jika disebutkan hawa nafsu secara mutlaq tanpa terikat dalam kondisi tertentu atau disebutkan tentang celaan terhadap hawa nafsu maka yang dimaksudkan dalam konteks itu adalah hawa nafsu yang tercela.

Jadi dalam menjalani kehidupan hawa nafsu yang terpuji ibarat teman perjalanan bagi kita sedangkan hawa nafsu yang tercela adalah musuh kita.

Alloh Ta’alaa mencela ittiba’ul hawa yaitu mengikuti hawa nafsu di beberapa ayat yang banyak dalam Al-Qur`an, di antaranya adalah firman Alloh Ta’alaa,

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Artinya, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”. (QS. Al-Furqan : 43)

Dan dalam ayat lainnya Alloh Ta’alaa berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُون

Artinya, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Alloh membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh membiarkannya sesat. Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?”. (QS. Al-Jatsiyah : 23)

Dan juga firman –Nya,

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya, “Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka belaka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Qashash : 50)

Perlu kita ketahui pula bahwa hawa nafsu meliputi dua hal yaitu syubhat dan syahwat. Mengikuti hawa nafsu yang tercela bisa dalam masalah beragama seperti penyakit syubhat atau dalam masalah syahwat dunia yaitu penyakit syahwat atau dalam kedua penyakit tersebut sekaligus.

Para Ulama merinci bahwa jika terkait dengan hawa nafsu jenis syubhat maka bisa sampai menjerumuskan seseorang ke dalam ahlul ahwa`. Adapun hawa nafsu jenis syahwat maka terbagi dua yaitu dalam perkara yang mubah seperti makan minum dan pakaian dan bisa juga dalam perkara yang diharamkan seperti zina khamr dan pelakunya dinamakan dengan fajir fasiq atau pelaku maksiat.

Terkait hal ini Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan bahwa seluruh maksiat tumbuh dari sikap mendahulukan hawa nafsu di atas kecintaan kepada Alloh dan Rasul-Nya.

Beliau juga berkata bahwa demikian pula para pembuat syariat baru dalam hal ibadah sesungguhnya hal ini hanyalah muncul dari sikap mendahulukan hawa nafsu di atas syari’at oleh karena itu mereka disebut dengan ahlul ahwa`. Demikian pula kemaksiatan sesungguhnya maksiat hanyalah terjadi karena sikap mendahulukan hawa nafsu di atas kecintaan kepada Allohl dan kecintaan kepada apa yang Alloh cintai.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah penjelasan singkat terkait “Hawa Nafsu” yang bisa kita bahas pada kesempatan kali ini semoga bermanfaat dan semoga Alloh memelihara setiap hawa nafsu yang kita miliki dan mengarahkannya kepada hal-hal yang positif, Aamiin. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: