Tazkiyatun Nafs – Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai “Etika Berdo’a”.

Ajaran Islam banyak memberi contoh dalam berdo’a, terutama dalam Al-Quran dan sunnah Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam. Dan dengan berdo’a juga menjadi sebagian tuntunan dan ajaran syari’at bagi kita selaku umat Muslim dalam mensucikan diri dari berbagai dosa, yaitu memohon ampun kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, dan dalam memohon segala sesuatu. Semua itu menunjukan pengertian ubudiyah, iman, dan segala pekerjaan pada asalnya berada di dalam kehendak Alloh ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, manusia diperintahkan untuk selalu berdo’a hanya kepada Alloh ‘Azza wa Jalla semata.

Do’a berasal dari bahasa Arab yang artinya panggilan, mengundang, permintaan, permohonan, do’a, dan sebagainya. Berdo’a artinya menyeru, memanggil, atau memohon pertolongan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla atas segala sesuatu yang diinginkan. Seruan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla itu bisa dalam bentuk ucapan tasbih, Subhanalloh, Pujian, Alhamdulillah, istighfar, atau memohon perlindungan dan sebagainya.

Dan Alhamdulillah ternyata do’a itu mudah asalkan kita tahu caranya. Maka dari itu, mari kita gunakan waktu kita untuk banyak berdo’a sebelum semuanya terlambat, kita jadikan diri kita sebagai pembawa rahmat dan berkah.

Ketetapan hukum berdo’a, selain hukum-hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan sunnah Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam, cukup menjadi bahasan yang masih kontroversi antara pakar do’a masa kini.

Hal ini sulit untuk merincikan mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Oleh karena itu, sebaik-baik berdo’a adalah do’a yang bersumber dari Al-Quran, dan menghujamkannya ke dalam hati. Kemudian tingkat selanjutnya adalah do’a yang diajarkan oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wassallam, melalui sunahnya selama bisa dipahami dengan benar, atau bisa juga berdo’a dengan bahasa komunikasi apa pun, yang penting lahir dari keyakinan dan kecintaan kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.

Ada beberapa etika dalam berdo’a yang diajarkan oleh syari’at, yaitu,

Yang pertama. Memuji Alloh terlebih dahulu.

Yaitu dengan membaca tahmid, takbir, tasbih, membaca asmaul husna atau do’a apa saja yang isinya memuji kebesaran dan kemulian Alloh ‘Azza wa Jalla. Disunnahkan pula membaca sholawat kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam sebelum berdo’a. Sebagaimana sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam,

Artinya, “Setiap do’a akan terhalangi sampai orang tersebut membaca sholawat kepada Nabi”. (HR. Ath-Thobroni)

Yang kedua. Taubat terlebih dahulu.

Etika yang kedua ini yaitu dengan kita mengakui semua kesalahan yang pernah kita lakukan, Anjuran ini berdasarkan cerita dalam Al-Quran tentang Nabi Zakaria ‘alaihissalam, yang terdapat di dalam Al-Quran,

Artinya, “Maka Kami kabulkan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sungguh, mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusuk kepada Kami”. (QS. Al-Anbiya : 90)

Yang ketiga. Rendahkan diri ketika berdo’a.

Padukan hati, akal dan sikap ketika berdo’a dengan penuh khusuk. Kerendahan diri bisa kita gambarkan ketika kita memelas meminta sesuatu dengan sangat, dan hatipun sambil menjerit agar dikabulkan oleh Alloh ‘Azza wa Jalla.

Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman,

Artinya, “… dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami”. (QS. Al-Anbiya : 90)

Yang keempat. Hadirkan hati ketika berdo’a.

Artinya, ketika mulut berdo’a ikutkan hati sambil menyimak apa yang diutarakan mulut. Jangan sampai mulut dan hati tidak singkron. Hati terus dipaksa untuk menjerit dan memelas.

Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam bersabda,

Artinya, “Berdo’alah kepada Alloh dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah!, sesungguhnya Alloh tidak akan menerima satu do’a dari hati yang lalai lagi lengah”. (HR. At-Tirmidzi)

Yang kelima. Jelas dan tegas ketika berdo’a.

Artinya janganlah berdo’a dengan main-main, seperti anjuran Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam di dalam sabdanya,

Artinya, “Janganlah seseorang mengatakan dalam do’anya,“Ya Alloh ampunilah aku jika Engkau menghendaki, Ya Alloh berikanlah rahmat kepada ku jika Engkau menghendaki, hendaklah dia teguh dalam berdo’a sebab perbuatan tersebut tidak dibenci”. (HR. Abu Dawud)

Yang keenam. Berdo’alah di setiap kondisi.

Maksudnya perbanyaklah berdo’a ketika dalam keadaan nyaman dan bahagia. Sebagaimana sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wassallam,

Artinya, “Barangsiapa yang senang dikabulkan permohonannya pada saat kritis dan bahaya, maka hendaklah dia memperbanyak do’a saat nyaman”. (HR. At-Tirmidzi)

Yang ketujuh. Berdo’alah dengan suara lembut.

Ketika kita berdo’a, cukup didengarkan oleh diri kita sendiri, hendaklah dengan suara yang lembut tidak keras apalagi memakai ‘pengeras suara’.

Sebagaimana Firman Alloh ‘Azza wa Jalla,

Artinya, “Berdo’alah kepada Robbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-A’rof : 55)

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh, demikianlah pembahasan kita pada edisi kali ini mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dan hikmahnya. Semoga Alloh ‘Azza wa Jalla selalu membimbing kita di jalanNya, dan mengampuni juga menerima permohonan ampun kita atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan selama hidup kita, baik dosa kecil ataupun dosa besar. Wallohu a’lam… (red/admin)

%d blogger menyukai ini: