Manhaj – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, sesungguhnya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam memiliki hak yang sangat besar atas umatnya. Karena beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam adalah sebab kita dihidupkan Alloh Ta’alaa sesudah kematian, dan diberikan hidayah sesudah kesesatan. Semua hati berada di dalam kegelapan, kecuali hati yang disinari oleh cahaya risalah dan kenabian Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Maka pada kesempatan kali ini, ada baiknya pembahasan kita berkenaan tentang kecintaan kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Kewajiban pertama atas umat ini, setelah meyakini kenabian beliau adalah mencintai beliau Shollallohu ‘alaihi wassallam, cinta yang benar-benar tumbuh dari hati yang suci.

Bahkan wajib hukumnya untuk mencintai Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam melebihi cinta kita kepada orang tua, anak, istri, bahkan seluruh manusia.

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga dia mencintaiku melebihi daripada cintanya kepada orang tua, anak, bahkan manusia seluruhnya”. (HR. Bukhori)

Dan di antara tanda kebenaran cinta seseorang kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam adalah keinginan mereka untuk dapat melihat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Dari Abu Hurairah Rodhiyallohu ‘anhu, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ

Artinya, “Yang paling cinta kepadaku di antara umatku adalah orang-orang yang hidup sesudahku, di mana salah seorang di antara mereka ingin melihatku walau harus mengorbankan keluarga dan harta benda”. (HR. Muslim)

Kalau kita mau merenungkan sejenak, bagaimana kecintaan para sahabat kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, niscaya akan kita dapatkan suatu kenyataan yang sangat mengagumkan sekali, di mana salah seorang di antara mereka tidak dapat tidur nyenyak hanya untuk menunggu waktu shalat subuh, sehingga dia dapat melihat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Suatu contoh yang lain, salah seorang di antara para sahabat rela mengorbankan jiwa dan raganya, menghadapi kilatan pedang dan tombak, hanya untuk melindungi Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Salah seorang di antara para sahabat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam berkata, “Wahai Rosululloh!, Dadaku adalah tameng bagi dadamu, begitu juga leherku adalah tameng bagi lehermu.”

Terdapat kisah Khubaib bin Abdillah Al-Anshary yang ditawan oleh kaum musyrikin, ketika hendak membunuhnya, mereka berkata, “Bagaimana menurutmu, apabila engkau bebas dan berada di antara harta dan keluargamu, dan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam berada pada posisimu saat ini?, Maka dia pun berkata, lebih baik saya mati, daripada harus melihat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, tertusuk walau oleh sebuah duri”. (HR. Bukhori)

Beginilah cinta sejati kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, beginilah para salaf mencintai Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam.

Salah seorang di antara mereka, apabila teringat Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam maka mata mereka akan berlinang air mata. Di antara mereka ada yang berwudu’ sebelum menyampaikan hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, bahkan ada yang memerintahkan untuk diam ketika dibacakan hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam sebagaimana mereka diam ketika mendengarkan ayat-ayat Alloh Ta’alaa.

Kemudian hak Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam yang kedua adalah kita meyakini bahwa tidak ada kebahagiaan dan tidak ada kebaikan, melainkan hanya dengan mengikuti Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam,

Alloh Ta’alaa berfirman,

وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya, “Dan ikutilah Rosululloh agar kalian mendapatkan petunjuk”. (QS. Al-A’rof : 158)

 Dan dalam ayat lain Alloh Ta’alaa berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya, “Katakanlah wahai Muhammad, ‘Jika kalian mencintai Alloh ikutilah aku, niscaya Alloh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Alloh  Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali-Imron : 31)

Dan Firman Alloh Ta’alaa,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُم

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberikan kehidupan kepadamu”. (QS. Al-Anfal : 24)

Hak Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam yang ketiga adalah bersegera memenuhi seruan beliau, dan langsung mentaati perintahnya.

Dalam Al-Qur’an Alloh Ta’alaa berfirman,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ النور

Artinya,“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman, apabila mereka diajak kepada Alloh dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka hanyalah perkataan Kami mendengar, dan kami ta’at”. (QS. An-Nur : 51)

Dan dalam ayat lainnya Alloh Ta’alaa berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Artinya, “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan bagi perempuan yang mukminah, apabila Alloh  dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, ada pilihan yang lain bagi mereka tentang urusan mereka”. (QS. Al-Ahzab : 36)

Jika kita benar-benar cinta kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, dan benar-benar yakin bahwa hidayah hanya akan kita dapatkan dengan mengikuti Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, kita harus buktikan kebenaran tersebut dengan perbuatan.

Apabila kita mendengar perintah atau larangan Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, maka katakanlah “Kami dengar dan kami taati”.

Jika ada yang mengatakan kepada kita, “Demi Alloh  saya mencintaimu”, dan dia selalu mengulangi perkataan tersebut siang malam, akan tetapi ketika kita membutuhkan bantuannya, sedikit pun dia tidak mau membantu, apakah kita akan katakan bahwa dia sungguh-sungguh di dalam ucapannya, atau justru kita akan mengatakan orang ini pembohong?, tidak diragukan lagi, kita pasti akan mengatakan orang ini adalah seorang pembohong.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan pada kesempatan kali ini semoga kita berusaha untuk serius melaksanakan hak dan kewajiban kita kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam agar kelak bisa berjumpa dan berkumpul di surga Alloh, Aamiin. InsyaaAlloh kita akan melanjutkannya pada kesempatan berikutnya. Wallohu ‘alam… (red/admin)