Tazkiyatun Nafs – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini, kita akan kembali melanjutkan pembahasan mengenai “Ghibah”.

Syaikh Utsaimin Rohimahulloh berkata, “Ghibah yaitu engkau membicarakan seseorang dalam keadaan dia tidak ada, dan engkau merendahkannya di hadapan manusia sedangkan dia tidak ada”.

Untuk masalah bertaubat dari ghibah ini para Ulama berbeda pendapat. Di antara Ulama ada yang berkata bahwasanya “Kita yang menggibah harus dating kepada yang dighibahi lalu berkata kepadanya, “Wahai fulan sesungguhnya aku telah membicarakanmu di hadapan orang lain, maka aku mengharapkan mumemaafkanku dan merelakan perbuatanku”. Sebagian Ulama yang lainnya ada mengatakan bahwasanya “Kita jangan dating kepadanya, tetapi ada perincian, jika yang dighibahi telah mengetahui bahwa kita telah mengghibahinya, maka kita harus dating kepadanya dan meminta agar dia merelakan perbuatan kita ini. Namun jika dia tidak tahu, maka janganlah kita mendatanginya, tetapi hendaknya kita memohon ampun untuknya, dan kita membicarakan kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat yang kita pernah mengghibahinya. Karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan bisa menghilangkan kejelekan-kejelekan.

Pendapa tyang kedua ini lebih benar, yaitu bahwasanya ghibah itu, jika yang dighibahi tidak mengetahui bahwa kita telah mengghibahinya, maka cukuplah kita menyebutkan kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat yang kita pernah mengghibahinya, dan kita memohon ampun untuknya. Kita bisa berkata, “Ya Alloh ampunilah dia”, sebagaimana yang terdapat dalam hadits, yang berbunyi,

Artinya, “Kafarat yaitu penebus dosa untuk orang yang kau ghibahi adalah engkau memohon ampunan kepada Alloh untuknya”.

Ibnu Katsir Rohimahulloh berkata, “Para Ulama lain berkata, “Tidaklah disyaratkan baginya yang mengghibah meminta penghalalan, yaitu perelaan dosa ghibahnya dari orang yang diaghibahi. Karena jika dia memberitahu orang yang dia ghibahi tersebut bahwa dia telah mengghibahinya, maka terkadang malah orang yang dighibahi tersebut lebih tersakiti dibandingkan jika dia belum tahu, maka jalan keluarnya yaitu yang mengghibahi hendaknya memuji orang itu dengan kebaikan-kebaikan yang dimiliki orang itu, di tempat-tempat yang dia telah mencela orang itu”.

Selanjutnya cara untuk kita menghindari ghibah, yaitu kita harus sadar bahwa segala apa yang kita ucapkan semuanya akan dicatat dan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Alloh ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana Firman Alloh ‘Azzawa Jalla,

Artinya, “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qof : 18)

Dan FirmanAlloh ‘Azza wa Jalla lainnya,

Artinya, “Dan janganlah kalian mengikuti apa yang kalian tidak mengetahuinya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu semua akan dimintai pertanggung jawabannya”. (QS. Al-Isro : 36)

Perlu kita ingat kembali bersama, bahwa jika kita tidak menjaga lisan kita sehingga berbicara seenaknya tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu, yang akhirnya mengakibatkan kita terjatuh pada ghibah atau yang lainnya, maka hal ini akibatnya sangat fatal.

Sebab lisan termasuk sarana yang paling banyak memasukkan manusia kedalam neraka. Sebagaimana sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam,

Artinya, “Bukankah tidak ada yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka melainkan akibat lisan-lisan mereka?”.

Demikian juga sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam,

Artinya, “Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan”.

Dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya beliau mendengar Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, ”Sesungguhnya seorang hamba benar-benar akan mengatakan suatukalimat yang mendatangkan murka Alloh, yang dia tidak menganggap penting kalimat itu, akibatnya dia terjerumus ke dalam neraka Jahannam gara-gara kalimat itu”. (HR. Bukhori)

Sehingga karena saking sulitnya menjaga lisan, Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wassallam pernah bersabda,

Artinya, “Barangsiapa yang menjamin kepadaku keselamatan apa yang ada di antara dua bibirnya, yaitu lisannya, dan apa yang ada di antara kedua kakinya, yaitu kemaluannya, maka aku jamin surga baginya”. (HR. Bukhoridan Muslim)

Imam Nawawi Rohimahulloh berkata, “Ketahuilah, bahwasanya ghibah adalah seburuk-buruknya hal yang buruk, dan ghibah merupakan keburukan yang paling tersebar pada manusia, sehingga tidak ada yang selamat dari ghibah ini kecuali hanya segelintir manusia”.

Imam Syafi’i Rohimahulloh pernah berkata,

“Jagalah lisanmu wahai manusia, janganlah lisanmu sampai menyengat-mu, sesungguhnya dia seperti ular. Betapa banyak penghuni kubur yang terbunuh oleh lisannya, padahal dulu orang-orang yang pemberani takut bertemu dengannya”.

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini, mudah-mudahan kita bias mengambil pelajaran dan hikmahnya. Marilah kita jaga diri kita dari perbuatan-perbuatan yang berakibat buruk pada diri kita sendiri. Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla memberikan petunjuk kepada kita, untuk mengisi hari-hari kita dengan hal yang bermanfaat dan menjauhi hal yang tidak bermanfaat. Wallohua’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: