Hari demi hari, Muslim Rohingya di Yangon, ibukota komersial Myanmar, mengalami hilangnya kebebasan dan kesempatan, serta meningkatnya penganiayaan dan kebencian dari tetangga dan teman Buddha mereka.

Kekhawatiran melanda muslim Rohingya di ibu kota Myanmar Yangon setelah operasi militer di negara bagian Rakhine, dimana banyak desa dibakar dan muslim Rohingya dibunuh dan terusir.

Dengan alasan keamanan, muslim Rohingya yang tinggal di Yangon menggunakan nama samaran. Seorang mahasiswa keturunan Rohingya, Ajas menuturkan kepada al Jazira bahwa kata “Rohingya” adalah kata yang berbahaya untuk disebut di Negara tersebut. Pemerintah telah mencuci otak seluruh warga negara untuk berpikir bahwa etnis Rohingya adalah imigran ilegal.

Tidak hanya muslim dari etnis Rohingya saja yang mengalami diskriminasi. Muslim Myanmar dari etnis lain pun kerap mengalami hal yang sama. Bahkan para tokoh dan politisi Muslim mengalami teror hingga ancaman kematian.

Pada awal 2017 yang lalu, seorang pria bersenjata beragama Budha membunuh Ko Ni, seorang tokoh terkemuka minoritas Muslim Myanmar dan penasihat hukum untuk partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang berkuasa.

(muslimdaily.net)