Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, kita tentu masih ingat bagaimana ketaatan para salafus shalih terhadap Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam. Yaitu ketika Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam shalat, kemudian beliau berdiri di atas mimbar dan berkata kepada para sahabat, “duduklah kalian”. Pada waktu itu Abdullah bin Mas’ud datang terlambat ke masjid, namun ketika beliau hendak masuk ke dalam masjid, beliau mendengar perintah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam tersebut, lantas beliau pun duduk di luar masjid dan tidak melangkah masuk ke dalam masjid. Ketika Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam melihat beliau, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam pun berkata, “Majulah wahai Abdullah, semoga Alloh Ta’alaa menambahkan ketaatanmu kepada Alloh  dan kepada Rasul”.

Dan para shahabiyyat pun mempunyai bagian yang tak kalah besarnya di dalam ketaatan mereka kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Ketika Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam tengah duduk di antara para sahabat yang terbunuh dan terluka pada waktu perang Uhud, beliau melihat seorang wanita berlari menuju sahabat yang terbunuh, maka beliau pun berkata, “Cegahlah wanita itu, cegahlah wanita itu”. Maka berkatalah Zubair bin ‘Awwam, “Ketika itu, terbetiklah di dalam pikiranku bahwa wanita itu adalah ibuku Shafiyyah binti Abdil Muththalib, maka aku pun berusaha mencegahnya, akan tetapi dia memukulku dan menyingkirkanku, maka aku pun berkata, “Sesungguhnya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam melarangmu untuk pergi”. Maka dia pun berhenti dan memberikan kain kafan seraya berkata, “Pergilah engkau, dan kafanilah Hamzah”.

Coba kita lihat bagaimana seorang wanita patuh kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, walau pun dia merasakan kesedihan yang sangat dalam ketika kehilangan saudara laki-lakinya.

Beginilah kondisi para salafus shalih di dalam ketaatan mereka kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam dan begini pulalah seharusnya kita bersikap terhadap perintah dan larangan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Berapa banyak kita menyaksikan manusia hidup dengan kondisi yang sangat buruk dan sangat memprihatinkan, mereka berusaha mencari pekerjaan tapi tidak berhasil, masalah selalu timbul di dalam keluarganya, segala sesuatu selalu dia rasakan sangat sulit, disaat seperti ini hendaknya kita mengoreksi diri sendiri, mungkin cobaan ini datang karena kita selalu menyelisihi Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Bukan itu saja, sesungguhnya mereka yang menyelisihi sunnah, atau sengaja menyelisihi sunnah, mereka terancam akan mendapatkan hukuman, tidak hanya di akhirat tetapi mereka pun terancam mendapatkan hukuman di dunia sebelum hukuman di akhirat.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki makan bersama Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam dengan tangan kirinya, maka Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam pun menegurnya seraya berkata, “makanlah dengan tangan kanan”. Orang tersebut berkata, “Saya tidak bisa”. Maka Rosululloh pun berkata seraya mendoakan atas orang tersebut, “Semoga kamu tidak bisa mengangkat tanganmu lagi, tidak ada yang menghalangimu melainkan sikap sombong”. Perawi hadits ini mengatakan, “Maka setelah itu, dia tidak bisa lagi mengangkat tangan ke mulutnya”. (HR. Muslim)

Alloh Ta’alaa memberikan hukuman kepada orang tersebut hanya karena dia berpaling dari sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Sesungguhnya permasalahan ini bukanlah permasalahan kecil atau sepele, akan tetapi ini merupakan permasalahan yang sangat serius dan berat sekali, ini permasalahan antara surga dan neraka. Kalau kita menginginkan surga, maka jalan menuju surga terbuka lebar, jalan menuju surga adalah dengan mengikuti sunnah Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, dengan memenuhi secara sempurna semua perintah Rasul Shollallohu ‘alaihi wassallam. Akan tetapi, apabila kita justru memilih jalan lain, jalan menuju neraka, maka semua terserah kepada kita.

Dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘anhu berkata bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Artinya, “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan”. Mereka bertanya, “siapa yang enggan wahai Rosululloh?”, Beliau berkata, “Siapa yang taat kepadaku akan masuk surga, dan siapa yang tidak taat kepadaku akan masuk neraka”. (HR. Bukhori)

Kemudian Hak Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam yang terakhir yang bisa sampaikan pada kesempatan kali ini adalah merasa cukup dengan sunnah yang telah diajarkan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam tanpa menambahkan sesuatu yang tidak diajarkan ke dalamnya.

Siapa saja yang benar-benar mengaku mengikuti Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam, sesungguhnya dia pasti akan meyakini, bahwa tidak ada satu pun jalan yang dapat mendekatkan kita kepada Alloh Ta’alaa, melainkan dengan jalan yang telah diajarkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam. Maka, kenapa kita harus menambah-nambah?, Kenapa kita harus berbuat sesuatu yang baru dalam ibadah yang tidak ada contohnya dari Rosululloh?.

Pada suatu hari Said bin Musayyib Rohimahulloh, seorang tokoh dari kalangan tabi’in, selepas adzan subuh melihat seorang laki-laki shalat dua rakaat kemudian salam, lalu dia kembali mengulangi shalat dua rakaat kemudian salam, dan begitu seterusnya, maka Said bin Musayyib pun berkata kepadanya, “Jangan engkau lakukan hal yang demikian!”, Maka orang tersebut pun berkata, “Wahai Abu Muhammad!, apakah Alloh Ta’alaa akan mengazabku karena aku shalat?”, coba kita renungkan jawaban Said bin Musayyib, yang menggambarkan kesungguhan di dalam mengikuti sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, beliau berkata, “Tidak, Alloh Ta’alaa tidak akan mengazabmu karena shalat, akan tetapi engkau akan mendapatkan azab karena engkau menyelisihi sunnah”. Demi Alloh, sesungguhnya perbuatan baru yang di ada-adakan dalam hal ibadah akan menjadikan kita semakin jauh dari Alloh Ta’alaa.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah penjelasan singkat  tentang hak dan kewajiban umat terhadap Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam yang bisa kita bahas pada kesempatan kali ini. Semoga pembahasan ini dapat memberikan manfaat bagi kita di dunia dan akhirat, dan menjadikan kita orang-orang yang terdepan di dalam mengikuti sunnah dan selalu istiqomah di atas sunnah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, Aamiin. Wallohu ‘alam… (red/admin)