MADAYA, SURIAH – Penindasan yang dilakukan oleh rezim Basyar Asad dan milisi “Hizbullah” terhadap warga Suriah di Madaya, menyebabkan penduduk kota itu kekurangan gizi dan kelaparan.

Untuk mencoba tetap hidup masyarakat Madaya hanya dapat mendapatkan makanan garam yang dilarutkan di dalam air panas.

Kelaparan dan kekurangan gizi sedang melanda Kota Madaya, Suriah setelah diblokade oleh rezim Asad dan milisi “Hizbullah” yang saat ini sudah berlangsung selama 200 hari.

Warga Kota Madaya telah berjuang untuk bertahan hidup dengan mencoba terus menelan garam yang dilarutkan di dalam air panas.

Pada bulan lalu, 23 orang meninggal di Madaya, termasuk enam anak-anak karena kelaparan, demikian laporan Komite Kesehatan Kota.

PBB melaporkan pada Jum’at (8/1), lebih dari 20.000 anak-anak di Kota Madaya telah terkepung oleh pasukan Asad dan milisi “Hizbullah” Lebanon yang setia mendukung rezim. Ribuan warganya mengalami kelaparan dan kekurangan gizi.

Seorang wanita di Kota Madaya memberikan kesaksian kepada kantor berita Anadolu, bahwa ia memberikan suaminya air garam untuk membantunya tetap hidup yang hingga kini kakinya bengkak dan hampir tak bisa melihat.

Nidal Muhammad, 12 tahun, mengatakan kepada Anadolu, dia tak punya apa pun untuk makan selama enam hari dan air adalah satu-satunya sumber gizi beserta garam.

“Kondisi kesehatan Ibu saya sangat memburuk, dan kami tidak dapat mendapatkan susu untuk adik saya,” kata Muhammad.

Sumber-sumber lokal mengatakan, harga pangan melonjak sejak blokade rezim dimulai.

[Adin/Salamfm/EZ/salam-online]

%d blogger menyukai ini: