Muslimah – Pembaca  yang semoga dirahmati Alloh, pada pembahasan yang lalu, kita telah memaparkan dan menguraikan sekilas tentang kesetaraan, kesekufuan, laki-laki dan wanita dalam timbangan syariat ataus yariat Islam. Kita akan melanjutkan pembahasan apa saja bagian-bagian, hak dan kewajiban antara laki-laki dan wanita, hak dan kewajiban suami dan istri, fungsi-peranan laki-laki dan wanita dalam tugas dan tanggungjawabnya. Meliputi bidang ; Pendidikan, Ibadah, Zakat/Sedekah, Harta dan Warisan, Memilih Pasangan Hidup, Pengasuhan Anak, dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Berikut ini adalah perkara-perkara di mana laki-laki dan wanita diperlakukan sama oleh syariat Islam :

Pertama, Pendidikan

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda,

Artinya, “Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim”. (HR. At-Tobroni)

Hadits ini berlaku sama bagi laki-laki dan perempuan. “Ilmu” dalam konteks ini adalah ilmu tentang Al-Quran dan As-Sunnah, sebagaimana tidak boleh seorang Muslim dan muslimah jahil/bodoh terhadap ilmu keduniawian, bodoh terhadap keislamannya, bodoh dalam pendidikan secara umum.

Sungguh, ‘jahil’ terhadap agama, mendorong pada kedzholiman dan pengabaian hak-hak muslimah yang telah ditetapkan oleh Alloh Ta’alaa. Sepanjang sejarah Islam, laki-laki dan perempuan, keduanya mendapatkan penghargaan sebagai ulama dan guru. Seperti dalam Kitab ar-Rijal atau kitab-kitab terkemuka dan masyhur yang memuat tentang wanita-wanita hebat dalam sejarah Islam seperti Aisyah dan Hafsah Rodhiyallohu ‘anhuma.

Kedua, Ibadah

Telah dibahas secara terperinci sebelumnya bahwa laki-laki maupun perempuan adalah hamba Alloh Ta’alaa dan memiliki kewajiban untuk beribadah dan taat kepada-Nya. Laki-laki dan perempuan wajib untuk mengerjakan sholat, berpuasa, mengeluarkan zakat, menunaikan haji, menjaga diri dari zina, menjauhi apa yang dilarang, amar ma’ruf nahimunkar dan lain sebagainya. Muslimah dibebaskan dari kewajiban Sholat berjama’ah di Masjid. Namun demikian, jika mereka ingin menghadiri sholat jama’ah di Masjid, maka tidak ada larangan.

Ketiga, Zakat/Sedekah

Laki-laki dan perempuan, keduanya, dianjurkan untuk berinfaq dan bersedekah.

‘Aisyah Rodhiyallohu’anha meriwayatkan bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassalam bersabda,

Artinya, “Apabila seorang wanita berinfak dari makanan rumah suaminya yang tidak rusak, maka ia mendapat pahala dari apa yang telah ia infakkan dan suaminya mendapatkan pahala dengan apa yang telah diusahakan”. (HR. Muslim)

Asma’ bertanya kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam, “Ya Rosululloh, saya tidak memiliki sesuatu kecuali apa yang Zubair bawapulang.” Nabi berkata kepadanya, “Hai Asma, berinfaqlah!.

Keempat, Hak untuk Memiliki Harta

Wanita mempunyai hak untuk memiliki harta kekayaannya, apakah dari penghasilannya atau warisan dan membelanjakannya sesuai keinginannya. Mengenai hak terhadap penghasilan, Alloh Ta’alaa berfirman,

Artinya, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Alloh kepada sebagian kalian, lebih banyak dari sebahagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Alloh sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. An-Nisaa : 32)

Kelima, Kebebasan berpendapat

Jarang sekali masyarakat bisa dapat berhadapan langsung dengan pemimpinnya dan mempertanyakan kebijakannya. Bahkan lebih sedikit lagi komunitas yang mengizinkan wanita bersikap dan bertanya. Ajaran Islam yang mudah, fleksibel, rill selalu terbuka terhadap masukan dan kritikan yang membangun. Kebebasan berekspresi ini benar-benar terjadi dalam sebuah peristiwa yang terkenal yang melibatkan Umar sebagai pemimpin Negara di kala itu.

“Suatu saat Umar berdiri di atas mimbar, secara tegas memperingatkan manusia dan memerintahkan mereka tidak menetapkan jumlah mahar yang berlebihan pada saat perkawinan. Seorang wanita berdiri dan berkata, “Wahai Umar, anda tidak mempunyai hak untuk mencampuri sesuatu yang Alloh Ta’alaa telah tetapkan dalam Al-Qur’an, “Dan jika kalian ingin mengganti isteri kalian dengan isteri yang lain, sedang kalian telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kalian mengambil kembali dari padanya sedikitpun. Apakah kalian akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan menanggung dosa yang nyata?” (QS. An-Nisaa : 20)

Setelah diingatkan dengan ayat ini, Umar menarik kembali perintahnya dan berkata, “Saya salah dan dia, wanita tersebut benar.”

Keenam, Kebebasan Memilih Pasangan

Seorang Wali tidak diperbolehkan untuk memaksakan pilihannya kepada putrinya ketika bertentangan dengan kehendaknya. Dan ia berhak untuk menerima atau menolak pilihan walinya, atau menentukan pilihannya sendiri. Seorang wanita bernama Khonsa bint Khidam pernah mendatangi Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam dan mengadu, “Ayah ku telah memaksa ku untuk menikahi sepupu ku untuk mengangkat derajatnya di mata manusia.” Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam mengatakan kepadanya bahwa dia berhak untuk membatalkan perkawinan itu dan memilih siapa saja yang dia kehendaki untuk menikah. Dia menjawab, “Saya menerima pilihan ayah ku, tetapi saya berkeinginan agar para wanita mengetahui bahwa ayah tidak berhak memaksakan dalam perkawinan”. (HR. Ahmad)

Ketujuh, Hak Pengasuhan Anak

Syariat Islam memiliki sikap yang tegas tatkala pasangan suami istri bercerai dan mereka memiliki anak, dalam kasus seperti ini maka hak asuh atas anak laki-laki dan perempuan diberikan kepada ibu. Anak laki-laki tinggal bersama ibunya sampai dia berusia sekitar tujuh atau sembilan tahun, setelah itu ia diasuh oleh ayah nya. Anak-anak perempuan tetap tinggal bersama ibunya sampai dia menikah.

Pengecualian terhadap hal ini ketika ibunya menikah lagi, dimana hak asuh diserahkan kepada orang lain seperti neneknya atau bibinya. Hal ini berdasarkan perkataan Nabi Shollallohu ‘alaihi wassalam kepada perempuan yang bercerai,

Artinya, “Hak asuh mu terhadap anak lebih besar selama engkau tidak menikah lagi.”

Kedelapan, Beramarma’ruf Nahimunkar

Al-Qur’an membahas hal ini dengan batasan yang jelas, Alloh Ta’alaa berfirman,

Artinya, “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka ta’at pada Alloh dan Rosul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah : 71)

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga nasihat yang mulia ini bermanfaat buat kita semua untuk diketahui dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: